Batik Ramah Lingkungan dengan 5R

Reading time: 3 menit
Batik Ramah Lingkungan dengan 5R

Jakarta (Greeners) –  Batik merupakan salah satu ikon budaya Indonesia, yang saat ini telah dikenal hingga mancanegara, bahkan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Beragam gaya, corak dan warna batik mudah ditemui dan tidak lagi hanya dipakai untuk momen tertentu oleh orang-orang tua, tetapi generasi muda pun bangga mengenakan batik. Namun di sentra-sentra kerajinan batik seperti Jawa Tengah, limbah dari pabrik yang memproduksi batik mencemari sungai. Pencemaran terjadi karena industri batik masih menggunakan bahan kimia terutama untuk pewarnaan kain.

Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan 53,4 persen limbah rumah tangga dibuang ke sungai, ditambah kontribusi besar dari limbah industri yang memperparah pencemaran. Untuk mengurangi pencemaran sungai maupun kerusakan lingkungan secara umum, dibuat inisiatif memproduksi batik dengan konsep produksi bersih dan memanfaatkan teknologi tepat guna. Inisiatif tersebut dimulai oleh Ekonid, kamar dagang Jerman bersama-sama dengan Komisi Uni Eropa, merangkul para pengrajin batik. Senior Executive Business Development Ekonid Amalia Yaksa Parijata mengatakan, inisiatif yang diberi nama Clean Batik Initiative tersebut dimulai pada 2010 dengan merangkul 100 Industri Kecil Menengah (IKM) di Yogyakarta dan Klaten.

Amalia menjelaskan, konsep produksi bersih dengan menerapkan teknologi tepat guna, misalnya dengan kompor listrik dimana penghematannya bisa mencapai 95 persen dibandingkan kompor minyak dan kompor gas. “Jadi disini kita bisa efisiensi energi dan biaya. Selain itu juga menggunakan blower untuk melarutkan sisa lilin biasanya dengan kayu bakar dikipas manual pembakarannya tidak efektif,” katanya.

Dengan blower efisiensi biaya sampai 48 persen dan menghemat kayu bakar serta tenaga juga tidak menghasilkan asap dan tidak ada arang sisa pembakaran karena pembakarannya sempurna. Untuk penerangan juga diterapkan lampu botol plastik tenaga surya yang hanya menggunakan botol bekas minuman ringan diisi klorin dan diberi air. Botol diletakkan di atap dan langsung menghasilkan pendar cahaya yang setara dengan 55 watt.

5R

Menurut Amalia, dalam memproduksi batik ramah lingkungan juga diterapkan prinsip 5R yaitu Rethink (berpikir ulang), Reduce (mengurangi), Reuse (memanfaatkan kembali bahan bekas), Recovery (pemulihan kembali) dan Recycle (daur ulang). “Rethink maksudnya kalau kita mau membuat batik kita pikir dulu seberapa banyak kain dan bahan yang akan dipakai, kalau batik tradisional kan tidak begitu,” ujar dia.

Reduce, produksi bersih sudah mengurangi penggunaan air dengan menerapkan teknologi tepat guna. Reuse, menggunakan kembali lilin yang sudah dipakai. Recovery, misalnya lilin yang sudah tidak terpakai bisa digunakan kembali dan Recycle, menggunakan pewarna alami tanpa merusak tanaman yang masih tumbuh tapi memanfaatkan sampah.

Ia mencontohkan, seperti di Cirebon yang mempunyai banyak industri furniture dan menghasilkan limbah serutan kayu. Begitu juga di Pekalongan banyak supermarket yang membuang buah yang sudah busuk. “Limbah kayu dan kulit buah seperti manggis dan jengkol semuanya kita manfaatkan untuk pewarna alami,” katanya seraya menambahkan disetiap daerah ditonjolkan kearifan lokal untuk pewarnaan batik sehingga menjadi khas. Selain menggunakan teknologi ramah lingkungan, proses membatik tidak berbeda dengan pembuatan batik secara tradisional. Namun karena menggunakan pewarna alam dengan warna yang lembut maka pencelupannya lebih banyak dari pada pewarna kimia.

Dari segi harga, batik yang memanfaatkan konsep produksi bersih dengan batik tradisional tidak berbeda jauh bahkan bersaing karena bisa mengurangi biaya produksi. Tapi dari segi teknik dan waktu yang dihabiskan serta pembuatan dengan tangan, sudah sepantasnya dihargai dengan harga yang layak. “Permintaannya banyak karena ada beberapa orang yang suka warna alami, biasanya orang asing. Karena mereka selain peduli dengan lingkungan dan setelah tahu prosesnya batik dibuat dengan tangan mereka lebih menghargai,”  kata Amalia.

Dia menambahkan, Ekonid selain melakukan pendampingan dan pelatihan juga membuka pasar lewat pameran yang digelar hingga ke luar negeri. Selama tiga tahun berjalan, produksi bersih sudah diterapkan di 508 IKM terutama di Pulau Jawa, juga di Tarakan Kalimantan Timur dan Makassar Sulawesi Selatan.

Kaya Pewarna Alami

Penggunaan warna alam sebenarnya sudah digunakan dalam proses membatik sejak dulu. Namun seiring perkembangan teknologi dan munculnya pewarna kimia pengrajin batik mulai beralih ke pewarna kimia karena lebih cepat dan mudah. “Pewarna batik alami dari tumbuhan sudah dikenal sejak dulu karena kita kaya akan keanekaragaman hayati. Tapi semakin kesini ancaman terhadap keanekaragaman hayati semakin tinggi,” kata Agro Ekosistem Officer Yayasan Kehati Puji Sumedi.

Dia mencontohkan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami dan ada disekitar kita seperti mangrove, jengkol, secang, rambutan, mengkudu, angsana dan mangga. Bagian-bagian yang dimanfaatkan untuk pewarna alami mulai dari buah, daging dan biji, kulit, kayu, daun dan akarnya.

Saat ini Kehati menjalin kemitraan dengan kelompok masyarakat mendorong agar memanfaatkan pewarna alami seperti di Brebes dan Sumba. Selain mendorong memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk produk yang ramah lingkungan, Kehati juga mengajak masyarakat untuk menanam kembali tanaman-tanaman yang bermanfaat dan mulai langka.

Top