Jakarta (Greeners) – Tanaman indah dalam wadah kaca berukuran besar menjadi salah satu hal yang menarik perhatian di Floriculture Indonesia International Expo (FLOII) 2026. Bukan sekadar tanaman hias, ekosistem mini tersebut dikenal sebagai vivarium, yang kini mulai memiliki wadah komunitas di Indonesia.
Komunitas tersebut bernama Indonesia International Vivarium Society (IIVS), sebuah komunitas kreator ekosistem mikro se-Nusantara. IIVS hadir untuk memperkenalkan dan mengembangkan vivarium melalui perpaduan sains dan seni, sekaligus menjadi ruang bagi para penekun replika ekosistem air, darat, hingga ruang transisi hayati.
Secara umum, vivarium merupakan wadah atau area tertutup yang dirancang untuk memelihara dan merawat hewan maupun tumbuhan dengan kondisi lingkungan yang menyerupai habitat aslinya. Karena pembuatannya berdasarkan karakter habitat tertentu, vivarium memiliki beberapa bentuk.
Pengurus Indonesia International Vivarium Society, Hadhiyyah N Cahyono, mengatakan vivarium terbagi menjadi empat jenis, yaitu akuarium, paludarium, riparium, dan terarium.
“Akuarium bentuknya berisikan air. Sementara untuk yang kering dan tidak ada airnya merupakan terarium. Kemudian untuk riparium, sekitar 20 persennya berada di atas permukaan air,” kata Hadhiyyah kepada Greeners, Kamis (17/9), di FLOII Expo 2026.
Menurutnya, keberagaman bentuk dan karakter habitat tersebut menjadi salah satu hal yang membuat vivarium menarik untuk dipelajari. Atas dasar itu pula, IIVS terbentuk pada 2026 sebagai gerakan untuk menyatukan orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap vivarium.
Tak hanya menjadi wadah berkumpul, komunitas ini juga menyediakan sejumlah fasilitas, salah satunya ensiklopedia. Fasilitas tersebut dapat membantu masyarakat yang baru ingin memulai membuat vivarium, untuk menentukan jenis flora dan fauna yang sesuai dengan ekosistem yang ingin mereka buat.
“Misalnya mau pakai ikan atau fauna apa, kemudian flora atau tanaman apa. Tinggal klik saja. Untuk membernya sendiri, saat ini gratis,” ujar Hadhiyyah.
Sementara itu, di Indonesia terarium juga sudah cukup familiar dan berkembang di sejumlah komunitas. Hadhiyyah berharap IIVS dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai komunitas dan penekun vivarium tersebut.
Menyesuaikan Tanaman dengan Habitat
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian dalam membuat vivarium adalah pemilihan tanaman. Penggunaan tanaman tidak bisa sembarangan karena harus ada penyesuaian dengan karakter habitat.
Hadhiyyah mengatakan, pada terarium tertutup atau closed terrarium, misalnya, tanaman yang seringkali menjadi pilihan merupakan tanaman yang dapat hidup dalam kondisi dengan kelembapan tinggi.
Sebaliknya, jika pembuatan habitat menyerupai gurun, pemilihan tanaman harus mampu bertahan dalam kondisi kering dengan tingkat kelembapan rendah.
“Tapi kalau habitatnya dibuat seperti gurun, tanaman yang digunakan adalah tanaman yang bisa hidup dalam kondisi kering dengan kelembapan rendah. Jadi, memang ada treatment yang berbeda-beda,” ujar Hadhiyyah.
Perbedaan karakter habitat tersebut juga membuat cara perawatan setiap vivarium tidak sama. Pada terarium tertutup, misalnya, penyiraman tidak perlu terlalu sering karena air di dalam ekosistem akan mengalami siklus secara alami.
“Jadi, di dalam sini ada air, kemudian terjadi kondensasi dan airnya turun lagi. Dalam kondisi tersebut, terarium dapat dibuat tertutup dengan hanya menyediakan celah kecil untuk membantu pertukaran udara,” ujarnya.
Perhatikan Pencahayaan Vivarium
Selain kelembapan dan air, pencahayaan juga menjadi bagian penting dalam merawat vivarium. Anggota IIVS, Boas Alvin Giarto, mengatakan penempatan vivarium perlu menjadi perhatian agar tanaman mendapatkan pencahayaan yang sesuai.
Menurutnya, penempatan vivarium sebaiknya di dalam ruangan dan menggunakan grow light sebagai sumber cahaya bagi tanaman. “Lampunya itu enggak 24 jam menyala. Minimal delapan jam sehari. Jadi kalau sudah delapan jam sehari boleh matikan lampunya,” ujar Boas.
Ia juga tidak merekomendasikan penempatan vivarium di bawah paparan sinar matahari langsung. Kondisi tersebut dapat membuat suhu di dalam wadah meningkat dan mengganggu ekosistem yang telah terbangun.
Sebaliknya, pencahayaan buatan juga perlu diberikan secara rutin. Jika lampu tidak menyala dalam waktu lama, tanaman di dalam vivarium dapat mengalami gangguan pertumbuhan hingga mati.
Dengan perawatan yang disesuaikan dengan habitatnya, vivarium tidak hanya menjadi elemen dekorasi, tetapi juga menjadi cara untuk menghadirkan ekosistem kecil dalam ruang sekaligus mempelajari hubungan antara flora, fauna, air, cahaya, dan lingkungan.
Penulis: Dini Jembar Wardani












































