Tarian Lincah Pemetik Teh Sambut Awal Musim Giling

Reading time: 2 menit
Foto: greeners.co

Malang (Greeners) – Sekelompok penari menari lincah. Gerakan tangan dan kaki menyesuaikan irama gamelan yang terdengar riang. Di punggungnya tersampir keranjang anyaman bambu, sementara tangannya cekatan memetik pucuk daun teh di depannya. Sekelompok penari lainnya tampak di kejauhan. Memeragakan pemetik teh sedang berangkat kerja. Wajahnya riang menyusuri perkebunan teh, memetik pucuk teh yang tumbuh di awal musim hujan tahun ini.

Sendratari kolosal Hametik Teh ini ditampilkan dalam gelaran ritual buka giling pertama teh di Wisata Agro Wonosari, kawasan Perkebunan Teh Wonosari, di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (16/11/2014). Tarian Hametik Teh ini digubah sedemikian rupa oleh Sanggar Tari Cokro Buwono dari Kecamatan Tumpang yang pandegani (dipimpin), Ika Wahyu Widyawati.

Menurutnya, tarian ini diciptakan selama dua bulan dan berkolaborasi dengan murid sanggar dan ibu-ibu pemetik teh dari perkebunan teh Wonosari. “Tarian menggambarkan aktifitas di kebun teh Wonosari, mulai dari berangkat kerja, memetik teh, dan prosesi di penggilingan,” kata Ika usai acara berlangsung.

Sebelum sendratari ditampilkan, sesepuh dusun setempat terlebih dulu melakukan ritual “mbukak dalan” dengan memanjatkan doa di sebuah tempat di kawasan perkebunan yang dipercaya sebagai punden-nya.

Gerakan tari serta mimik penari yang riang gembira menunjukkan karakter pemetik teh yang supel, semangat bekerja, ceria, dan tidak ada beban dalam bekerja memetik pucuk daun teh yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Menurut Direktur Utama PTPN XII, Irwan Basri mengatakan, ritual buka gilingan teh pertama sejak dulu memang ada, namun dalam waktu yang cukup lama, tradisi ini hilang. Rencananya, agenda serupa akan diagendakan setiap tahun ketika memasuki musim petik teh di awal musim hujan. Harapannya, selama musim giling, aktivitas memetik pucuk daun teh berjalan lancar dan tidak ada hambatan.

“Ini juga ungkapan syukur kepada Tuhan YME karena telah menurunkan hujan sehingga pohon teh bersemi,” katanya.

Menurutnya, perkebunan teh di Wonosari ini memang sedang ditingkatkan fasilitas wisata Agro dengan penambahan sejumlah hotel atau epnginapan di kawasan perkebunan. Hampir setiap akhir pekan, banyak wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Agro Wonosari. Dalam rangkaian acara ini, dilakukan peluncuran pembuatan biopori sejumlah 1.254 biopori yang tersebar di seluruh areal lahan perkebunan.

Tradisi nyeruput teh bersama warga juga menambah meriah acara ini. Pengunjung maupun masyarakat sekitar juga berkesempatan merasakan teh kualitas unggul dari perkebunan Wonosari ini. Fasilitas Tea House yang berada di antara pabrik dan areal kebun menambah suasana santai di akhir pekan bertambah ceria. Pengunjung bisa menikmati aneka pilihan teh berkualitas ekspor seraya menikmati pemandangan perkebunan teh peninggalan Kolonial Belanda tersebut.

(G17)

Top
You cannot copy content of this page