BIG: Banjir Akibat Implementasi Tata Ruang Tidak Sesuai

Reading time: 3 menit
Banjir Jabodetabek
Perubahan lahan atau ruang tanpa memperhitungkan penyerapan air merupakan faktor penyebab terjadinya banjir. Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Jakarta (Greeners) – Hujan ekstrem yang terjadi sejak malam pergantian tahun baru 2020 mengakibatkan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Permukiman dan fasilitas umum seperti Kereta Rel Listrik (KRL), bandara, hingga jalan tol lumpuh terendam air. Penyebabnya bukan hanya dipengaruhi tinggi debit air hujan, tetapi juga diperparah oleh Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT) wilayah yang buruk.

Peneliti Geografi dan Tata Ruang Badan Informasi Geospasial (BIG) Yosef Prihanto mengatakan peringatan dini potensi hujan ekstrem dan banjir sudah diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Namun, antisipasinya belum dilakukan dengan baik.

“Kita sudah memiliki kebijakan tata ruang yang baik, memperhatikan DDDT, tapi implementasinya tidak sesuai dengan rencana yang diterapkan. Ada kepentingan pribadi, ekonomi, politik, dan kelompok yang menyebabkan pemanfaatan ruangnya meleset. Banjir yang hadir setiap tahun ini seharusnya bisa diantisipasi dengan baik melalui kebijakan tata ruang yang sudah dibuat,” ujar Yosef saat dihubungi Greeners, Kamis, (02/01/2020).

Baca juga: Penyebab Banjir di Sentani Bukan Hanya Faktor Alam

Menurut Yosef, pembangunan permukiman yang memperkeras permukaan juga berkontribusi terhadap peningkatan laju aliran (run off) air hujan. Sehingga air mengalir ke wilayah rendah dengan cepat dan menyebabkan peningkatan volume secara drastis. “Kebanyakan permukiman kita itu memilih lokasi di mana tempat bermuaranya air. Jadi, tidak heran kalau pada musim hujan atau banjir banyak perumahan yang terendam,” ucapnya.

Berkurangnya tampungan sementara akibat pendangkalan, kata Yosef, juga menjadi penyebab terjadinya banjir di Jabodetabek. Faktor penyebab lain di antaranya, saluran air yang tidak dirawat dan terhalang akibat aktivitas pembangunan, perubahan pemanfaatan lahan atau ruang tanpa memperhitungkan penyerapan air, perilaku maupun persepsi masyarakat tentang lingkungan, air, serta dampak perubahan iklim yang menyebabkan perubahan pola hujan secara global.

Banjir Jabodetabek

Pembangunan harus memperhatikan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDT-LH) Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Adapun Kepala Divisi Tata Kelola Hutan dan Lahan Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) Isna Fatimah mengatakan, secara hukum dan kebijakan, pembangunan harus memperhatikan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDT-LH) yang berbasis inventarisasi hingga tingkat ekoregion.

“Salah satu basis ekoregion adalah Daerah Aliran Sungai (DAS). Jadi, penataannya dilihat dari hulu ke hilir. Bagaimana kemampuan daya dukung dan daya tampung DAS. Dari situ menjadi basis untuk membuat rencana tata ruang. Banjir merupakan salah satu dampak nyata dari penataan ruang yang tidak memperhatikan DDDT,” ujar Isna.

Kewenangan pemerintah pusat dan daerah juga harus sinkron. Lemahnya political will, kata Isna, mengakibatkan anggaran DDDT terlalu sedikit. Biaya DDDT dianggap terlalu besar karena berbasis pada inventarisasi lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Potensi Hujan Lebat Terjadi Hingga Pekan Depan

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengumumkan, perkembangan prediksi cuaca dan potensi bencana dalam dua pekan ke depan patut diwaspadai. Aliran udara basah dari Timur Afrika diperkirakan menuju wilayah Indonesia. Akibatnya, potensi hujan ekstrem dapat terjadi pada tanggal 10 sampai 15 Januari pekan depan. “Siklus berulang pada akhir Januari hingga pertengahan Februari 2020,” ucap Dwikorita.

Menurut prediksi BMKG, wilayah di Indonesia yang akan terdampak hujan dengan intensitas tinggi hingga ekstrem meliputi Sumatera bagian tengah, Jawa, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan hingga tenggara. Masyarakat dihimbau untuk mempersiapkan segala sesuatu sebagai antisipasi bencana yang mungkin terjadi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, ketinggian banjir di wilayah Jabodetabek berkisar 30 hingga 200 sentimeter. Dengan jumlah titik sebanyak 169 buah yang tersebar di seluruh wilayah Jabodetabek dan Banten. Mayoritas titik banjir berada di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah 97 titik. Sementara di DKI Jakarta sebanyak 63 titik dan di Banten 9 titik. Sedangkan kedalaman banjir tertinggi sebesar 2,5 meter terjadi di Perumahan Beta Lestari, Jatirasa, Jatiasih, Kota Bekasi. Sebanyak 49 titik mengalami banjir setinggi 1 sampai 2 meter.

Penulis: Dewi Purningsih

Top