Pelajar SMPN 2 Dongko Lestarikan Sungai Konang di Trenggalek

Reading time: 2 menit
Pelajar SMPN 2 Dongko mendirikan Laskar Pelestari Sungai Konang. Foto: Istimewa
Pelajar SMPN 2 Dongko mendirikan Laskar Pelestari Sungai Konang. Foto: Istimewa

Jakarta (Greeners) – Pelajar SMPN 2 Dongko membuktikan kepeduliannya terhadap Sungai Konang di Trenggalek dengan mendirikan Laskar Pelestari Sungai Konang, Sabtu (17/12). Melihat kondisi tersebut, mereka memantau kualitas air dengan indikator biotilik (biota tidak bertulang belakang indikator kualitas air). Dari hasil pemantauan, kualitas air di Sungai Konang dalam kondisi tercemar ringan.

“Ada 100 biotilik yang berhasil teridentifikasi. Sebanyak 20% merupakan biota yang masuk kategori sensitive. Sementara, 80% masuk kategori toleran. Sehingga, sungai ini terkategorikan sebagai sungai tercemar ringan,” ungkap Peneliti Ekspedisi Sungai Trenggalek, Sugianto lewat keterangan tertulisnya.

Sugianto menjelaskan, Sungai Konang didominasi oleh jenis biotilik toleran, seperti cuncum atau sumpil, keong, cacing merah, dan yuyu. Selain melakukan biomonitoring, pelajar SMPN 2 Dongko juga mengukur kualitas air. Mereka menggunakan parameter phospat, total dissolved solid, suhu, oksigen terlarut dalam air, amoniak, krom, nikel, besi, dan konduktivitas.

BACA JUGA: Lestarikan Sungai, CSWM UI Lakukan Audit Sampah di Ciliwung

“Dari parameter fisika kimia yang kami uji menunjukkan bahwa kadar phospatnya tinggi sebesar 0,2 mg/l, sedangkan amoniaknya 2,7 mg/l. Kedua parameter ini di atas baku mutu air sungai,” ujar Ketua Pengelola Desa Wisata Desa Pandean, Ririn Setyo Widihastuti.

Ia menjelaskan, sungai tersebut saat ini masih tinggi kadar phospat dan amonium. Sebab, di kawasan sungai terdapat aliran irigasi persawahan. Laskar Pelestari Sungai pun menyikapi kondisi itu dengan membentuk komunitas lingkungan. Mereka secara rutin menjaga, memelihara, dan melestarikan Sungai Konang. Tercatat sebanyak 10 pelajar yang terlibat dalam komunitas ini.

“Laskar Pelestari Sungai Konang akan melakukan biomonitoring yang selaras dengan sustainable tourism. Hal itu sangat bermanfaat untuk penyelamatan ekosistem, menambah pengetahuan tentang keanekaragaman hayati, dan menjaga Sungai Konang dari kerusakan,” tambah Ririn.

Pelajar SMPN 2 Dongko mendirikan Laskar Pelestari Sungai Konang. Foto: Istimewa

Pelajar SMPN 2 Dongko mendirikan Laskar Pelestari Sungai Konang. Foto: Istimewa

Pantau Kualitas Air dengan Peralatan Sederhana

Sementara itu, biotilik Sungai Konang atau kegiatan pemantauan kualitas air mereka lakukan dengan menggunakan peralatan sederhana. Alat tersebut seperti jaring, nampan, sendok, dan gayung.

“Biotilik hidup di dasar sungai, di daun, semak dan di balik bebatuan. Untuk mendapatkan biotilik, kami gunakan jaring, bebatuan dibolak-balik dan kami gosok dengan sikat agar biotiliknya terlepas dari batuan dan semak, kemudian kami tangkap dengan jaring,” imbuh Siswi Kelas 9A SMPN 2 Dongko Adinda Deviansari.

BACA JUGA: Belantara Foundation Dorong Perusahaan Kertas Pulihkan Hutan

Siswi kelas 9A SMPN 2 Dongko, Lelyna Okta mengatakan, sebanyak 100 individu biolitik berhasil mereka tangkap. Kemudian, sebagian besar didominasi oleh biolitik toleran dan tahan terhadap kondisi pencemaran, sedangkan biota sensitive hanya ada 20%.

Lewat kegiatan dari Komunitas Laskar Pelestari Sungai Konang (LPSK), tentunya pelajar akan rutin memantau kualitas air dengan biotilik sebulan sekali. Kegiatan meliputi uji kadar phospat, lalu hasil dari pemantauan akan mereka pasang di papan pengumuman supaya warga Desa Pandean dapat mengetahuinya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top