Kenaikan Suhu Laut Picu Pemutihan Terumbu Karang

Reading time: 2 menit
Penampakan kerusakan terumbu karang. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Naiknya suhu permukaan laut memicu pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Perubahan iklim turut memicu kenaikan suhu permukaan laut tersebut.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut, suhu laut selama April 2023 mencapai rekor terpanas yakni 21,1 derajat Celcius.

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yaitu zooxanthellae. Terumbu karang juga menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan laut, hewan laut dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui.

Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2019, tercatat sebanyak 1.000 titik terumbu karang tersebar di perairan Indonesia. Sekitar 31 % terumbu karang memiliki kondisi baik-sangat baik. Kemudian, dengan kondisi sedang-kurang bagus sebanyak 69 %.

Kawasan terumbu karang yang relatif baik tersebar di wilayah timur Indonesia. Wilayah tersebut meliputi Sulawesi, Papua dan perairan tengah sepanjang utara serta timur Sumatra.

Di sisi lain, kondisi terumbu karang dengan kondisi rusak yaitu berada di sepanjang pesisir barat Sumatra sampai perairan selatan Indonesia.

Peneliti Senior Terumbu Karang Pusat Riset Oseanografi BRIN, Muhammad Abrar mengatakan, dengan adanya perubahan iklim ini, warna terumbu karang akan memutih.

“Jadi, salah satu yang merusak karang adalah naiknya suhu permukaan laut. Dampak atau respon karangnya itu terjadi pemutihan warna karang berubah menjadi terlihat putih,” ungkap Abrar kepada Greeners, baru-baru ini.

Peningkatan suhu ini merupakan kombinasi dari faktor perubahan iklim dengan adanya pemanasan global dan fenomena El Nino.

Tak Hanya Pemutihan Terumbu Karang 

Menurut data BRIN, selain perubahan iklim, ada faktor lain yang membahayakan kelangsungan hidup terumbu karang. Penyebab lainnya yakni pemangsaan karang besar-besaran yang menyebabkan kepunahan.

Efek dari perubahan kondisi lingkungan di perairan juga dapat menyebabkan penyakit terumbu karang. Penyakit ini juga menjadi salah satu ancaman yang berbahaya.

Melansir berbagai jurnal ilmu kelautan, penyakit karang adalah gangguan kesehatan karang yang menyebabkan gangguan secara fisiologis bagi biota karang. Penyakit ini juga memicu kegagalan fungsi vital hewan karang sehingga mengurangi keanekaragaman spesies.

Smilling Coral Indonesia konsisten merehabilitasi terumbu karang di Kepulauan Seribu. Foto: IG Smilling Coral Indonesia

Ketatkan Regulasi

Perlindungan terumbu karang kini telah diperkuat melalui berbagai kebijakan dan regulasi untuk konservasi perairan, perlindungan laut terutama ekosistem terumbu karang.

“Luas konservasi juga semakin ditingkatkan targetnya mencapai 30 juta hektare di tahun 2030. Saat ini mungkin sudah mencapai 26 juta hektare dan masih terus ditingkatkan,” tutur Abrar.

Regulasi di tingkat nasional dan daerah juga telah ada, seperti pelarangan atau pemanfaatan terumbu karang sebagai bahan bangunan dan bibit panen. 

Pemerintah juga berupaya melindungi terumbu karang melalui restorasi dan rehabilitasi, untuk mengembalikan terumbu karang ke kondisi semula.

“Data terakhir ada sekitar 500 proyek restorasi yang berjalan di perairan Indonesia. Indikasi ini cukup bagus dalam upaya restorasi rehabilitasi terumbu karang,” imbuh Abrar.

Pada tahun 2020 Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) merupakan salah satu program restorasi ekosistem terumbu karang pada lima lokasi pada perairan di Provinsi Bali.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top