Anies Akui Penyebab Banjir Jakarta Bukan Kiriman dari Bogor

Reading time: 3 menit
Banjir Jakarta 25 Februari 2020
Warga terdampak banjir di Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 25 Februari 2020. Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

Jakarta (Greeners) – Hujan deras yang mengguyur kawasan ibu kota DKI Jakarta dan sekitarnya mengakibatkan sejumlah kawasan banjir. Hujan terjadi sejak Senin (24/02/2020) malam hingga Selasa (25/02/2020) pagi. Gubernur Anies Baswedan mengakui penyebab banjir berasal dari air lokal bukan kiriman dari Bogor.

Saat mengunjungi Pintu Air Manggarai, Anies mengatakan dari 2.738 RW yang ada di Jakarta, terdapat lebih dari 200 RW terdampak banjir. Ia menuturkan penyebabnya bukan karena banjir kiriman, tetapi intensitas hujan yang tinggi di wilayah lokal DKI Jakarta.

“Pada pukul 05.50 pagi terjadi puncak banjir dan masuk siaga 1. Pada pukul 09.30 sudah turun menjadi siaga 2. Air yang di Pintu Manggarai tidak banyak sampahnya artinya itu air lokal, bukan air kiriman. Sampai siaga 1 artinya cukup banyak. Sekarang konsentrasi kami pada penanggulangan bencana di masyarakat,” ujar Anies di Pintu Manggarai, Jakarta, Selasa (25/02/2020).

Baca juga: BIG: Banjir Akibat Implementasi Tata Ruang Tidak Sesuai

Anies mengatakan penanganan berfokus pada warga Jakarta yang terdampak dengan mendirikan posko kesehatan, bantuan logistik, dan pengungsian. “Ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak Desember mengatakan bahwa sampai dengan maret diperkirakan masih menghadapi cuaca yang ekstrem. Jadi saat ini kita berhadapan dengan kondisi banjir, kita fokus kesana. Nanti berdiskusi sebabnya, saya bagian bekerja utuk menuntaskan dampaknya,” ujar Anies.

Sementara, kondisi bendungan Katulampa, Bogor berada pada siaga 4 dengan tinggi air 60 sentimeter hingga siang pukul 13.00. Petugas BendungAN Katulampa, Andi Sudirman mengatakan belum tentu banjir Jakarta akibat kiriman dari Bogor. Ia memperkirakan membutuhkan waktu 10 sampai 12 jam agar air dari Bogor tiba di Jakarta.

“Kalau di Jakarta tidak hujan, air dari Katulampa biasanya langsung mengalir ke laut. Tapi kalau hujannya rata dari Bogor, Depok, hingga lokal Jakarta kemungkinan Jakarta tergenang. Apalagi kalau drainase tidak berjalan, resapan air kurang, air laut pasang terjadi banjirnya,” ujar Andi.

Banjir Jakarta 25 Februari 2020

Warga terdampak banjir di Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 25 Februari 2020. Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

Ketua Siaga Bencana (KSB) Kelurahan Petogogan Kebayoran Lama, Iwan Virgi mengatakan banjir selalu terulang. Ia menyampaikan seharusnya pemerintah terus berjuang dan berusaha untuk meminimalisir ketinggian air banjir. Menurut Iwan jika ketinggian air belum mencapai satu meter tidak ada warga yang mengungsi.

“Seperti banjir pada tahun baru kemarin, cukup banyak yang mengungsi karena air di beberapa titik ada yang hampir dua meter, kalau hari ini belum ada yang mengungsi,” ujarnya.

Iwan mengatakan penyebab banjir saat ini karena luapan Kali Krukut dan hujan lokal yang cukup lama. Kali Krukut yang tidak bertanggul, kata dia, memperparah luapan air ke permukiman warga.

“Seharusnya ada normalisasi di wilayah kami, tapi sampai saat ini belum dilakukan. Dari 2011 sampai 2016 kemarin kita sudah sosialisasi rencana normalisasi. Warga sudah sempat diundang terutama 24 titik yang berada di RW 02 sudah nego harga dan warga sudah setuju. Cuma saya enggak tau hambatanya di mana sampai saat ini sama Pemprov belum dilakukan pembayaran. Sebagian besar memang tidak ada masalah kalau ada ganti rugi,” ucapnya.

Baca juga: Adaptasi Banjir Harus Libatkan Masyarakat

BMKG menyebut hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya disebabkan oleh Siklon Tropis Ferdinand. Siklon menguat dan bergerak ke arah Barat Daya lalu mendorong pembentukan daerah pertemuan angin. Akibatnta terjadi pertambahan curah hujan di pesisir selatan Nusa Tenggara Barat dan Timur.

Sedangkan Ex-Siklon Tropis Esther bergerak ke arah Barat dan memengaruhi pertambahan kecepatan angin (>25 knots) di Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, Laut Banda bagian selatan dan Laut Arafura. Kedua siklon tersebut membuat hujan sedang hingga lebat di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Kepala Bidang Analisis Perubahan Iklim, Kadarsah mengatakan cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi beberapa hari terakhir secara dominan dipicu oleh faktor dinamika atmosfer skala lokal, yaitu adanya pembentukan pola konvergensi (pertemuan massa udara) dan kondisi labilitas udara yang kuat di wilayah Jawa bagian barat, termasuk wilayah Jabodetabek.

“Pola konvergensi ini dipengaruhi oleh munculnya 2 siklon tropis, yakni Siklon Tropis Ferdinand dan Ex-Siklon Tropis Esther. Serta hujan lebat masih akan terus terjadi hingga 02 Maret 2020,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih dan Ridho Pambudi

Top