Bencana nan Sempurna

Reading time: 5 menit

Nelayan hanya salah satu contoh rentannya manusia tehadap perubahan iklim, beberapa berita dari pertengahan tahun ini menunjukkan bahwa sektor pertanian juga terpapar dampak hebat dari perubahan iklim ini. Saat musim hujan berlalu begitu cepat dengan intensitas dan frekuensi yang tak teratur. Musim tanam pun menjadi lebih pendek dari biasanya. Petani yang mengandalkan pada curah hujan (tadah hujan) terpaksa merelakan petak-petak sawah tak terisi tunas-tunas padi atau tanaman lain.

Lalu kekeringan yang menerpa pada paruh kedua tahun ini menyajikan pemandangan yang tak kalah mengenaskan: gagal panen terjadi. Daftarnya pun begitu panjang, ketika di beberapa daerah ratusan bahkan ribuan hektar sawah puso karena kekeringan. Seperti yang terjadi di beberapa wilayah Jawa Tengah yang pada pertengahan Juli saja sudah kehilangan hasil panen dari hampir dua ribu hektar sawah. Begitu juga di daerah lain seperti di Rokan Hulu (Riau), di  Cilegon (Banten), dan banyak lagi.

Belum lagi semua ini berakhir. El Nino mulai menampakkan bibit-bibitnya yang menurut para ahli klimatologi dan meteorologi akan terlahir pada akhir tahun ini. “ Apakah ini normal?” Tanya saya pada Armi, “ Tidak” tegasnya, “ Memang El Nino memiliki siklus, namun yang sekarang hadir lebih cepat.” El Nino biasanya terjadi dengan siklus 3-7 tahun, tapi sekarang menjadi 2-5 tahun.

El Nino terkadang juga menjadi pesakitan, ketika disulap menjadi kambing hitam karena dianggap sebagai penyebab kebakaran hutan dan rawan pangan. Bencana seperti kebakaran hutan dan banjir memang tergantung pada kenaikan suhu dan curah hujan, tetapi dengan perilaku manusia yang memahami efek dari tingkah laku seraya ditingkahi dengan upaya mitigasi dan adaptasi yang tepat, tentunya dapat mengurangi dampak yang lebih besar.

Top
You cannot copy content of this page