Hemat Air, El Nino Berpotensi Picu Kekeringan Hingga September

Reading time: 2 menit
Lakukan penghematan air selama musim kemarau dan El Nino. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – El Nino diprediksi akan mencapai puncaknya September 2023. Dari 966 zona musim di Indonesia, 63 % zona musim sudah memasuki musim kemarau. Curah hujan pun rendah hingga Oktober 2023. Kondisi ini memicu kekeringan dan penurunan ketersediaan air tanah.

Wilayah itu meliputi Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Fachri Radjab mengatakan, El Nino dapat menyebabkan penurunan ketersediaan air tanah. Hal ini harus diantisipasi terutama daerah yang bergantung pada air tanah sebagai sumber utama.

Masyarakat perkotaan yang terkena dampak fenomena ini juga perlu waspada. Jaga kesehatan dan lakukan penghematan air.

“Masyarakat perkotaan perlu waspadai suhu panas ini. Pertama dehidrasi, perlu banyak konsumsi air minum, tentu dampaknya ke penyakit kulit, kemudian perlu hemat air juga penting dan menabung air,” kata Fachri dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9, Senin (31/7).

El Nino adalah peristiwa peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menyebabkan pengurangan udara basah menuju Indonesia. Hal ini mengakibatkan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan.

Selain itu, berkurangnya curah hujan juga sulit untuk “mencuci” udara sehingga polusi udara berpotensi meningkat.

Beberapa tahun terakhir intensitas El Nino bervariasi. Fachri mencatat, fenomena El Nino terakhir kali intensitasnya cukup lemah pada tahun 2019. Sementara pada tahun 2015, intensitasnya kuat.

El Nino bisa memicu kekeringan di lahan pertanian. Foto: Freepik

Mitigasi Kekeringan dan Karhutla saat El Nino

Mengatasi kekeringan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau daerah untuk memastikan ketersediaan air dan mewaspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Enam wilayah rawan karhutla meliputi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Wilayah tersebut mayoritas gambut.

Kepala BNPB, Suharyanto menyebut, BNPB bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) juga membuat bor baru untuk mengantisipasi kekeringan di areal gambut dan mangrove yang lebih dahsyat.

BNPB pun berkolaborasi bersama sejumlah lembaga pemerintah menggelar operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), untuk meningkatkan intensitas curah hujan di wilayah yang berpotensi terjadi kekeringan. Operasi ini akan mengisi danau, embung, dan sumur untuk persediaan air.

Pemadaman darat dan udara juga BNPB siapkan untuk penanganan karhutla. Tidak hanya siap siaga padamkan api saat kebakaran. Sebelum ada titik api di daerah tertentu, BNPB juga lakukan penyiraman air melalui udara untuk pembasahan gambut.

Sementara itu, kekeringan sudah terjadi di wilayah Papua Tengah. Fenomena ini memicu gagal panen sehingga membuat warga kesulitan mendapatkan bahan makanan. Dampaknya, enam orang meninggal dunia karena kelaparan dan dehidrasi.

Peristiwa ini bukan kali pertama yang terjadi di Papua Tengah, sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun 2015 dan 2019 yang bersamaan dengan adanya El Nino.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top