Gunakan Peluang Kurikulum Merdeka Belajar untuk Kenalkan Alam

Reading time: 2 menit
Kurikulum Merdeka Belajar buka ruang siswa belajar langsung kenali alam. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Kesadaran dan kepekaan anak terhadap potensi lingkungan alam untuk mengantisipasi buta flora hendaknya lingkungan sekolah tanamkan sejak dini. Salah satunya lewat kurikulum Merdeka Belajar.

Kurikulum Merdeka Belajar yang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) canangkan menjadi momentum agar guru bisa lebih leluasa memasukkan tentang materi potensi lingkungan alam.

Buta flora merujuk pada ketidakmampuan untuk memperhatikan pentingnya tumbuhan dan tanaman dalam biosfer kehidupan. Sebagai unit terkecil, kepekaan terhadap lingkungan sekitar seperti rumah dan lingkungan sekolah perlu anak-anak dapatkan agar tak alami buta flora.

Tanaman dan tumbuhan memiliki peranan penting untuk seluruh kehidupan makhluk hidup di dunia. Tak sekadar sumber pangan, tapi sebagai penyerap karbon dioksida yang mengubahnya menjadi oksigen sehingga membuat udara lebih bersih.

Pengamat pendidikan dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Jejen Musfah mengatakan, kurikulum merdeka berpusat pada minat dan bakat siswa dengan model pembelajaran berorientasi project based learning. Dengan cara ini, sambung dia anak dapat belajar secara langsung dan nyata terkait dengan lingkungan.

Misalnya, pada jenjang Sekolah Dasar (SD) yang saat ini memadukan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dapat memicu anak untuk mengenali, mengelola lingkungan alam dan sosial dalam satu kesatuan.

“Kurikulum itu meliputi kurikuler, mata pelajaran, kokurikuler, ekskul dan pembiasaan. Isu ini bisa disisipkan dalam keempat hal ini,” katanya kepada Greeners, Kamis (8/9).

Kurikulum Merdeka Belajar Ajak Sesuaikan Kebutuhan Siswa

Kurikulum Merdeka Belajar juga lebih fleksibel dan memberikan keleluasaan pada guru untuk menggunakan berbagai perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.

Guru memiliki peranan utama untuk memastikan agar siswa bisa praktik menerapkan pembelajaran yang nyata. Sementara guru juga diberikan kebebasan agar siswa menyukai pembelajaran terkait lingkungan sesuai minatnya.

Selain itu, sekolah juga punya kebebasan untuk menentukan atau menyusun kurikulum sesuai dengan situasi atau kondisi sekolahnya masing-masing. Meski pemerintah memberikan tiga pilihan kurikulum yang bisa sekolah pilih, tapi sekolah didorong untuk mengimplementasikan kurikulum merdeka.

“Satuan pendidikan dapat mengimplementasikan kurikulum merdeka secara bertahap sesuai kesiapan masing-masing,” imbuhnya.

Jejen menilai, kurikulum merdeka juga memberi kesempatan bagi siswa untuk memilih kelompok mata pelajaran sesuai minat, bakat dan aspirasinya di fase F (kelas XI dan XII) yang menekankan berbasis project. Dalam hal ini, guru dan siswa memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengeksplor isu-isu lingkungan.

Kegiatan Project Child Indonesia bersama anak-anak untuk kenali alam dan lingkungan. Foto: Project Child Indonesia

Penguatan Kompetensi Guru

Selain itu, ia menyebut pentingnya pengenalan siswa ke tempat-tempat yang berkaitan dengan konservasi alam, seperti taman nasional, kebun raya, hingga komunitas atau organisasi pecinta alam. Hal ini penting ada di kurikulum Merdeka Belajar.

Selain menanamkan kesadaran akan pentingnya potensi alam, kegiatan ini dapat menjadi pembiasaan siswa untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. “Seperti pembiasaan pemilahan sampah dan menjaga serta memelihara lingkungan yang hijau, bersih dan nyaman,” ungkapnya.

Jejen menyebut, sebenarnya materi kurikulum terkait dengan lingkungan sudah banyak ada di sekolah. Masalahnya, masih banyak guru yang tak mampu mengaitkan materi itu ke dalam kehidupan sehari-hari. “Guru perlu dibekali dengan cara-cara menerapkan ilmu tentang lingkungan ini ke dalam pembelajaran,” imbuhnya.

Ia mendorong adanya pelatihan dan penguatan khusus pada para guru agar memiliki kemampuan untuk menanamkan edukasi terkait potensi lingkungan sekitar pada para siswa.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page