Depresi, Kenali dan Cegah Sebelum Terlambat

Reading time: 2 menit
kenali depresi
Ilustrasi. Foto: www.rd.com

(Greeners) – Setiap orang pasti pernah menghadapi suatu masalah hingga mengalami stres. Munculnya rasa stres biasa diawali dari rasa kewalahan untuk menghadapi berbagai tekanan hidup dari berbagai pihak. Apabila rasa stres tidak ditangani dengan bijak, rasa stres tersebut dapat menggiring seseorang ke dalam kondisi depresi.

Psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa Jakarta, Tara de Thouars, menjelaskan bahwa depresi merupakan suatu kondisi psikologis dimana penderitanya akan merasa sangat tertekan dan tidak memiliki semangat untuk hidup. Depresi dapat menyerang siapa saja dari segala usia dan kalangan.

“Biasanya, rasa depresi muncul karena seseorang mengalami kesulitan untuk menangani rasa stres yang mereka hadapi. Seseorang yang mengalami depresi akan merasa dirinya selalu kurang dan tidak memiliki motivasi untuk hidup,” ujar Tara kepada Greeners melalui telepon, Kamis (13/07).

Selama 10 tahun terakhir, Tara mengaku jumlah pasien penderita depresi yang ia terima semakin meningkat setiap tahunnya. Pasien penderita depresi tersebut datang dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga lansia.

Tara menjelaskan bahwa depresi dapat dipicu oleh berbagai faktor. Ketatnya kompetisi antar individu dan tingginya beban tuntutan hidup merupakan salah satu faktor utama pemicu depresi.

“Saat seseorang mengalami depresi, dia akan merasa sangat sedih dan merasa worthless. Akibatnya, orang tersebut akan menarik diri dari lingkungan sosial di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan pada kasus yang lebih lanjut, dia menyakiti diri sendiri hingga melakukan percobaan bunuh diri,” ujar Tara.

Dapat dicegah

Rasa depresi yang menyiksa bukan berarti tidak dapat dicegah. Tara memaparkan beberapa upaya pencegahan depresi yang dapat diterapkan, diantaranya adalah dengan cara curhat, mengurangi akses ke media sosial, dan melakukan relaksasi.

“Langkah termudah untuk mencegah depresi adalah curhat dengan orang yang kita percaya. Saat kita menghadapi suatu masalah, kita harus cerita. Tidak boleh memendam unek-unek (perasaan yang terpendam, Red.) sendiri. Bila kita tetap memendam unek-unek kita sendiri, kita akan semakin down dan menjadi subjektif dalam menghadapi masalah,” papar Tara.

Ia juga menyarankan agar seseorang harus memiliki waktu untuk menenangkan diri. Cara untuk menenangkan diri ini bisa dilakukan dengan berolahraga maupun relaksasi.

“Dengan melakukan relaksasi dan olahraga, tubuh akan mengeluarkan hormon endorphine sehingga emosi dan pikiran negatif akan terbuang. Selain itu, kurangi juga akses kita ke media sosial. Media sosial bisa memicu kita untuk membanding-bandingkan diri kita sendiri dengan orang lain. Ujungnya, kita akan merasa minder dan depresi karena merasa lebih rendah dari orang yang kita bandingkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tidur cukup dan makan makanan yang bergizi juga dapat membantu mencegah depresi.

“Supaya terhindar dari rasa depresi, intinya kita harus melihat diri kita sendiri secara lebih positif dan tidak pernah under estimate pada diri sendiri. Kita harus percaya bahwa kita itu lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Selain itu, kita juga harus selalu berpikir positif dan percaya bahwa seburuk apapun hal yang kita hadapi akan segera berakhir. Dengan tetap berpikir positif, emosi kita akan terjaga dan kita akan baik-baik saja,” pungkas Tara.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

Top
You cannot copy content of this page