Harga Tiket Jadi Rp 3,75 Juta, Pengelola TN Komodo Jamin Transparansi

Reading time: 3 menit
Komodo merupakan salah satu satwa langka yang pemerintah lindungi. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Publik terkejut dengan kebijakan kenaikan harga tiket masuk Taman Nasional (TN) Komodo yang fantasis mencapai Rp 3,75 juta per orang. Desakan untuk membatalkan kenaikan harga tiket tidak berhasil menunda keputusan yang sudah pasti tersebut.

Dengan alasan konservasi, wisatawan harus berani merongoh kocek lebih dalam. Meski begitu pengelola pun menjamin dana dari kenaikan harga tiket akan mereka kelola secara transparan.

Koordinator Pelaksana Program Penguatan Fungsi Pulau Komodo, Pulau Padar dan Kawasan Perairan Sekitarnya Carolina Noge memastikan, dana dari kenaikan tarif tiket TN Komodo akan mereka kelola secara transparan.

Selain untuk memastikan konservasi dan optimalisasi layanan, pengelolaan dana dilakukan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Nusa Tenggara Timur (NTT) sehingga bisa alirannya bisa publik telusuri.

“Kalau terjadi apa pun di dalamnya perlu diingat bahwa BUMD adalah objek pemeriksaan. Baik BPK maupun inspektorat bisa masuk dan mengaudit. Jadi tidak ada ketidaktransparan dalam program ini,” katanya dalam konferensi pers Taman Nasional Komodo: Peluncuran Sistem Wildlife Komodo, baru-baru ini.

Ia juga menyatakan, BUMD Provinsi NTT bekerja sama dengan perusahaan daerah. Itu artinya berapa pun keuntungannya akan masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, Carolina menambahkan, dana tersebut juga akan masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) KLHK, penguatan konservasi dalam wisata alam, serta layanan tambahan bagi wisatawan.

“Misalnya seperti layanan transportasi shuttle bandara, hotel dan pelabuhan, akses waterfront lounge. Selain itu juga asuransi jiwa dan kecelakaan wisatawan, panduan wisata konservasi serta suvenir berupa hasil karya masyarakat lokal,” paparnya.

Kenaikan Tiket TN Komodo untuk Tujuan Konservasi

Kenaikan tarif tiket masuk ke TN Komodo menjadi Rp 3,75 juta akan pengelola terapkan secara kolektif tersistem (Rp 15,000,000 per 4 orang per tahun). Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada awal Agustus, Senin (1/8). Carolina menyebut, latar belakang kenaikan tarif tiket yaitu untuk tujuan konservasi.

Ia menjelaskan, berdasarkan identifikasi masalah di TN Komodo, terdapat berbagai permasalahan antara lain menumpuknya sampah di lokasi, kebakaran, perburuan liar. Di samping itu juga pengelolaan air bersih yang kurang maksimal, hingga rusaknya habitat komodo.

Tak hanya tarif tiketnya yang naik untuk tujuan konservasi, jumlah kunjungan wisatawan ke TN Komodo juga akan pengelola batasi. Pembatasan pengunjung hanya sekitar 200.000 orang per tahun melalui sistem kunjungan terintegrasi berbasis reservasi online.

Bupati Kabupaten Manggarai Barat, Edistasius Endi mengungkapkan, tujuan kenaikan tarif tiket dan pembatasan wisatawan bertujuan untuk memastikan ekosistem di TN Komodo yang berkelanjutan.

Ia menyebut, para pelaku usaha pariwisata tak perlu khawatir karena mereka juga akan pengelola libatkan dalam program ini.

“Pasti kita libatkan dalam program ini, misalnya melalui suvenir produk-produk lokal. Jangan sampai para pelaku pariwisata di wilayah ini hanya jadi penonton,” imbuhnya.

tn komodo

Taman Nasional Komodo. Foto: wikimedia commons

Pengelola Berlakukan Dispensasi

Edistasius juga memastikan, adanya dispensasi bagi wisatawan yang telah terlanjur memesan paket wisata ke Pulau Komodo sebelum peraturan ini mereka implementasikan. Dispensasi tersebut berlaku bagi wisatawan dan pelaku pariwisata, mulai dari tour operator, travel agent, hingga pemilik kapal.

“Bagi wisatawan yang sudah booking jauh-jauh hari, berlaku harga normal sampai akhir tahun. Selanjutnya untuk wisatawan yang belum melakukan pemesanan paket wisata akan dikenakan tarif tiket masuk baru,” tuturnya.

Para pelaku pariwisata dapat memberikan data-data untuk pendaftaran harga normal melalui email info@flobamor.co.id. Caranya dengan menyertakan data tanggal keberangkatan, destinasi tujuan aktivitas, daftar nama wisatawan dan nama kapal, serta bukti pembayaran.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyatakan pentingnya keseimbangan antara konservasi dan ekonomi dalam pengembangan pariwisata TN Komodo. Utamanya, Pulau Komodo dan Pulau Padar sebagai tempat konservasi dan Pulau Rinca untuk wisatawan. Ia menyebut di Labuan Bajo, komodo tidak hanya hidup di satu pulau. Akan tetapi ada di Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top