Green Is The New Black

Reading time: 5 menit

Al Gore pasti senang dengan pesatnya perhatian pada isu lingkungan yang terjadi secara global sekarang ini. Mungkin dia tidak menyangka atau mungkin juga dia berkata bahwa hal itu memang sudah seharusnya. Yang jelas, sejak kemunculan film dokumenter yang dibawakannya tentang pemanasan global bertajuk An Incovenient Truth, mata dunia seolah langsung menoleh secara serempak pada kondisi Bumi yang semakin memprihatinkan.

Oleh: Dewi Irma | Artikel ini diterbitkan pada edisi 02 Vol. 4 Tahun 2009

 

Al Gore menuai cerahnya lampu sorot, meski dia bukan orang pertama yang bicara hal tersebut. Jauh-jauh hari telah banyak pakar lingkungan berteriak tentang kondisi lingkungan yang semakin lama semakin rusak. Terlepas dari anggapan bahwa mantan wapres Amerika itu tak lebih dari bermanuver politik, tetapi patut diakui bahwa Al Gore sukses mengangkat isu pemanasan global menjadi tren di dunia. Isu pemanasan global semakin dipandang serius sehingga sejumlah pemimpin dunia pun menyikapinya bersama pada konferensi perubahan iklim sejagat (UNFCCC) di Bali pada Desember 2007 lalu. Booom! Sejak itu, resmilah topik pemanasan global menjadi buah bibir di mana-mana.

Siapa yang peduli dengan organic food pada masa lalu? Namun, kini sejumlah retail berlomba-lomba menjualnya. Coba tengok sejumlah majalah, mulai majalah politik hingga majalah fesyen kini menyediakan rubrik khusus tentang lingkungan. Event-event sekarang ini pun ramai mengangkat slogan menjaga lingkungan, misalnya berupa aksi menanam pohon bersama, pembagian bibit, hingga penerapan konsep zero waste event.

Dari mulai politisi hingga artis urun partisipasi mengenai isu yang satu ini. Di luar negeri ada Bono U2 yang terkenal dengan aktivitas kepedulian lingkungannya. Di tingkat lokal, kita punya musisi Glenn Fredly yang membuat lagu tentang ajakan penyelamatan Bumi hingga menggagas konser besar bertema Soul for Indonesian Earth pada 2007 lalu.

Dari perspektif bisnis, “hijau” seolah menjadi kata kunci sebuah ceruk bisnis baru yang potensial. Para penggila fesyen pun kini punya lebih banyak pilihan dengan adanya eco-fashion. Sekadar contoh, ada desainer Anya Hindmarch dengan tas “I’m Not a Plastic Bag” yang fenomenal. Ada Adidas yang mengeluarkan koleksi sepatu, jaket, dan kaus yang terbuat dari material ramah lingkungan seperti tali rami, bambu, dan gabus. Levi’s pun berkiprah serupa pada produk jinnya. Di dalam negeri, sejumlah desainer ternama menggelar Fashion First di Senayan City, Jakarta, yang menerapkan mode ramah lingkungan.

“Booom! Sejak itu, resmilah topik pemanasan global menjadi buah bibir di mana-mana.”

Top
You cannot copy content of this page