Unionkul, Kantor Peti Kemas Hemat Energi

Reading time: 2 menit
Unionkul. Foto: inhabitat.com

Eropa tidak habis-habis membuat inovasi di bidang desain yang ramah lingkungan. Kabar terbaru datang dari Demark. Biro arsitektur Arcgency berhasil mengubah kontainer peti kemas bekas menjadi kantor yang hemat energi dan dapat dipindah-pindahkan. Kantor dari peti kemas tersebut mereka namakan Unionkul.

Berlokasi di Nordhavnen, Copenhagen, proyek bernama Cargotektur ini meminimalkan penggunaan energi dan dirancang agar bisa digunakan di iklim Skandinavia yang ekstrim. Selain ini proyek ini juga hemat dari segi pembiayaan.

Biro arsitektur Arcgency membangun kerangka kerja Unionkul hanya dalam dua hari saja. Kontainer disusun bertumpuk di atas serangkaian kolom. Menariknya, rancangan ini tidak banyak memakan ruang.

Peti kemas berumur 10-14 tahun digunakan dalam proyek Cargotektur untuk dijadikan Unionkul. Foto: inhabitat.com

Peti kemas berumur 10-14 tahun digunakan dalam proyek Cargotektur untuk dijadikan Unionkul. Foto: inhabitat.com

Rata-rata peti kemas kontainer yang digunakan dalam proyek ini sudah berumur 10-14 tahun. Arsitek bangunan ini memilih untuk mempertahankan bentuk asli kontainer tersebut. Lantai kontainer masih sama dengan bentuknya semula, begitu juga dengan permukaan dindingnya yang bergelombang. Kontainer dicat berwarna abu-abu dan dilapisi panel fasad dengan insulasi yang baik.

Untuk menghilangkan bentuk tumpukan kontainer yang monoton, arsiteknya memotong beberapa bagian dinding dan lantai untuk menciptakan variasi ukuran ruang, memperkuat hubungan visual dan memaksimalkan pencahayaan alami. Pintu dan jendela yang setinggi kontainer, banyak ruang yang terbuka dan langit-langit yang berukuran tiga kali kontainernya, sangat membantu pemakai bangunan untuk terhubung dengan satu sama lain.

Unionkul. Foto: inhabitat.com

Unionkul. Foto: inhabitat.com

Sementara itu untuk mengurangi ketergantungan terhadap cahaya buatan, langit-langitnya dipasangi alumunium berlubang untuk memantulkan cahaya dari luar. Menarik untuk diterapkan di negara tropis seperti Indonesia, bukan?

Penulis: NW/G15
Sumber: inhabitat.com

Top
You cannot copy content of this page