Aleut! Berjalan Beriringan Menyusuri Sejarah

Reading time: 2 menit
Foto: Komunitas Aleut!

Bandung (Greeners) – Tak lengkap rasanya jika berwisata di Bandung tanpa berfoto di depan Gedung Sate atau Gedung Merdeka dan gedung peninggalan Belanda lainnya yang memiliki nilai artistik dan sejarah.

Di Bandung, banyaknya gedung peninggalan Belanda menjadi penambah keindahan kota dengan julukan Paris van Java ini. Tak jarang gedung-gedung tersebut dijadikan lokasi pemotretan pre wedding hingga syuting film.

Namun tahukah Anda, dibalik kemegahan dan keindahan gedung tua dan tempat bersejarah lainnya, ada satu komunitas yang benar-benar mencintai sejarah dan rutin mencari tempat bersejarah lainnya yang belum terungkap?

Komunitas ini adalah komunitas Aleut!. Komunitas yang berdiri sejak tahun 2006 ini selalu mencari dan mengunjungi tempat bersejarah di Bandung dengan berjalan kaki.

Kecintaan terhadap sejarah menyatukan kaum muda ini dalam komunitas Aleut! Foto: Komunitas Aleut.

Kecintaan terhadap sejarah menyatukan kaum muda ini dalam komunitas Aleut! Foto: @Komunitas Aleut!

Setiap hari Minggu, komunitas ini rutin menjelajah berbagai sudut kota Bandung dengan berjalan kaki. Mereka berjalan menyusuri sejarah yang terbentang di hadapan. Tak jarang para “Aleutian”-sebutan anggota komunitas Aleut!, menemukan sesuatu yang bernilai sejarah namun belum diketahui banyak orang.

Salah seorang Aleutian, Salman menuturkan, nama Aleut sendiri diambil dari bahasa Sunda yang memiliki arti berjalan beriringan. Nama ini tak lepas dari aktivitas komunitas Aleut! yang selalu berjalan kaki mengitari kota Bandung.

“Kalau kita pakai kendaraan, sering melewatkan hal-hal kecil yang sebenarnya menarik. Jadi, kita memilih jalan kaki agar lebih detail melihat Bandung,” tambah Salman memaparkan alasan komunitas ini selalu berjalan kaki.

Setiap Aleutian diharapkan mengenal lebih jauh sejarah Kota Bandung agar lebih mencintai kota Bandung. Selain itu, komunitas Aleut! juga sangat peduli tentang permasalahan lingkungan di Kota Bandung, hingga tak jarang mereka terlibat dalam aksi pelestarian lingkungan hidup.

Aleutian lainnya, Hani, bertukar cerita tentang pengalamannya menemukan tempat bersejarah yang tak terlupakan. Ia bersama beberapa anggota Aleut! pernah menemukan tempat pengolahan tinja peninggalan kolonial di kawasan jalan Inhoftenk, Bandung. Tempat itu diperkirakan mampu menampung dan mengolah tinja 3.000 orang sebelum kotoran tersebut akhirnya dibuang ke sungai.

“Saya sangat menyayangkan tempat itu sekarang enggak berfungsi lagi, padahal pengolahan tinja sebenarnya sangat bermanfaat untuk lingkungan. Sebenarnya tempat itu adalah suatu tanda kemajuan yang ditinggalkan penjajah, tapi sangat disayangkan kini enggak berfungsi,” ungkap Hani dengan nada kecewa.

Selain mengenal sejarah Bandung dengan berjalan kaki, komunitas ini tidak pernah lepas dari referensi buku. Ratusan buku yang mencatat sejarah Bandung tertata rapih pada rak buku di markas komunitas Aleut! yang berlokasi di jalan Sumur Bandung nomor 4.

Komunitas ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh mengenai Bandung. Itu sebabnya tidak aneh jika jumlah anggota yang tercatat di komunitas Aleut! mencapai angka 700 anggota. Komunitas ini aktif berbagi informasi melalui beberapa media sosial seperti aleut.wordpress.com, Komunitas Aleut di facebook, dan @KomunitasAleut di Twitter.

(Rifki A Fahmi)

Top

You cannot copy content of this page