Pesantren Ekologi Biharul Ulum Ajak Masyarakat Pulihkan Lahan Tambang

Reading time: 4 menit
Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Masuknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tambang PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ke wilayah Gunung Pongkor di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sekitar tahun 1990-an telah mengubah pola hidup masyarakat khususnya yang telah turun-temurun menghuni gunung Pongkor dan sekitarnya.

Sebelum PT Antam masuk, masyarakat hidup dengan menjaga wilayah hutan. Aktifitas yang paling mencolok kala itu adalah perkebunan dan pertanian. Namun sejak PT Antam membangun jalan sepanjang 12 km dari pusat Kecamatan Nanggung Bogor menuju areal tambang Pongkor pada tahun 1992, masyarakat pun mulai tergiur dan mengalihkan mata pencaharian mereka menjadi penambang liar atau Penambang Tanpa Izin (Peti).

Menurut Pengkampanye dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Ki Bagus Hadi Kusuma, aktivitas penambangan liar memiliki resiko yang sangat tinggi. Baik dari sisi keselamatan diri si penambang maupun potensi pencemaran saat melakukan pengolahan emas terhadap kesehatan masyarakat.

“Lubang-lubang yang telah habis emasnya itu kan ditinggal begitu saja. Padahal itu sangat berbahaya, apalagi kalau nanti terjadi longsor,” ujar Bagus kepada Greeners saat ditemui di Kampung Nyuncung, Bogor pada Minggu (31/01) lalu.

Penambangan yang tidak sesuai aturan membuat tanah rawan longsor. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Penambangan yang tidak sesuai aturan membuat tanah rawan longsor. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Menurut salah seorang pengurus Pesantren Ekologi Biharul Ulum, Edi Samsi, pertambangan emas telah melahirkan mentalitas tambang yang membuat masyarakat menjadi rakus dan serakah tanpa mempedulikan lagi siapapun yang berada sekitarnya. Mentalitas ini adalah konsekuensi dari betapa keras dan kejamnya dunia penambang yang berhadapan dengan maut saat berburu emas di bongkahan bebatuan dan lubang-lubang yang sangat dalam.

Perubahan sosial-kultural masyarakat di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, misalnya, semakin banyaknya para Gurandil, sebutan masyarakat yang melakukan aktivitas pertambangan, telah menggeser nilai-nilai kemasyarakatan seperti hubungan sosial antar warga, sehingga masyarakat menjadi cenderung individualis dan kurang rukun.

Biaya hidup di area penambangan yang begitu tinggi karena masyarakat sudah terbiasa dengan ‘uang panas’ yang cepat didapat dari hasil tambang memperburuk situasi ini. Kebiasaan mendapatkan uang kontan secara instan membuat satu sama lain saling curiga dan menimbulkan konflik antar warga saat mereka tidak memperoleh emas sebagaimana yang diharapkan.

“Fakta yang menyesakkan lainnya adalah tingginya angka putus sekolah. Hal ini disebabkan karena orangtua mereka tidak mengizinkan untuk bersekolah karena lebih baik membantu orangtua mereka sebagai penambang,” jelas Edi melanjutkan.

(selanjutnya)

Top
You cannot copy content of this page