Nadine Zamira, Sustainable Fashion Harus Dikemas “Seksi”

Reading time: 2 menit
Nadine Zamira Syarief. Foto: greeners.co

Jakarta (Greeners) – Baru-baru ini, gerakan mode berkelanjutan atau sustainable fashion movement mulai merambah industri fashion di Indonesia. Para penggiat mode pun menyambut “meriah” gerakan ini karena Indonesia memang memiliki kekayaan alam luar biasa yang patut dilestarikan. Namun, masih banyak yang harus dilakukan untuk terus menghidupkan sustainable fashion, termasuk memahami sustainable fashion itu sendiri. Hal ini pun menjadi perhatian dari Miss Earth 2009, Nadine Zamira Syarief.

Menurut wanita kelahiran 20 Februari 1984 ini, sustainable fashion atau mode yang mengutamakan keminiman dampak lingkungan belum dikemas dengan maksimal agar dapat bersaing dalam industri fashion. “Itu kritik buat industri saya, karena isu-isu lingkungan pada dunia fashion harus dibuat lebih seksi. Jadi nantinya, mereka harus bisa bersaing dengan yang konvensional untuk bisa diterima secara luas,” ujar Nadine ketika dijumpai Greeners dalam perhelatan Indonesia Fashion Week 2015, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Nadine mengungkapkan, sustainable fashion harus memikirkan beberapa aspek penting seperti kualitas yang tinggi, wearable, tahan lama dan secara harga yang mampu bersaing, serta menarik orang untuk menggunakannya. Ia pun mengajak para desainer untuk lebih memikirkan dengan cermat penggunaan material dan komponen pada produknya sehingga dapat digunakan sehari-hari, serta memiliki waktu pakai yang lebih panjang.

“Enggak cukup dengan kita cap green dan sustainable, tapi enggak menarik buat orang pakai. Kalau kayak begitu menurut saya misinya belum sampai,” ungkap Nadine.

Selain itu, menurutnya, hal lain yang menjadi kendala adalah sourcing material (sumber untuk material mode) yang dibutuhkan cenderung sulit diperoleh, padahal Indonesia memiliki begitu banyak kekayaan alam yang bisa menjadi pendukung keberadaan sustainable fashion. Ditambah dengan mahalnya material yang dibutuhkan dan kurangnya kesadaran pemanfaatan sumber daya tersebut menjadi hambatan tersendiri bagi para desainer untuk mengembangkan produk yang ramah lingkungan.

“Contohnya para desainer merasa sulit menemukan organic cotton (kapas organik). Kalaupun ada harganya mahal sekali, padahal seharusnya kita punya banyak sekali sources tapi blm ada yang memanfaatkan itu hingga masih sulit digunakan dan didapatkan,” tambah wanita yang saat ini sedang bergelut di dunia Public Relation.

Nadine mengatakan, dunia sustainable fashion merupakan dunia yang memiliki peluang yang besar mengingat luasnya cakupan dan belum banyaknya yang bergelut dengan sustainable fashion. Ia pun mengajak para desainer untuk meramaikan dunia sustainable fashion yang dianggapnya sangat menarik ini.

“Industri yang menarik dan terbuka lebar untuk desainer dan para enterpreneur, oppurtunity yang cukup besar, dan saya encourage para desainer untuk berkecimpung di situ,” tutupnya.

Penulis: DR/G16

Top
You cannot copy content of this page