Bio Cup, Gelas dari Ampas Kopi yang Tak Akan Jadi Sampah

Reading time: 2 menit
Gelas ini Ruas Lab buat dari ampas kopi. Foto: Ruas Lab

Minum kopi varian klasik hingga kekiniaan menjadi tren di masyarakat. Namun bisa terbayang jika kemasan dan gelas yang masyarakat gunakan tidak ramah lingkungan. Gelas dan kemasan tersebut menambah timbulan sampah ke lingkungan. Bahkan bisa berubah menjadi mikroplastik.

Melihat kondisi ini, startup Ruas Lab menangkap peluang dengan menghadirkan gelas dari ampas kopi yang ramah lingkungan.

Founder Ruas Lab Cerdinal Hemawan mengatakan, saat ini kopi sangat digemari lintas usia dari anak muda hingga orang tua. Faktanya penghasil dan pengonsumsi kopi di dunia adalah Indonesia.

“Indonesia masuk dalam lima besar sehingga sangat melimpah. Maraknya toko kopi meningkatkan perekonomian seiring pesatnya bisnis kopi,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Namun menurutnya, ada masalah dari perkembangan tren itu. Gelas sekali pakai meningkat. Bisa masyarakat bayangkan setiap orang bisa mudah memesan (take away).

“Tanpa sadar mereka menikmati kopi enak setiap hari. Dari satu toko kopi terkenal di Jakarta menghasilkan 100 cup per harinya. Bisa dibayangkan berapa jumlah cup plastik sekali pakai yang menjadi sampah dari ratusan toko di Jakarta,” paparnya.

Hal inilah yang mendasari Ruas Lab berinovasi. Di tengah melesatnya perekonomian karena bisnis kopi, sampah pun ikut meningkat. “Ini menurut saya tidak adil,” imbuhnya.

Inovasi Ubah Ampas Kopi Jadi Bio Cup

Dari situlah Ruas Lab terpanggil berinovasi. Kopi yang masyarakat minum tentu menghasilkan banyak ampas. Ia memperkirakan satu gelas kopi menghasilkan ampas sekitar 20 gram per shot. Dalam satu hari per toko bisa menghasilkan 3 kilogram.

Minimnya pengolahan ampas kopi ini sangat potensial Ruas Lab olah. Apalagi supply ampas kopi ini sangat melimpah dan yang terpenting bisa Ruas Lab dapat secara gratis.

Dari pengembangan Bio cup ini, Cerdinal mengakui inovasinya masih dalam proses development. Bio cup ini dalam pengembangannya punya keunggulan karena materialnya bisa Ruas Lab padatkan dan cetak ke dalam beberapa bentuk seperti silicone mold atau injection mold.

Material ini teksturnya seperti kaca dan pengantar panasnya lambat sehingga nyaman saat memegang air panas. Durabilitasnya bisa bertahan hingga 100 derajat celcius. Meskipun leleh (lembek) saat pada suhu tersebut, saat dingin berubah kembali menjadi padat dan bisa diimprove.

“Untuk drop test masih dalam jarak 5 cm dan masih bisa diimprove. Keunikan produk ini bisa dikatakan abadi karena apabila material ini retak atau hancur bisa dipanaskan 130 derajat celcius dengan less energy, less emission,” paparnya.

Material abadi tadi dapat dibentuk kembali. Yang terpenting biaya produksi ini murah. Material ini pun sudah masuk dalam tujuh elemen Sustainable Design Goals (SDG).

Meski memiliki keunggulan, Bio cup ini juga memiliki kelemahan dari sisi durabilitas. Tetapi dengan teknologi mesin injeksi dan bahan material lainnya berdasarkan jurnal ilmiah bisa menyelesaikan kelemahan tersebut.

Ruas Lab pun menargetkan akan menggandeng berbagai komunitas kecil untuk merambah bisnisnya. Pengenalan Bio cup ramah lingkungan ini bersama komunitas dan toko kopi yang memiliki visi sejalan dengan Ruas Lab.

Penulis : Ari Rikin

Top