Sukun, Ragam Khasiat dalam Satu Pohon

Reading time: 6 menit

Zaman sekarang orang biasa bergegas menemui dokter jika mempunyai keluhan penyakit. Tak jarang, setelah banyak uang melayang, penyakit yang diderita tak kunjung hilang. Karena itulah cara pengobatan alternatif pun kerap dilirik. Selain lebih murah, bahannya pun alami dan tersedia di sekitar kita. Salah satunya adalah sukun, herba ajaib yang ampuh sembuhkan aneka penyakit.

Oleh Yulia Permata Sari | Artikel ini diterbitkan pada edisi 04 Vol. 3 Tahun 2008

 

Gaya hidup tidak sehat yang dijalani masyarakat perkotaan saat ini membuat berbagai macam penyakit setia mengantri. Sempitnya waktu yang tersisa karena setumpuk aktivitas membuat orang kurang berhati-hati memilih makanan. Gerai fast food pun akhirnya menjadi langganan, entah karena doyan atau sekadar ikut-ikutan. Padahal, selain menyebabkan obesitas, fast food yang mengandung kadar gula, garam, dan lemak tinggi itu juga berisiko memicu penyakit jantung (penyebab kematian nomor satu di dunia yang menewaskan sekitar 17 juta orang per tahun) serta hipertensi (faktor risiko besar penyakit jantung). Siapa sangka, berbagai penyakit yang biasa disebut “penyakit makan enak” itu ternyata bisa diatasi dengan tanaman sukun, yang buahnya lekat dengan cap “makanan kelas bawah”.

Kebanyakan orang mungkin telah mengenal sukun sebagai salah satu penganan yang sedap dinikmati bersama teh manis atau kopi di sore hari. Buah sukun biasanya diolah menjadi cemilan dengan cara digoreng, direbus, dikukus, atau dibakar. Tapi barangkali hanya segelintir orang yang tahu bahwa tanaman sukun, mulai dari buah, daun, bunga, kulit batang hingga getahnya, memiliki segudang manfaat, termasuk untuk mengobati berbagai macam penyakit.

“Pohon sukun biasanya tumbuh di daerah tropika lembab bertemperatur 20-40º C dengan curah hujan 2.000-3.000 mm/tahun dan kelembaban udara 70-90%”

Sukun sesungguhnya merupakan jenis yang terseleksi sehingga tidak memiliki biji. Sementara kerabatnya yang berbiji dan dianggap setengah liar lebih dikenal sebagai “timbul” atau “kelur”. Bahasa Jawanya: keluwih. Anda sendiri mungkin pernah menyantap timbul yang telah diolah menjadi sayur lodeh, sayur asam, atau ditumis dengan cabai. Timbul yang dipetik biasanya yang masih muda, sedangkan biji timbul yang tua sering direbus, digoreng, atau disangrai untuk dijadikan makanan ringan.
Baik sukun maupun timbul memiliki nama ilmiah yang sama yaitu Artocarpus Altilis (bersinonim dengan Artocarpus Communis dan Artocarpus Camansi) dan termasuk dalam famili Moraceae. Orang Eropa menyebut sukun sebagai “buah roti” (broodvrucht dalam bahasa Belanda atau breadfruit dalam bahasa Inggris), sebab pada buah sukun terdapat bagian empuk yang mirip roti setelah dimasak.

Secara fisik, buah sukun berbentuk bulat agak lonjong dengan warna kulit buah hijau muda hingga kuning kecoklatan. Ketebalan kulitnya berkisar antara 1-2 mm. Permukaan kulit buah sukun kasar ketika muda dan menjadi halus ketika tua. Tekstur buah saat mentah keras dan menjadi lunak setelah matang. Daging buah bewarna putih, putih kekuningan, atau kuning tergantung jenisnya. Rasa buah agak manis saat mentah dan menjadi manis setelah matang dengan aroma yang spesifik. Berat buah bisa mencapai 4 kg dengan panjang tangkai buah (pedicel) berkisar antara 2,5-12,5 cm tergantung varietas.

Top
You cannot copy content of this page