Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2015 Ajak Lestarikan Keanekaragaman Hayati

Reading time: 2 menit
Foto: greeners.co/Indonesia Wildlife Photography

Jakarta (Greeners) – Tidak mudah membangun kesadaran dan membentuk kecintaan masyarakat Indonesia pada puspa dan satwa agar keanekaragaman hayati tetap lestari. Mengenal, menyayangi dan menyelamatkan puspa dan satwa pun tidak sebatas pada yang langka dan dilindungi saja.

Untuk membangun kepedulian ini, peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2015 mengangkat tema “Ayo Selamatkan Puspa dan Satwa Sebagai Penyangga Kehidupan Mulai Dari Lingkungan Kita”. Laksmi Dewanti, Ketua Penyelenggara HCPSN 2015 menyatakan bahwa pemilihan maskot untuk HCPSN 2015 diambil dari puspa dan satwa yang mulai terancam punah, yaitu beo nias dan suweg.

Laksmi menjelaskan, beo nias (Gracula robusta) adalah keluarga dari burung berkicau dan memiliki tingkat keterancaman punah paling tinggi. Sedangkan suweg adalah keluarga bunga bangkai dengan bentuk lebih kecil dan berumbi. Di banyak daerah, umbi dari suweg ini telah menjadi sumber pangan masyarakat dengan sebaran terbanyak di wilayah Jawa.

“Suweg ini keluarga dari Amorphophallus. Sebarannya banyak di daerah Jawa. Karena Beo Nias dan Suweg ini cukup dekat dengan masyarakat, maka dua inilah yang kita jadikan maskot agar masyarakat paham dengan pelestarian keberadaan mereka (maskot) ini,” jelas Laksmi saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Senin (02/11).

Puncak pelaksanaan HCPSN 2015, lanjutnya, direncanakan pada tanggal 28 November 2015 di Kalimantan Selatan, namun akan dilaksanakan sesuai dengan jadwal Presiden Joko Widodo. Menurut Laksmi, pada tanggal tersebut, ada dua hari besar yang akan dirayakan yaitu HCPSN 2015 pada tanggal 5 November dan Hari Menanam Pohon Nasional pada tanggal 28 November.

“Kenapa di Kalimantan Selatan? Karena konteks hari menanam nasional itu akan dilaksanakan sebagai program rehabilitasi bekas kebakaran hutan. Tapi ini masih tentatif ya, masih bisa berubah-ubah,” tambahnya.

Mengenai rangkaian acara, Laksmi mengatakan bahwa acara akan dimulai dengan penerimaan kembali badak sumatera yang dipulangkan dari Cincinnati, Amerika. Badak jantan bernama Harapan ini akan diterima di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Kemudian, akan ada peresmian rumah sakit gajah di Way Kambas dan repatriasi orangutan atau pengembalian orangutan yang diselundupkan ke Thailand. Orangutan ini akan dikembalikan oleh pemerintah Thailand.

“Ada juga rembuk nasional yang melibatkan para pelaku konservasi satwa dan puspa, konser musik, lomba foto di Taman Safari, kegiatan kepramukaan Saka Kalpataru. Setelah selesai akan dilanjutkan dengan bulan menanam untuk peringatan Hari Menanam Nasional-nya,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

Top