Pesepeda: Kami Memiliki Hak yang Sama di Jalan Raya

Reading time: 2 menit
Cyclist
Seorang pesepeda melintas di jalan raya. Ilustrasi: pexels

Jakarta (Greeners) – Keberadaan para pesepeda di jalan raya dianggap masih menjadi masalah. Perlakuan yang berbeda hingga diskriminasi tak luput diterima oleh para pengguna kereta angin itu. Hal lain juga terlihat dari fasilitas untuk para pengguna sepeda hingga implementasi regulasi yang ada. Dalam sebuah diskusi virtual bertajuk “Aman di Jalan Menularkan Kebiasaan Baik Bersepeda” yang diadakan pada Jum’at, (25/9) lalu, sejumlah pegiat sepeda memaparkan pendapat mereka.

Acara yang diselenggarakan melalui akun instagram triathlonseries.id itu, juga turut mengundang Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia,  Tabby Sumendap, Founder Women Cycling Community (WCC), dan pesepeda Fitra Tara Mizar. Mereka prihatin atas kurangnya edukasi dan minimnya fasilitas untuk bersepeda bahkan di saat masa pandemi seperti saat ini.

Baca juga: Komunitas Pesepeda Kritisi Regulasi Keselamatan di Jalan

Menurut Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia, edukasi yang dimaksud adalah edukasi kepada seluruh pengguna jalan. Menurutnya selama ini keberadaan pesepeda masih dianggap mengganggu pengguna jalan raya lainnya. Jika diibaratkan, kata dia, saat ini sepeda seolah-olah jadi penyakit dan masalah layaknya hama wereng. “Jadi, maksud saya, sepeda juga punya hak yang sama di jalan raya,” ucap Poetoet.

Pesepeda

Pesepeda melakukan sosialisasi dan kampanye edukasi dalam aksi “Yang Bersepeda Yang Istimewa”, di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Juli 2020. Foto: www.greeners.co/RidhoPambudi

Ia merasa masih banyak pihak yang menganggap sepeda hanya mengganggu. Padahal menurutnya kendaraan bermotor lebih berperan besar dalam persoalan yang terjadi di jalan raya. Tiga persoalan besar tersebut, kata Poetoet, yakni polusi udara, kemacetan, dan kecelakaan. Merujuk dari data yang ada, ia mengatakan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan hanya memiliki tiga hari saja yang dinyatakan bersih dari pencemaran udara.

“Kemudian tingginya angka kecelakaan lalu lintas, kalau saya merujuk data Korlantas Polri 2019, ada 23 ribu nyawa sia-sia di jalan raya, penyebabnya siapa? Dominan kendaraan bermotor. Jadi, sesungguhnya kendaraan bermotor ini jadi penyebab tiga persoalan tadi,” ucapnya.

Kondisi Jalan Belum Nyaman untuk Bersepeda

Adapun menurut Tabby Sumendap, waktu dan ruang gerak untuk bersepeda dinilai sangat terbatas ditambah dengan adanya pandemi. Ia menuturkan, saat ini para pesepeda hanya bisa gowes dalam jangka waktu satu jam dan hanya bisa dilakukan pada pagi hari.

Namun, waktu tersebut cukup rawan bagi para wanita. Sebagai pesepeda ia hanya bisa mengikuti peraturan yang telah ada. “Kondisi jalan di Jakarta belum sepenuhnya nyaman buat gowes, ya. Apalagi (sebagai) wanita, aman dan nyaman itu sangatlah penting buat kita,” kata dia.

Baca juga: Gowes Baraya Bandung: Pesepeda Butuh Jalur yang Aman dan Nyaman

Selain itu, menurut Tabby, jalur sepeda bukan satu-satunya persoalan yang dialami pesepda. “Memang benar jalur sepeda, cuma jalur sepeda itu banyak juga yang lainnya di dalam situ, jalanan juga tidak mulus, tapi ya yaudah ikutin aja apa adanya,” ucapnya.

Dengan adanya peraturan terbaru mengenai keselamatan pesepeda, mereka berharap regulasi tersebut bisa disampaikan dengan baik melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat akan lebih paham mengenai keberadaan sepeda yang seharusnya setara dengan alat transportasi lainnya.

Penulis: Ridho Pambudi

Editor: Devi Anggar Oktaviani

Top
You cannot copy content of this page