Khemod “Seringai”, Keluarga Turut Menjadi Korban Asap

Reading time: 2 menit
Edy "Khemod" Susanto. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Jakarta (Greeners) – Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dalam beberapa bulan belakangan membuat bencana asap yang sangat dahsyat. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sebagian Pulau Sumatera dan Kalimantan itu tidak hanya menyebabkan kabut asap di Indonesia saja, melainkan juga telah merambah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Keberadaan kabut asap di beberapa daerah tersebut ternyata membuat Edy “Khemod” Susanto merasa sangat kesal. Pasalnya, kabut asap telah membuat ribuan warga menderita, termasuk keluarganya pun turut merasakan sesaknya bernafas dalam kabut asap di Sumatera.

“Kalau mau nyebut korban, keluarga gue itu korban,” ujar pria yang biasa disapa Khemod ini pada Greeners pada Jumat (16/10) lalu.

Orang tua dari istri Khemod memang tinggal di Pekanbaru, Riau. Karena bencana asap ini, mertuanya sampai diungsikan ke Jakarta karena tidak kuat menghadapi kepungan asap di Pekanbaru. Selain itu, beberapa keluarga dekat istrinya yang tinggal di Riau juga terimbas asap ini. Menurut Khemod, derita keluarganya semakin lengkap dengan adanya pemadaman listrik bergilir di area Sumatera.

“Jadi, di luar asap, di dalam rumah pun pengap,” ucap drummer berkepala plontos ini.

Khemod mengaku belum mengetahui adanya potensi penyakit jangka panjang dari adanya kabut asap. Namun, menurutnya permasalahan kebakaran hutan dan lahan ini harus ditindak lanjuti dengan serius karena telah menjadi ‘ajang tahunan’.

Menurut Khemod, mengubah arus uang dan industri yang berhubungan dengan hutan menjadi salah satu cara agar fungsi lahan tidak lagi menjadi perkebunan kelapa sawit. “Ternyata cara kalian (pengusaha) mencari uang, sekarang ini telah merusak hidup semua,” katanya dengan nada kesal.

Khemod pun menantikan keseriusan dan ketegasan pemerintah dalam menangani permasalahan asap. Menurutnya, harus ada cara efektif yang menjadi solusi agar kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap ini tidak terulang lagi di masa mendatang. Hal ini, sebutnya, lebih krusial ketimbang mencari kambing hitam atas bencana kebakaran dan asap ini. “Misalnya dia (korporasi bermasalah, Red.) dihukum, terus enggak bisa cari duit lagi di situ,” katanya.

Musisi yang juga salah satu pendiri Production House (PH) Cerahati ini mengaku ingin menciptakan lagu bertemakan kabut asap. Meski masih rencana, namun masalah kabut asap yang terjadi selama belasan tahun ini ingin ia suarakan. “Biasanya apa yang menggerakan kami dan terjadi saat itu, kami jadikan lagu. Ini (kabut asap) bisa aja, tapi mungkin, ya, mungkin,” pungkasnya.

Penulis: TW/G37

Top
You cannot copy content of this page