Ide & Inovasi
Mainetti Group, perusahaan ritel global membuat gantungan baju ramah lingkungan yang terbuat dari sampah. Dalam proyeknya ini, Mainetti Group bekerja sama dengan perusahaan rintisan UBQ Material untuk menggunakan produk berbasis bio dalam membuat gantungan baju yang ramah lingkungan. Penggabungan kekuatan ini mereka klaim akan merevolusi industri mode berkelanjutan.
Walaupun kehadirannya dapat menyejukkan ruangan, namun Air Conditioner (AC) merupakan salah satu benda yang menyumbang polusi udara. Barang yang ada di tiap gedung perkantoran dan rumah ini, ternyata dapat tergantikan dengan inovasi baru. Peneliti Purdue University, Amerika Serikat, menciptakan cat putih yang dapat menjaga suhu hingga 18 derajat Fahrenheit lebih dingin dibandingkan lingkungan sekitarnya, tanpa menghabiskan energi.
Empat mahasiswa asal Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, tidak ketinggalan mendayagunakan pelepah pisang. Mereka adalah Adindra Maharsi K. Astuti, Danny Hidayat, Vincent Fanuel Gedalya, dan Patricia P. Noviandri. Kali ini, pelepah pisang mereka sulap menjadi peredam suara.
Produsen pakaian dari Taiwan, Coor, menciptakan ide pembuatan jaket dengan ampas kopi. Ampas kopi dikompresi lebih lanjut untuk melepaskan minyak yang terintegrasi ke dalam membran bagian dalam kain, menggantikan kebutuhan akan pelapisan dan perawatan sintetis.
Microfiber merupakan salah satu zat pencemar air dunia yang ada di dalam pakaian. Satu pakaian dapat melepaskan hingga tujuh ratus ribu microfiber dalam satu kali cuci. Banyak dari mereka yang mencapai pantai dan lautan. Di sana, microfiber bisa bertahan selama ratusan tahun. Bahkan, serat ini dapat tertelan ikan dan makhluk laut lainnya. Serat ini lalu bergerak naik di dalam rantai makanan, dan dapat berakhir di piring kita.
LastObject, perusahaan rintisan asal Denmark yang fokus terhadap pembuatan produk daur ulang, mengeluarkan produk baru yang juga berkelanjutan. Setelah sukses dengan LastSwab, cotton bud ramah lingkungannya, kini LastObject kembali meluncurkan […]
Bahan bangunan umumnya menggunakan batu bata dari tanah liat yang dibakar. Namun, bagaimana jika rumah Anda terbuat dari batu bata yang berbahan dasar urine? Saya dapat pastikan, batu bara urine tidak seburuk yang Anda bayangkan. Meskipun terdengar menjijikkan, ternyata urine bisa bermanfaat menjadi bahan bangunan, sekaligus menjadi solusi untuk pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Sebelum mengenal pewarna sintetis, bangsa Indonesia telah memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan menjadi pewarna alam secara turun temurun. Hal ini menginspirasi Annisa Ayuningtias dan Aldi Hendrawan, mahasiswa Universitas Telkom, Bandung. Mereka mencipatkan cat tekstil berbahan dasar kunyit. Cat tekstil ini kemudian mereka aplikasikan dengan teknik lukis pada produk fesyen.
SunToWater namanya, sebuah alat penghasil air minum mirip dehumidifier berteknologi tinggi yang diklaim mampu menghasilkan delapan galon air per hari. Unit ini menggunakan teknologi gabungan antara sinar matahari dan listrik sehingga membuatnya menjadi lebih ramah lingkungan dalam proses dan hasil produksinya.
Sebuah perusahaan rintisan asal Inggris, Notpla, menciptakan plastik alternatif yang dapat terurai dalam waktu cepat. Plastik ini terbuat dari rumput laut. Selain dapat terurai dengan cepat, plastik ini juga dapat dimakan langsung oleh manusia, mengingat bahan bakunya yang alami sehingga tidak berbahaya.
Tim peneliti dari China, Inggris, dan Arab Saudi mengembangkan solusi untuk menyelesaikan permasalahan limbah plastik sekaligus emisi karbon. Mereka berupaya menguraikan sampah plastik menjadi gas hidrogen dan tabung nano karbon. Bahan bakar hidrogen menjadi salah satu alternatif energi yang paling menjanjikan untuk bahan bakar fosil.
Perusahaan mobil ternama ini bermitra dengan enam merek mode terkemuka dari seluruh dunia, termasuk Rosie Assoulin dan Public School, untuk meluncurkan koleksi fesyen. Produk edisi terbatas ini akan dijual di swalayan London Selfridges dan dibanderol mulai dari US$250 sampai US$ 1450.
Penggunaan bahan bakar fosil yang terus merusak bumi membuat dua peneliti muda Surabaya prihatin. Mereka adalah mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), Handy Rifaldin dan Marita Nilam. Duo peneliti muda ini kemudian mengembangkan alternatif pembuatan bioetanol dengan menggunakan buah salak.










































