Dari Pembuangan Sampah Menjadi Rumah Pintar

Reading time: 2 menit

Greeners (Bandung)- Rumah Pintar, itulah nama bangunan yang kini berdiri kokoh di atas tanah milik negara yang berlokasi di jalan Astana Anyar RT 08/RW 04 kelurahan Nyengseret, kota Bandung. Tapi tahukah Anda bahwa bangunan tersebut dulunya adalah lokasi pembuangan sampah warga?

Adalah Ekorini beserta sang suami, Kiki yang mampu mengubah itu. Lahan yang luasnya tak lebih dari 15×10 meter tersebut kini menjadi bangunan yang cantik dan asri yang dijadikan rumah pintar.

Keprihatinan Ekorini terhadap kualitas Sumber Daya Manusia atau SDM di Indonesia menjadi pemicu semangatnya untuk meningkatkan kualitas SDM dengan membentuk Rumah Pintar ini.

Bersama Kiki, Ekorini memperjuangkan Rumah Pintar sejak 1998. Dukungan dan tantangan terus menghujamnya, namun semangatnya tak pernah pudar hingga akhirnya ia mampu membangun Rumah Pintar.

“Penyuluhan kesehatan, kegiatan pendidikan usia dini dan penyembuhan untuk penderita gangguan jiwa menjadi prioritas kegiatan di rumah pintar,” sambung Ekorini memaparkan program yang telah berjalan di Rumah Pintar pada Rabu (02/06).

Dengan dibantu oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung, Ekorini mampu menjalankan Rumah Pintar tersebut yang tak pernah luput perhatian dari tokoh daerah hingga tokoh nasional.

“Alhamdulillah kita dapat bantuan buku bacaan dari Bapak Rizal Malarangeng dan Aburizal Bakrie serta tokoh lainnya, sehingga menambah bacaan di perpustakaan di sini,” tambah Ekorini.

Selain bergerak dalam bidang kesehatan jiwa serta pendidikan, Ekorini juga berencana akan membawa Rumah Pintar menjadi tempat pengolahan sampah.

Mengusung tema kampung wisata, Ekorini akan berupaya mengajak beberapa pihak untuk menjalankan program tersebut.

“Saya melihat Bandung ini kotor, jadi perlu ada penangan serius, hingga akhirnya saya berkeinginan menciptakan lingkungan disekitar sini menjadi lebih bersih,” Ungkap Ekorini.

Semangat belajar dari anak-anak sekitar rumah pintar menjadi pelecut semangat Putri, salah seorang Mahasiswi UIN Bandung untuk mengabdikan dirinya di Rumah Pintar.

“Waktu di jalan mau ke Rumah Pintar, saya ditanya sama anak-anak disini, kapan perpustakaan buka, soalnya mereka pada mau baca. Nah, itu tuh jadi kebanggaan buat saya dan makin semangat menjalankan program di rumah pintar,” ungkap Putri dengan penuh kegembiraan.

(Rifki A Fahmi)

Top
You cannot copy content of this page