Tikus Putih, Teman Peneliti Bereksperimen

Reading time: 3 menit
tikus putih
Tikus putih (Rattus norvegicus). Foto: 1freewallpapers.com

Siapa yang suka dengan film bergenre fiksi ilmiah? Pasti tidak asing melihat tikus putih sebagai hewan eksperimen di laboratorium. Kira-kira kenapa ya mereka menjadi hewan percobaan?

Tikus putih (Rattus norvegicus) atau dikenal juga dengan nama Norway Rat, berasal dari wilayah Cina. Populasinya menyebar hingga ke Eropa bagian barat. Pada wilayah Asia Tenggara, tikus ini berkembang biak di Filipina, Indonesia, Laos, Malaysia, dan Singapura.

Tikus digolongkan ke dalam Ordo Rodentia (hewan pengerat), Famili Muridae dari kelompok mamalia (hewan menyusui). Tikus memiliki beberapa galur (garis keturunan) yang merupakan hasil pembiakkan sesama jenis atau 15 persilangan.

Terdapat beberapa galur tikus putih yang memiliki kekhususan untuk digunakan sebagai hewan percobaan antara lain Wistar, Sprague-Dawley, Osborne-Mendel, Long-Evans, Holtzman, Slonaker, Albany. Namun diantara galur yang disebutkan tersebut, Wistar dan Sprague-Dawley merupakan galur tikus yang paling populer digunakan untuk eksperimen.

Galur Wistar dan Sprague-Dawley merupakan outbred stocks yang merujuk pada hewan yang secara genetik tidak identik atau tidak seragam. Beberapa keuntungan dari penggunaan outbred stocks antara lain rentang hidup yang panjang, resistensi terhadap penyakit yang tinggi, ukuran yang besar, pertumbuhan dan fertilitas yang cepat (Suckow et al. 2006).

Secara morfologi ciri-ciri tikus putih diantaranya seperti albino, kepala kecil, dan ekor yang lebih panjang dibandingkan badannya, pertumbuhannya cepat, temperamennya baik, kemampuan laktasi tinggi, dan cukup tahan terhadap perlakuan. Biasanya pada umur empat minggu tikus putih mencapai berat 35-40 gram, dan berat dewasa rata-rata 200-250 gram (Akbar, 2010).

tikus putih

Photo: wikimedia commons

Pakan yang diberikan pada tikus umumnya tersusun dari komposisi alami dan mudah diperoleh dari sumber daya komersial. Namun demikian, pakan yang diberikan pada tikus sebaiknya mengandung nutrien dalam komposisi yang tepat. Protein pakan yang diberikan pada tikus harus mengandung asam amino essensial yaitu Arginin, Histidin, Isoleusin, Leusin, Methionin, Fenilalanin, Treonin, Tryptofan, dan Valine.

Selain nutrisi, hal lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan tikus putih sebagai hewan percobaan adalah perkandangan yang baik. Kandang yang digunakan untuk pemeliharaan tikus biasanya berupa kotak yang terbuat dari metal atau plastik. Tutup untuk kandang berupa kawat dengan ukuran lubang 1,6 cm2.

Alas kandang terbuat dari guntingan kertas, serutan kayu, serbuk gergaji atau tongkol jagung yang harus bersih, tidak beracun, tidak menyebabkan alergi dan kering. Temperatur ideal kandang yaitu 18-27 derajat Celcius atau rata-rata 22 derajat Celcus dan kelembapan realtif 40-70%.

Tikus putih merupakan hewan percobaan yang sering digunakan pada penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan. Hal ini dikarenakan hewan pengerat ini memiliki kelebihan sebagai model yang mencerminkan karakter fungsional dari sistem tubuh mamalia.

Tikus putih ini memiliki banyak keunggulan seperti perkembangbiakan yang cepat, ukuran yang lebih besar dari mencit, dan mudah dipelihara dalam jumlah yang banyak. Selain itu tikus tergolong hewan yang tidak dapat muntah. Hal tersebut dikarenakan struktur anatomi tikus yang tidak lazim. Organ esofagusnya bermuara ke dalam lambung dan tidak mempunyai kantong empedu.

Disamping itu, tikus putih populer sebagai salah satu hewan eksperimental dalam studi fungsi reproduksi karena siklus reproduksinya yang lebih singkat. Ini pula yang membedakan tikus dengan hewan percobaan lain. Kelebihan lainnya sebagai hewan laboratorium adalah sangat mudah ditangani, dapat ditinggal sendirian dalam kandang, dan berukuran cukup besar sehingga memudahkan pengamatan (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).

Untuk menggunakan hewan ini sebagai hewan percobaan biasanya peneliti sudah memiliki kriteria sendiri. Adapun kriteria dalam menentukan tikus putih sebagai hewan percobaan, diantaranya dilihat dari kontrol pakan (nutrisi), kontrol kesehatan, kontrol perkawinan, jenis, umur, bobot badan, jenis kelamin, dan silsilah genetik.

tikus putih

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page