Komunitas Sepeda Onthel Eksis di Zaman Modern

Reading time: 2 menit
Komunitas Sepeda Onthel di Hello Bike Festival 2022. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Bandung (Greeners) – Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng (PSBB) merupakan salah satu komunitas yang turut memeriahkan gelaran Hello Bike Festival di Summarecon Bandung. Tampak terlihat sepeda onthel yang antik berjejer memenuhi stand PSBB. Komunitas ini tampak mencolok dibanding komunitas sepeda lainnya.

Ketua Bidang Kegiatan PSBB Firmansyah mengatakan, di tengah gempuran sepeda kekinian, eksistensi sepeda onthel masih ada, bahkan tak punah. Ini terbukti komunitas ini telah berusia 13 tahun dengan anggota kurang lebih 1300 orang.

“Mungkin di awal-awal kemunculan kita kerap dianggap aneh karena terlihat ketinggalan zaman. Tapi kita bisa membuktikan di antara komunitas sepeda lain hingga mereka menerima kita, bahkan menghargai kita,” katanya kepada Greeners, Sabtu (5/11).

Awalnya, komunitas PSBB berdiri 31 Januari 2005 berlandaskan atas kesamaan hobi sepeda dan motor tua. Akan tetapi, seiring pertumbuhannya, komunitas ini lebih concern pada koleksi sepeda tua. Selain sekaligus mengusung misi ramah lingkungan, mereka juga ingin mengedukasi masyarakat tentang sepeda tua dan sejarah perkembangannya.

Firman menyebut, sepeda tua masih sangat relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Bagaimana tidak, moda transportasi ini tak sekadar untuk keperluan transportasi ke suatu tempat. Namun juga sebagai koleksi bagian dari investasi.

“Harganya bervariasi, mulai dari Rp 300.000 hingga ratusan juta. Ini dilihat dari orisinalitas, keaslian dari umur sepeda tersebut. Semakin tua maka semakin mahal,” ungkapnya.

Ciri Khas Sepeda Onthel

Ia melanjutkan, semua negara pada dasarnya memproduksi sepeda. Akan tetapi ciri khas sepeda onthel identik dengan negara Inggris dan Belanda. “Termasuk dari detailnya, jika semakin detail maka semakin mahal. Karena pabriknya sudah tak memproduksi maka aksesoris akan lebih susah didapatkan,” imbuhnya.

Firman merupakan salah satu pecinta sepeda onthel yang pernah melalang buana ke Ceko. Di negara tersebut, para kolektor sepeda onthel tak sekadar memiliki banyak koleksi sepeda, tapi juga memiliki museum sendiri. “Sementara kolektor di Indonesia belum mempunyai museum sendiri, lebih ke pameran koleksi,” ucapnya.

Tak hanya memamerkan koleksi, komunitas PSBB juga melakukan touring ke berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Bandung-Jawa Tengah, Bandung-Bali, hingga Bandung-Cirebon.

Menariknya, pesepeda lanjut usia yang mendominasi komunitas ini masih kuat menempuh jarak sepeda yang cukup jauh. “Ini menunjukkan komitmen kita bahwa kita tak hanya mempunyai koleksi sepeda atau aksesorisnya, tapi juga kita touring seperti halnya komunitas sepeda yang lain,” kata dia.

Salah satu sepeda antik milik komunitas sepeda onthel. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Bakal Gelar Bandung Lautan Onthel

Saat melakukan touring, komunitas ini mempersiapkan berbagai macam kebutuhan mulai dari alat transportasi, kotak P3K sebagai antisipasi jika pesepeda mengalami cedera hingga kecelakaan.

PSBB juga kerap kali melakukan kegiatan bersepeda dengan mengenakan kostum khusus sesuai tema acara. Misalnya, saat hari perayaan yang berkaitan dengan perjuangan Indonesia maka mengenakan atribut busana baju perjuangan. Demikian pula saat acara-acara tradisional maka anggota komunitas ini mengenakan pakaian pangsi hingga pakaian adat Jawa berupa lurik.

Komunitas PSBB memiliki agenda rutin bernama Bandung Lautan Onthel setiap tiga tahun sekali. Agenda selanjutnya akan berlangsung di tahun 2023 nanti dengan target 10.000 peserta.

“Acara ini menjadi kiblatnya acara sepeda tua di Indonesia. Tahun 2019 kemarin ada kita tunda karena pandemi. Kita berharap agenda nanti berjalan lancar,” pungkasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page