Ternyata, Sinar Matahari Mampu Memengaruhi Kesehatan Mental

Reading time: 2 menit
kesehatan mental
Ilustrasi. Foto: pixabay.com

Berdiam diri di dalam kamar sambil berbaring di atas kasur, mendengarkan musik favorit atau membaca buku merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian orang. Suasana nyaman dan tenang yang kita dapatkan dari dalam kamar membuat kita betah untuk berlama-lama di dalamnya. Bahkan, tak sedikit di antara kita yang lebih memilih untuk “mengurung diri” di dalam kamar dibandingkan untuk pergi ke taman kota sebagai cara untuk menikmati hari libur.

Meski terasa nyaman, nyatanya berdiam diri di dalam kamar sepanjang hari dapat memberikan efek buruk terhadap kesehatan, khususnya kesehatan mental. Dengan terus-terusan mengurung diri di dalam ruangan, kita akan merasa gelisah, sedih, mengalami gangguan tidur, hingga merasa depresi. Hal tersebut dapat terjadi karena dengan mengurung diri di dalam ruangan tubuh kita akan kekurangan asupan sinar matahari. Lalu, apa hubungannya antara kesehatan mental dengan sinar matahari?

Seorang peneliti dari Sleep and Chronobiology Laboratory di Universitas Colorado Amerika Serikat, Kenneth Wright, menyatakan bahwa paparan sinar matahari dapat membantu tubuh untuk mengatur ritme sirkadian. Sirkadian merupakan jam biologis tubuh yang mengatur segala sesuatu dalam tubuh kita seperti nafsu makan, jam tidur, hingga mood dan energi.

“Ketika tubuh kurang terpapar cahaya matahari dan hanya terpapar cahaya buatan seperti cahaya lampu, jam biologis dalam tubuh kita akan terganggu. Akibatnya, kesehatan tubuh kita akan mengalami gangguan. Tubuh kurang terpapar sinar matahari memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjangkit obesitas, diabetes, depresi, dan penyakit lainnya,” ujar Kenneth dilansir dari Time.

Selain itu, matahari akan membantu tubuh memproduksi vitamin D. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dokter sekaligus peneliti dari University Hospital of North Norway Norwegia, Rolf Jorde, menyatakan bahwa seseorang yang mengalami kekurangan asupan vitamin D lebih rentan untuk terserang depresi. Maka tak heran, seseorang yang jarang keluar rumah dan jarang terpapar sinar matahari lebih sering merasa sedih, gelisah, hingga depresi.

Sebuah penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Dermato-Endocrinology juga menunjukkan bahwa tubuh akan menghasilkan hormon melatonin yang lebih tinggi dalam keadaan gelap. Akibatnya, saat tubuh kita kurang terpapar sinar matahari, kita akan lebih mudah merasa letih.

Untuk menghindari diri dari perasaan mellow dan depresi, seorang profesor dan penulis dalam bidang psikologi asal Amerika Serikat, Richard Ryan, menyarankan kita untuk sering-sering menghabiskan waktu di luar rumah dan bersatu dengan alam. “Menghabiskan waktu di luar rumah dan membaur dengan alam dapat meningkatkan kesehatan mental kita. Mood kita juga dapat membaik. Selain itu, menghabiskan waktu di alam juga dapat mengurangi rasa sakit pada tubuh,” tuturnya.

Perlu diketahui, sebuah eksperimen yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Rochester menunjukkan bahwa seseorang yang menghabiskan waktu di luar ruangan dan mengalami kontak langsung dengan sinar matahari akan mengalami peningkatan vitalitas sebesar 40 persen. Selain itu, sinar ultraviolet yang terkandung dalam cahaya matahari dapat menstimulasi otak untuk menghasilkan hormon endorphin, hormon yang dapat meningkatkan rasa bahagia. Selain itu, sinar matahari juga dapat melepaskan hormon serotonin dalam tubuh sehingga tubuh akan lebih terasa bugar dan bertenaga.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

Top
You cannot copy content of this page