KLHK: Indonesia Mulai Masuki Musim Krusial Kebakaran Hutan dan Lahan

Reading time: 2 menit
musim krusial kebakaran
Foto: pixabay.com

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan saat ini Indonesia tengah memasuki musim krusial Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Meski jumlah hotspot atau titik api secara Nasional berkurang hingga 70-90 persen, namun kewaspadaan terus ditingkatkan seiring dengan mulai masuknya musim kering.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyatakan jumlah hotspot tahun 2016 dibanding tahun 2015 (Periode 1 Januari-28 Agustus) berdasarkan pantauan satelit NOAA18/19 mengalami penurunan dari 8.247 titik tahun lalu, menjadi 2.356 titik pada tahun ini atau lebih dari 74,64 persen.

“Penurunan terbesar terjadi di Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah. Di Riau, pada periode yang sama tahun 2015 terdapat 1.292 titik api, sementara tahun ini turun jadi 317 titik. Sedangkan di Kalteng, dari 1.137 titik api tahun lalu, turun menjadi 56 titik api pada tahun ini,” katanya, Jakarta, Senin (29/08).

BACA JUGA: Enam Provinsi Tetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan

Sedangkan jika melihat dari hasil pemantauan satelit TERRA/AQUA (NASA), katanya, dalam periode yang sama terlihat jumlah hotspot tahun 2016 berkurang 74,70 persen dibanding tahun 2015. Tahun sebelumnya tercatat 11.690 titik api sementara tahun ini menjadi 2.937 titik api.

Untuk memaksimalkan upaya pengendalian Karhutla, terus Siti, Pemerintah Provinsi juga sudah menetapkan status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Asap akibat Karhutla, seperti di Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jambi dan Kalimantan Selatan.

Selain itu dilakukan patroli terpadu sebagai upaya mensinergikan para pihak dalam pencegahan Karhutla sampai pada tahap tapak (masyarakat). Patroli terpadu melibatkan unsur Manggala Agni, Polhut, TNI, POLRI, pers, LSM dan aparat desa/tokoh masyarakat.

“Pelaksanaan patroli berbasis komando bertingkat dengan operasional Posko Desa, Posko Daops, Posko tingkat Provinsi (Balai Besar/Balai KSDA/TN) dan Posko Nasional di KLHK,” tambahnya.

Sementara itu, Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan bahwa sebanyak 44 area kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kualitas udara memburuk di Riau. Ia menyebutkan kalau lahan yang terbakar sebagian besar adalah lahan akses terbuka, kebun masyarakat tanah ulayat, dan lahan swasta yang dikuasai oleh masyarakat.

“Pembakaran dilakukan untuk pembersihan lahan dengan membakar sebelum dimanfaatkan untuk perkebunan,” ujarnya.

BACA JUGA: Penggunaan Sumur Bor untuk Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan Akan Dimaksimalkan

Sutopo menyatakan daerah yang paling banyak terjadi hotspot tahun ini adalah Kabupaten Rokan Hilir yaitu 32 titik. Secara rinci, lahan yang terbakar antara lain di Kecamatan Pujud (50 hektar), Labuhan Tangga (10 ha), Rantau Bais (40 ha), Tanah Putih (25 ha), Teluk Beno (40 ha), dan Kubu (10 ha). Hotspot lain tersebar di Kabupaten Pelalawan, Kampar, Meranti, Rokan Hulu, Bengkalis, Inhil dan Inhu.

Kondisi ini menyebabkan kualitas udara menurun. Berdasarkan laporan dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau dan KLHK, lanjut Sutopo, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pukul 17.00 WIB di Bagan Siapi-api, Rokan Hilir pada tingkat Berbahaya, lalu di Duri Camp, Bengkalis pada tingkat Sangat Tidak Sehat.

“Berdasarkan pantauan satelit Himawari dari BMKG pukul 12.00 WIB, sebaran asap tipis dari Riau terbawa angin ke timur hingga Singapura dan perairan di bagian timur. Kondisi ini menyebabkan kualitas udara di Singapura kembali tidak sehat,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

Top