Gerakan Tobat Ekologis Dorong Ribuan Sekolah untuk Peduli Lingkungan

Reading time: 2 menit
Gerakan Tobat Ekologis Dorong Ribuan Sekolah untuk Peduli Lingkungan. Foto : KLH/BPLH

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong gerakan Tobat Ekologis yang melibatkan ribuan sekolah. Gerakan ini merupakan bagian dari perjalanan dua dekade Program Adiwiyata.

Sebanyak 2.649 sekolah di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota ikut terlibat untuk mewujudkan “Tobat Ekologis Menuju Sekolah Berbudaya Lingkungan”.

Dalam program ini KLH/BPLH juga menggandeng Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kolaborasi lintas kementerian ini mendorong pendidikan untuk bisa mengubah kepedulian ekologis menjadi aksi nyata yang terukur selama 30 hari ke depan.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa tobat ekologis tidak boleh berhenti sebatas deklarasi seremonial. Menurutnya, perubahan harus dimulai dengan kesadaran moral untuk mengakui kesalahan terhadap alam. Ia juga menginginkan perubahan bisa menghentikan perilaku yang merusak, serta mengambil langkah pemulihan secara konsisten.

“Perubahan perilaku membutuhkan kesadaran moral, nilai agama, dan penegakan hukum. Kepedulian juga perlu didukung sistem yang memungkinkan masyarakat bertindak benar. Ini termasuk sarana pengelolaan sampah dan tanggung jawab terhadap dampak lingkungan,” kata Jumhur di Jakarta, Senin (12/10).

Jumhur menambahkan, di lingkungan sekolah, prinsip tersebut harus diterjemahkan langsung ke dalam kebiasaan sehari-hari. Tujuannya agar kesadaran generasi muda tumbuh menjadi tindakan nyata yang terus mereka pelihara.

Memulai Kebiasaan dari Sekolah

Gerakan Tobat Ekologis di sekolah juga bisa mendorong dampak yang baik kepada warga di sekolah. Terutama terkait perubahan perilaku yang lebih baik bagi siswa dan siswi di sekolah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat mengatakan bahwa sekolah merupakan kawah candradimuka yang paling strategis untuk membentuk kebiasaan baik peserta didik. Nantinya, kata dia, kebiasaan tersebut akan mereka bawa ke tengah keluarga, masyarakat, hingga dunia kerja.

“Warga sekolah mengenali dan mengakui kondisi lingkungannya, kemudian menghentikan kebiasaan yang merusak, lalu membenahi sistem dan tata kelola sekolah, setelah itu melakukan pemulihan. Jadi, esensi tobat adalah melakukan dan memproduksi hal-hal yang baik dalam konteks lingkungan kita,” kata Atip.

Ia menambahkan bahwa perubahan tersebut diwujudkan melalui lima aspek Adiwiyata, yaitu kebersihan dan sanitasi, pengelolaan sampah, konservasi keanekaragaman hayati, penghematan energi, serta penghematan air.

Jalankan Aksi Cepat

Dalam gerakan Tobat Ekologis ini, ribuan sekolah peserta nantinya akan menjalankan aksi cepat (quick win) yang berfokus pada lima tahapan utama. Tahapan tersebut terdiri dari bercermin, berhenti, berbenah, memulihkan, dan membudayakan.

Pelaksanaan aksi tersebut juga mencakup dalam pilar Program Adiwiyata. Selanjutnya, KLH/BPLH juga mendorong setiap instansi pendidikan menetapkan target terukur yang dipantau secara berkala melalui Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA). Keberhasilan gerakan ini pengukurannya berdasarkan dari perubahan kebiasaan konkret serta perbaikan kualitas lingkungan di tapak.

Memasuki babak baru dua dekade Program Adiwiyata, KLH/BPLH berharap gerakan tobat ekologis ini mampu menciptakan efek limpahan (multiplier effect) ke luar gerbang sekolah.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Top