Penurunan Muka Tanah Perparah Rob dan Banjir Semarang

Reading time: 2 menit
Banjir kembali melanda Semarang. Selain rob, penurunan muka tanah dan cuaca ekstrem memperparah banjir tersebut. Foto: BNPB

Jakarta (Greeners) – Hujan deras dan banjir rob pesisir memperparah banjir Semarang sejak Jumat (30/12) hingga pekan pertama di awal tahun 2023. Selain itu, diperkirakan kenaikan pasang air laut ekstrem terjadi imbas dari krisis iklim.

Banjir Semarang ini pun melumpuhkan aktivitas masyarakat. Lima hari berlalu, banjir di Kota Lumpia ini tak kunjung surut. 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan terkait ancaman banjir rob pada 1 hingga 15 Januari 2023 di wilayah pesisir Indonesia, termasuk Semarang. Peringatan ini menyusul fenomena bulan purnama 6 Januari 2023 yang memicu pasang air laut meningkat.

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo mengimbau agar masyarakat siaga dan waspada terhadap dampak pasang maksimum air laut.

“Potensi banjir rob di sejumlah wilayah berbeda-beda. Untuk pesisir utara Jawa Tengah akan berlangsung 1-2 Januari dan 6-15 Januari 2023,” katanya kepada Greeners, Kamis (5/1).

Sebaran Potensi Banjir Rob 

BMKG juga sudah mengeluarkan peringatan potensi banjir rob di pesisir Sumatra Barat, Bengkulu, Kepulauan Riau, Banten, Utara DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Selanjutnya pesisir Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat. Kemudian, pesisir Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku dan pesisir Papua Selatan.

Banjir di wilayah Semarang juga tak lepas dari oleh runtuhnya tujuh titik tanggul di Pantai Marina, Semarang sejak Kamis 29 Desember 2022 lalu. Ketinggian air mencapai 80 sentimeter. “Sehingga saat pasang, air laut langsung masuk ke daratan,” kata Eko.

Potensi banjir rob akan semakin parah jika penurunan tanah terus terjadi karena eksploitasi air tanah. Foto: Shutterstock

Pemicu Banjir Semarang

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Yoga menyebut, faktor penurunan muka air tanah di daerah pesisir Semarang sangat berdampak signifikan terhadap fenomena banjir rob ini.

“Semarang mengalami banjir rob dengan penyebab tak berbeda jauh dengan Jakarta yaitu penurunan muka tanah di pesisir pantai. Selain itu kenaikan muka air laut serta hujan ekstrem dengan intensitas tinggi,” kata Nirwono.

Ia menyebut, rata-rata penurunan muka tanah di pesisir pantai Semarang mencapai 4-6 sentimeter per tahun. Kondisi semakin parah dengan pendangkalan sungai sehingga kapasitasnya menjadi terbatas. Apalagi ada sembilan sungai yang melalui Kota Semarang.

Nirwono menyorot pentingnya konservasi hutan lindung sebagai sumber mata air atau sungai di hulu pegunungan. “Selain sebagai pengatur tata air hidrologis yang baik, hutan lindung bisa mencegah banjir. Penyerapan air ke dalam tanah lebih optimal,” imbuhnya.

Masyarakat juga sebaiknya tak lagi menyedot air tanah sehingga memicu penurunan muka tanah di wilayah Semarang. Penting pula merestorasi kawasan pesisir dan reforestasi hutan mangrove.

Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan banjir Semarang karena perubahan iklim global sehingga memicu intensitas hujan lebat. Terlebih, curah hujan mencapai 150 milimeter yang secara kalkulasi merupakan gabungan dari hujan selama beberapa hari di Kota Semarang. Hujan satu bulan namun turun dalam waktu sehari.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page