Tanpa Pembatasan, Taman Nasional Komodo Bakal Kehilangan Rp 11 Triliun

Reading time: 3 menit
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong menyebut TN Komodo harus menjadi pariwisata berkelanjutan. Foto: KLHK

Jakarta (Greeners) – Taman Nasional Komodo (TN) Komodo butuh kebijakan pembatasan kunjungan untuk mencegah rusaknya ekosistem. Selain itu, TN Komodo masuk prioritas pariwisata berkelanjutan. Tanpa pembatasan, TN Komodo akan kehilangan nilai ekosistemnya mencapai Rp 11 triliun.

Jumlah kunjungan wisatawan ke TN Komodo bakal dibatasi per 1 Agustus 2022. Hal ini karena tren wisatawan meningkat setiap tahun. Berdasarkan catatan TN Komodo, tren peningkatan terjadi sejak tahun 2016 hingga 2019.

Pada tahun 2016 jumlah kunjungan wisatawan mencapai 107.711 orang, tahun 2017 sebanyak 125.069 dan tahun 2018 tercatat 159.217 wisatawan. Pada 2019 jumlah kunjungan mengalami puncaknya yaitu sekitar 221.000 kemudian turun karena adanya pandemi.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong menyatakan, pembatasan kunjungan ini agar tidak sekadar merusak komodonya, tapi ekosistem di dalamnya secara berkelanjutan.

“Sehingga ke depannya dengan adanya sistem kuota dan online yang kita terapkan bisa mendukung daya dukung dan daya tampung Taman Nasional Komodo itu sendiri,” katanya dalam acara konferensi pers Penguatan Fungsi Taman Nasional Komodo sebagai Upaya Mempertahankan Nilai Jasa Ekosistem, di Jakarta, Senin (27/6).

Pembatasan Kunjungan Bukan Berarti Menurunkan Pendapatan TN Komodo

Ketua Tim Ahli Kajian Daya Dukung Daya Tampung Berbasis Jasa Ekosistem di Pulau Komodo, Pulau Padar dan Kawasan Perairan Sekitarnya Irman Firmansyah juga sependapat. Menurutnya, kajian daya dukung dan daya tampung berbasis ekosistem di TN Komodo memperhatikan banyak variabel. Termasuk perubahan iklim, perluasan pemukiman penduduk, kapasitas pengunjung termasuk ketersediaan air dan pengelolaan sampah.

“Kita tak sekadar memastikan bahwa populasi komodonya masih ada, tapi juga bagaimana kenyamanan dan keamanan mereka ke depan,” imbuhnya.

Berdasarkan kajian, terjadi peningkatan suhu di sekitar Pulau Komodo dari 27,4 derajat Celcius pada tahun 2015. Perkiraannya meningkat mendekati 28 derajat Celcius pada tahun 2045 nanti. Demikian juga pada jumlah luasan lahan ideal yang mengancam keberlanjutan ekosistem komodo.

Saat ini, luas lahan yang digunakan yaitu 9,91 hektare. Tapi Irman menyebut seiring dengan banyaknya jumlah penduduk maka pada tahun 2045 nanti meningkat menjadi 26 hektare untuk jadi pemukiman penduduk.

Sementara berdasarkan kajian, jumlah kunjungan wisatawan ke taman nasional tersebut idealnya maksimal sekitar 5 persen dari total luas keseluruhan taman nasional.

“Batas ideal tim peneliti kami kurang lebih dari 5 persen, yaitu 219.00 dan batas maksimal tertinggi adalah 292.000 kunjungan per tahun,” ungkapnya.

Irman menyebut, pembatasan jumlah kunjungan krusial menilik dari dampak kerugian ekosistem yang hilang. Bila kunjungan melebihi 292.000 pengunjung per tahun maka kerugian mencapai hampir Rp 11,1 triliun. Sementara jika ada pembatasan maka nilai manfaat jasa ekosistem yang hilang hanya Rp 10,39 miliar.

Kendati demikian, bukan berarti dengan kebijakan pembatasan ini akan menurunkan pendapatan TN Komodo. Irman menyebut, seiring dengan pembatasan maka seharusnya semakin ada upaya TN Komodo untuk menarik pengunjung.

“Misalnya dari yang pengunjung ingin stay dua hari menjadi tiga hari. Ini pintar-pintarnya kita menarik dalam pengemasannya,” ujar dia.

Wakil Menteri LHK Alue Dohong bersama sejumlah narasumber berfoto bersama usai konferensi pers terkait TN Komodo. Foto: KLHK

Pembelian Tiket akan Berbasis Online

Koordinator Pelaksana Program Penguatan Fungsi, Carolina Nog menekankan, pentingnya pembelian tiket melalui reservasi online untuk mengetahui jumlah dan karakteristik pengunjung.

“Kami juga saat ini sedang melakukan testing untuk sistem manajemen kunjungan dan sebagainya di Labuan Bajo menuju kawasan TN Komodo,” katanya.

Sementara Kepala Taman Nasional Komodo, Lukita Awang menyatakan, jumlah populasi komodo saat ini dalam kondisi stabil. Populasi biawak komodo mengalami peningkatan sedikit pada tahun 2018 hingga tahun 2021, 2.897 ekor (2018 ), 3.022 ekor (2019), 3.163 ekor (2020) dan 3.303 ekor (2021).

Lukita menyebut, tren peningkatan maupun penurunan komodo dipengaruhi beragam hal, mulai dari rantai makanan, hingga habitatnya. TN Komodo tak sekadar memastikan populasi komodo, tapi juga mempertahankan jenis komodo di setiap wilayah.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page