Perlindungan Gajah Lewat Film “Asa Gajah Sumatra di Air Sugihan”

Reading time: 2 menit
Diskusi film pembawa pesan moral perlindungan gajah. Foto: Belantara Foundation

Jakarta (Greeners) – Guna memberikan perlindungan dan masa depan gajah Sumatra di Sugihan- Simpang Heran, Belantara Foundation berkolaborasi dengan Forest Wildlife Society dan Rumah Sriksetra menggelar pelatihan mitigasi konflik. Selain itu mereka juga mengedukasi anak muda melalui nonton dan diskusi film dokumenter “Asa Gajah Sumatra di Air Sugihan”.

Kegiatan ini berlangsung di Gedung Fisip UIN Raden Fatah Palembang, Minggu (25/9). Acara ini juga mendapat dukungan dari Keidanren Nature Conservation Fund (KNCF) dan APP Sinar Mas, melibatkan puluhan dosen dan mahasiswa di UIN Raden Fatah Palembang.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna menyatakan, sejumlah tokoh masyarakat, guru, dan anak-anak dari sejumlah desa di Air Sugihan, yang berbatasan langsung dengan kantong Sugihan-Simpang Heran ternyata memahami gajah sumatra.

“Mereka sadar bahwa gajah sumatra harus dilindungi. Mereka rela berbagi ruang hidup dengan gajah sumatra,” kata Dolly.

Harapan tersebut merupakan kabar baik. Penting untuk kita jaga, sehingga gajah sumatra di Sugihan-Simpang Heran terus hidup harmonis dengan manusia yang berada di sekitarnya.

“Maka upaya selanjutnya adalah memperluas kesadaran tersebut pada masyarakat di Air Sugihan. Serta melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi di Sumatra Selatan, sebagai laboratorium ilmu pengetahuan dan edukasi,” kata Dosen Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan ini.

Perlindungan Gajah dari Berbagai Ancaman

Wakil Dekan I Fisip UIN Raden Fatah Palembang Yenrizal, mendukung upaya perlindungan gajah sumatera yang terancam.

“Kami sangat mendukung berbagai kegiatan terkait persoalan lingkungan hidup, termasuk gajah sumatra yang saat ini hidupnya terus terancam. Selain minat saya pada komunikasi lingkungan, juga Fisip UIN Raden Fatah Palembang berkomitmen terhadap berbagai upaya atau tindakan menyelamatkan lingkungan. Menyelamatkan bumi,” paparnya.

Perwakilan dari Forest Wildlife Society Syamsuardi menyatakan, perguruan tinggi memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya menyelamatkan gajah sumatra.

“Kami percaya para peneliti, dosen, mahasiswa dari Fisip UIN Raden Fatah Palembang dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan. Kemudian juga tenaga dan waktunya dalam upaya menyelamatkan gajah sumatra yang terus terdesak hidupnya,” tuturnya.

Sejumlah mahasiswa menyimak diskusi film tentang gajah. Foto: Belantara Foundation

Gajah sumatra di Sugihan-Simpang Heran

Selama ratusan tahun masyarakat hidup berdampingan harmonis dengan gajah. Hingga salah satu yang masih bertahan saat ini adalah gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis) di Pulau Sumatra.

Namun dalam 25 tahun terakhir, muncul konflik antara manusia dengan gajah sumatra. Korbannya bukan hanya gajah tapi juga manusia.

Salah satu wilayah konflik tersebut di kantong gajah Sugihan-Simpang Heran, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. Hingga saat ini jumlah gajah di Sugihan-Simpang Heran berjumlah sekitar 48 ekor.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page