3.964 Rumah di Kabupaten Ketapang Terendam Banjir

Reading time: 2 menit
Sebanyak 3.964 unit rumah terendam banjir di Kabupaten Ketapang. Foto: BPBD Ketapang
Sebanyak 3.964 unit rumah terendam banjir di Kabupaten Ketapang. Foto: BPBD Ketapang

Jakarta (Greeners) – Bencana banjir telah merendam delapan desa Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Sebanyak 3.964 unit rumah pun ikut terendam banjir. Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Ketapang sejak Rabu (23/11) menyebabkan meluapnya Sungai Pawan ke pemukiman warga.

Hingga Senin (27/11) pagi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ketapang melaporkan air masih menggenangi wilayah Desa Sandai hingga ketinggian 60 cm. Adapun titik lokasi banjir berada di Desa Alam Pakuan, Demit, Istana, Muara Jekak, Penjawaan, Petai Patah, Randau Jungkal, dan Sandai.

BACA JUGA: Banjir di Samosir, Satu Warga Dilaporkan Hilang

Genangan air menyebabkan akses mobilitas warga terganggu. Jalan utama desa tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan empat. Sebanyak 17.407 jiwa pun telah terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ketapang Yunifar Purwantoro menjelaskan tidak ada warga yang mengungsi dalam kejadian banjir kali ini. Warga lebih memilih bertahan di rumah masing-masing.

“Banjir seperti ini sudah berulang kali terjadi sehingga warga sudah bisa mengkondisikan diri sendiri. Namun, warga tetap butuh pasokan makanan, sementara akses jalan putus,” terang Yunifar.

Sebanyak 3.964 unit rumah terendam banjir di Kabupaten Ketapang. Foto: BPBD Ketapang

Sebanyak 3.964 unit rumah terendam banjir di Kabupaten Ketapang. Foto: BPBD Ketapang

Akibat Banjir, Prasarana Umum Terendam

Akibat banjir, sejumlah prasarana umum terendam. Di antaranya 3 unit pasar, 12 unit sarana pendidikan, 6 unit sarana kesehatan, dan 15 unit sarana ibadah. Selain itu, 2 unit kantor desa, 1 unit kantor bumdes, dan 2 unit gedung lainnya pun ikut terendam. Aktivitas sekolah anak-anak untuk sementara waktu pun diliburkan.

BPBD Kabupaten Ketapang berharap ada bantuan tambahan sarana perahu untuk mobilitas dan evakuasi warga yang membutuhkan serta bantuan logistik seperti makanan.

“Kami membutuhkan tambahan perahu, tapi bukan perahu lipat karena mudah patah di medan seperti di sini,” ungkap Yunifar.

Cuaca Ektrem Berpotensi Meningkat

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam keterangan rilisnya memperingatkan kewaspadaan akan peningkatan potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan. Khususnya pada periode 25 November 2023 hingga 1 Desember 2023.

BACA JUGA: Bencana Hidrometeorologi Masih Mengintai Indonesia

BMKG juga telah memonitor perkembangan kondisi cuaca dan iklim di seluruh wilayah Indonesia yang saat ini menunjukkan signifikansi dinamika atmosfer. Hal itu dapat berdampak pada potensi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Misalnya, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini mulai memasuki wilayah Indonesia bagian barat. Fenomena tersebut diprediksikan dapat terus aktif di sekitar wilayah Indonesia hingga periode Dasarian I Desember 2023. Itu bisa berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top