Kemenko Maritim Minta Negara-Negara Nordik Bantu Alih Teknologi Sampah

Reading time: 2 menit
kemenko maritim
Menteri Koordinator Maritim, Luhut B Pandjaitan. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman meminta secara khusus kepada duta besar dan perwakilan negara-negara di kawasan Nordik untuk membantu Indonesia mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Menteri Koordinator Maritim, Luhut B Pandjaitan mengatakan bahwa Indonesia akan berupaya serius dalam mengaplikasikan teknologi penanganan sampah (utamanya sampah plastik) menjadi energi listrik (waste to energy), dengan mencontoh negara-negara Nordik yang telah menerapkan teknologi tersebut seperti Denmark, Swedia, Norwegia dan Finlandia.

“Waste to Energy sangat penting bagi kami untuk memperoleh pengalaman dan teknologi pengolahan sampah menjadi energi dalam perumusan kebijakan pemerintah,” katanya saat memberikan sambutan pada acara “Waste to Energy” di Jakarta, Senin (11/09).

BACA JUGA: Kemenko Maritim Targetkan Penanganan Sampah Plastik di Lima Destinasi Wisata Prioritas

Hadirnya perwakilan negara-negara di kawasan Nordik (Swedia, Denmark, Finlandia dan Swedia) dalam seminar internasional tentang pengelolaan sampah menjadi energi ini, lanjutnya, merupakan tindak lanjut dari kunjungannya bulan Juni silam yang telah berkomitmen untuk menyelenggarakan konferensi secara bersama-sama dengan negara-negara yang memiliki teknologi pengolahan sampah menjadi energi.

Ia mengatakan, jika masalah sampah tidak segera ditangani, selain menganggu kesehatan, hal ini juga dapat mengganggu pengembangan sektor pariwisata yang tengah giat dilakukan oleh pemerintah. Salah satu solusi konkret teknologi pengelolaan sampah yang telah dilakukan oleh Indonesia, lanjutnya, pemerintah telah membuat inovasi untuk mencampur sampah plastik dengan aspal.

“Kita sudah buat campuran sampah plastik 10 persen dan aspal 90 persen,” tambahnya.

BACA JUGA: Atasi Masalah Sampah, Kemenko Maritim Dinilai Terlalu Mengurusi Teknis

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno mengatakan bahwa tujuan konferensi ini adalah untuk menyebarkan informasi dan pertukaran pengalaman tentang pengolahan sampah menjadi energi listrik. Menurutnya sudah banyak juga para investor yang ingin berinvestasi membangun unit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) atau pun investasi dalam pengelolaan sampah.

Indonesia sendiri, memiliki kapasitas pendanaan yang terbatas dalam pengelolaan sampah. Standar internasional dalam penanganan sampah adalah 15 USD per orang per tahun, sedangkan di Indonesia hanya sekitar 6 USD per orang per tahun. Hal ini menuntut inovasi dalam penanganan sampah dengan baik sehingga tidak terjadi kebocoran sampah dari darat ke laut melalui sungai.

“Jadi selain ingin meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah padat, pemerintah juga ingin mengatasi krisis energi listrik dengan memanfaatkan sampah tersebut. Apalagi Indomesia telah menargetkan pada tahun 2025 Indonesia dapat mengurangi sampah plastik sebanyak 70%. Makanya kita ingin ada kerjasama teknis antara pemangku kepentingan di Indonesia dengan negara-negara Nordik dalam penanganan sampah baik dari sisi solid waste management secara umum atau pun sampah plastik di laut,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

Top

You cannot copy content of this page