Sayangi Kulitmu, Jangan Pilih Kosmetik Bermerkuri!

Reading time: 2 menit
Kulit cantik menjadi dambaan wanita. Namun waspada kosmetik bermerkuri berbahaya mengintai. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Kecantikan melekat dalam diri setiap wanita. Namun kerap kali cara instan menjadi pilihan menjadi cantik. Ayo, jeli memilih kosmetik, sebab masih ada bahan kosmetik bermerkuri mengintai.

Merkuri adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu-batuan, bijih tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik.

Ahli Dermatologi Arini Astasari Widodo menjelaskan sejumlah langkah dan tips bagi kaum hawa meningkatkan kewaspadaan dan kejelian memilih kosmetik.

Dokter spesialis kulit ini mengatakan, jika memiliki kulit yang sensitif maka perlu berhati-hati dalam pemakaian kosmetik. Karena ada beberapa kandungan yang terdapat pada kosmetik seperti pewangi, pewarna dan pengawet yang dapat menyebabkan iritasi atau menyebabkan reaksi alergi.

“Pada saat membeli kosmetik belilah kosmetik yang sudah ada label Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Selasa (2/11).

Konsumen lanjutnya, dapat menginput nomor BPOM produk di website https://cekbpom.pom.go.id untuk memastikan kesahihan kode yang tertera pada suatu produk. Konsumen juga perlu memastikan skincare yang aman jika sedang hamil atau menyusui.

“Untuk itu, perlu memastikan keamanan skincare tersebut bisa langsung tanyakan ke dokter kandungan atau dokter kulit,” ucapnya.

Arini pun mengingatkan sebelum memakai kosmetik sebaiknya mencobanya terlebih dahulu dengan self patch tes. Bila tidak ada reaksi alergi, iritasi, gatal atau perih barulah mencobanya ke area wajah atau areal yang lebih luas. Sehingga bisa mengetahui manfaat tiap produk. Apabila ada reaksi yang tidak diinginkan, mudah mengetahui penyebabnya.

Perhatikan Ciri-Ciri Kosmetik Bermerkuri

Ia menambahkan, kosmetik bermerkuri berciri-ciri membuat kulit terasa kasar, kering dan gatal saat mengoleskan produknya. Dapat juga terasa lelah, lemas atau nyeri otot bahkan pada beberapa orang dapat terasa logam di dalam mulutnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) produk yang dapat mengandung merkuri memiliki bahan-bahan yaitu mercurous chloride, calomel, merkuri, mercurio dan mercury. Jenis produk kecantikan yang kemungkinan bisa mengandung merkuri yaitu produk pencerah kulit, body lotion, produk anti aging dan krim anti jerawat. Sedangkan produk yang mengandung merkuri anorganik yaitu krim serum, masker, toner, lotion, emulsi, gel, cairan bubuk, deodoran, minyak, sabun dan stick.

Toksisitas merkuri anorganik seperti mercurous chloride, mercuric chloride dan mercuric oxide dapat menyebabkan sindrom nefrotik, penurunan output ginjal, gagal ginjal dan efek kesehatan yang parah lainnya. Efeknya juga memengaruhi berbagai bagian saraf, pencernaan, sistem kekebalan tubuh dan organ, seperti paru-paru, ginjal, kulit dan mata.

Dampak keparahannya kata Arini sangat bergantung tingkat konsentrasi merkuri dalam suatu produk. Selain itu juga ada pengaruh senyawa produk terkait kelarutan, karakteristik kulit, lama terpapar dan faktor lainnya.

“Semua dapat memengaruhi distribusi merkuri dalam tubuh. Jadi, gejala keracunan merkuri tidak mengikuti pola standar yang sama. Sehingga menimbulkan tantangan tambahan untuk mendiagnosis,” imbuhnya.

Menurutnya, tubuh dan kulit yang terpapar merkuri akan menyebabkan seseorang mudah marah, sakit kepala, lemas, tremor, perubahan dalam penglihatan atau pendengaran, masalah memori, depresi, mati rasa dan kesemutan di tangan kaki atau di sekitar mulut.

Solusinya jika sudah terpapar oleh merkuri yaitu segera cuci bagian kulit yang terkena dengan air. Namun ketahui pula seberapa jauh paparan merkuri ke dalam tubuh atau kulit entah itu dalam hitungan hari atau minggu.

“Maka lebih baiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pada saat membuang barang yang mengandung merkuri masukkan ke plastik atau kontainer anti bocor dan pastikan cara pembuangan yang benar karena berpotensi mencemari lingkungan,” paparnya.

Penulis : Ihya Afayat

 

Top
You cannot copy content of this page