Bisakah Ringankan Nyeri Kronis dengan Yoga dan Meditasi?

Reading time: 2 menit
ringankan nyeri kronis dengan yoga dan meditasi
Foto : Shutterstock.com

Menurut penelitian terbaru, orang-orang dapat ringankan nyeri kronis dengan yoga dan meditasi setelah delapan minggu menjalani program. Hasilnya signifikan dalam mengelola rasa sakit dan depresi yang mereka rasakan.

Studi Kecil Ringankan Nyeri Kronis dengan Yoga dan Meditasi

Untuk studi kecil, 28 peserta di semi-pedesaan Oregon terdaftar dalam kursus mindfulness-based stress reduction (MBSR) atau pengurangan stres berbasis meditasi kesadaran. Studi ini melibatkan orang-orang yang mengalami nyeri kronis setidaknya selama 1 tahun; dengan rentang usia antara 34 hingga 77 tahun. Kelompok tersebut menghabiskan dua setengah jam setiap minggu untuk berlatih meditasi kesadaran dan yoga hatha. Di antara sesi tersebut, studi ini mendorong mereka untuk bermeditasi dan melakukan yoga sendiri selama 30 menit sehari pada enam hari lainnya dalam seminggu.

Di akhir kursus, 89% dari partisipan melaporkan bahwa program tersebut membantu mereka menemukan cara untuk mengatasi rasa sakit mereka dengan lebih baik. 11% lainnya melaporkan tidak ada perbedaan.

Hasilnya dipublikasikan dalam sebuah studi di The Journal of the American Osteopathic Association.

Nyeri Kronis Lanjut terkait Sakit Kepala

Perkiraannya, satu dari lima orang Amerika menderita sakit kronis; menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Tidak seperti nyeri akut, yang datang tiba-tiba dan disebabkan oleh sesuatu yang spesifik seperti pembedahan atau perawatan gigi; nyeri kronis dapat terus berlangsung dan berlanjut setelah cedera. Bahkan ketika penyakit yang menyebabkannya telah hilang.

Nyeri kronis dapat dikaitkan dengan kondisi seperti kanker, radang sendi, sakit kepala dan saraf, nyeri punggung dan fibromyalgia. Biasanya pemulihannya adalah dengan obat-obatan; termasuk opioid, pereda nyeri non-narkotika, dan antidepresan.

“Nyeri kronis dapat menyebabkan hilangnya kemampuan untuk bekerja, memberikan perawatan bagi keluarga, dan menjadi warga negara yang produktif,” Cynthia Marske, DO, seorang dokter osteopati dan penulis utama studi tersebut, mengatakan kepada Treehugger. “Penelitian memberikan bantuan bagi mereka yang menginginkan perawatan multidisiplin sehingga orang dapat kembali hidup. Obat tidak bekerja untuk semua orang. ”

Marske menuturkan yoga dan meditasi dapat membantu meningkatkan struktur dan fungsi tubuh, yang dapat membantu penyembuhan. Ini tidak menyembuhkan penyakit, tetapi penyembuhan berarti belajar untuk hidup dengan tingkat rasa sakit yang bisa terkendali.

“Begitu otak seseorang mulai bekerja lebih baik dan berfungsi pada tingkat tinggi dengan MBSR, sering kali nyeri, antidepresan dan obat anti-kecemasan tidak perlu dan kemampuan menyembuhkan yang ada pada tubuh akan muncul,” katanya.

Bagaimana Yoga dan Meditasi Berpengaruh pada Tubuh?

Untuk penelitian tersebut, peserta mengisi survei daring untuk melaporkan tingkat rasa sakit, depresi, dan kemampuan tubuh mereka dalam beraktivitas sebelum dan setelah mengambil bagian dalam program tersebut. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan di ketiga bidang tersebut.

“Hasil menunjukkan pergeseran ke bawah secara keseluruhan dalam distribusi skor depresi, ketidak-mampuan, dan nyeri setelah kursus,” tulis para peneliti.

Skor Patient Health Questionnaire (PHQ-9), yang digunakan untuk mengukur depresi, turun 3,7 poin pada skala 27 poin. Marske mengatakan hasilnya serupa untuk beberapa pasien setelah menggunakan antidepresan.

Sementara itu, angka Pain Catastrophizing Scale (PCS), untuk mengukur pengalaman nyeri individu, turun 4,6 poin pada skala 52 poin. Skor pada versi singkat dari Modified Oswestry Disability Index (MO) yang menilai disabilitas, menurun sebesar 9,4%.

Baca juga: 13 Bahan Alami Pereda Nyeri: Dari Cabai sampai Cengkeh

“Kesadaran penuh, meditasi, dan gerakan membantu orang membuat neurotransmiter mereka sendiri, mengatur cara rasa sakit diterima, ditangani, dan diproses di otak,” kata Marske.

“Sebagian besar cara kita menanggapi rasa sakit bersifat emosional. Membuat orang yang menderita sakit, depresi, dan kecemasan berfungsi lebih baik secara mental dan fisik; akan membantu masyarakat kita pulih dari penyakit apa pun termasuk COVID-19 atau penyakit lainnya.”

Penulis : Agnes R. Marpaung

Sumber:

Treehugger

Top
You cannot copy content of this page