BNPB Padamkan Kebakaran Hutan di Sumsel Dengan Water Bombing

Reading time: 1 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa upaya mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karlahut) di Sumatera Selatan (Sumsel) melalui Tehnik Modifikasi Cuaca (TMC) masih terkendala oleh buruknya kondisi langit dan cuaca.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan untuk mengatasi masalah kondisi langit tersebut, BNPB juga melakukan upaya lain dalam mengatasi kabut asap dan kebakaran hutan di beberapa wilayah di Indonesia.

“Selain hujan buatan kita juga melakukan water bombing atau pemadaman di darat,” ujar Sutopo saat dikonfirmasi oleh Greeners, Jakarta, Selasa (07/10).

Sutopo menerangkan bahwa water bombing dilakukan untuk membantu efektifitas dari hujan buatan atau rekayasa cuaca. Karena, lanjutnya, untuk melakukan hujan buatan tidak bisa sembarangan, memerlukan syarat seperti harus ada awan-awan potensial atau yang biasa disebut dengan awan cumulus untuk disemai dan memunculkan hujan.

“Jika tidak ada awan maka tidak bisa dilakukan hujan buatan. Sedangkan awan tidak bisa diciptakan,” jelasnya.

Dia mengakui bahwa rekayasa cuaca memang tak mudah dilakukan di tengah kabut asap yang tebal karena lapisan asap yang menghambat pertumbuhan awan.

“Butir-butir asap itu menyerap uap air di atmosfer sehingga sulit membentuk awan,” lanjutnya.

Sedangkan untuk cara kerja TMC sendiri ialah dengan melakukan penyemaian awan (Cloud Seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat menyerap air. Sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.

BNPB bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sendiri telah memulai TMC di Sumsel sejak 24 September lalu dengan menggunakan pesawat jenis Hercules milik TNI AU. Puluhan ton garam ke udara juga telah ditebar ke awan yang berpotensi memunculkan hujan.

(G09)

Top