Memasuki Musim Hujan, Titik Hotspot Karhutla Berkurang

Reading time: 3 menit
Ilustrasi musim hujan. Foto: Freepik
Ilustrasi musim hujan. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Setelah melewati musim kemarau panjang, sebagian besar wilayah Indonesia kini memasuki musim hujan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan titik hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun kian berkurang berkat guyuran hujan.

Berdasarkan data BNPB pada minggu pertama bulan November tercatat sebanyak 20.541 titik hotspot. Kemudian, pada minggu kedua menurun, tercatat sebanyak 5.762 titik hotspot. Melihat data berikut, secara umum terjadi penurunan jumlah hotspot dibandingkan minggu sebelumnya.

Pada minggu pertama (29 Oktober – 4 November 2023) di Sumatera Selatan terdapat 9.937 titik hotspot, kemudian pada minggu kedua (5 November – 11 November 2023) hanya 3.276 titik hotspot. Selanjutnya, di wilayah Kalimantan Tengah, minggu pertama terdapat 7.579 titik hotspot dan pada minggu kedua menjadi 1.278 titik hotspot.

BACA JUGA: BNPB Cegah Dampak El Nino melalui Operasi Darat dan Udara

“Bisa kita lihat perbandingan minggu kedua dan minggu pertama. Itu minggu pertama di bulan November terjadi di enam provinsi. Paling tinggi itu Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Begitu masuk musim hujan, hotspot (karhutla) sudah mulai menurun,” ucap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam Disaster Briefing.

Abdul menambahkan, menurunnya titik hotspot karhutla merupakan hasil dari konsistensi penanganan karhutla yang tim BNPB lakukan.

“Ada sisi kebaikan dari kordinasi. Sehingga, kebakaran hutan pada tahun 2023 ini tertangani lebih baik dibanding tahun sebelumnya,” tambah Abdul.

Secara spasial, lanjutnya, biasanya dalam empat bulan terakhir bencana alam yang kerap terjadi ialah karhutla. Terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Namun, kini wilayah tersebut sudah dominan terkena hujan dan karhutla pun telah menurun.

“Sekarang kita melihat daerah provinsi Sumatra, Riau, dan Jambi yang kawasan prioritas karhutla secara umum tidak ada kejadian karhutla yang terlaporkan ke BNPB. Kalimantan masih ada karhutla. Sumatra sudah terjadi banjir. Bahkan, pemerintah Kota Medan sedang melakukan giat pembersihan sungai untuk mengurangi potensi banjir,” ujar Abdul.

Ilustrasi karhutla. Foto: Freepik

Ilustrasi karhutla. Foto: Freepik

Perlu Waspada Pascagunung Terbakar

Menurut Abdul, biasanya pascakebakaran hutan banyak pohon tumbang yang masuk ke badan sungai di bagian hulu. Misalnya, peristiwa kebakaran hutan pada tahun 2018 di Gunung Arjuno.

“Itu bagian pohon terbakar, lalu menyumbat bagian hulu sungai yang sebenarnya debit airnya tidak terlalu besar yang masuk ke Kota Batu. Karena ada bendung alam ini yang tidak pernah dibersihkan ketika musim hujan, masuklah debit air. Kemudian, bendung alam tidak mampu menahan debit air. Akhirnya jebol dan banjir bandang ini melanda Kota Batu pada tahun 2022,” imbuh Abdul.

Oleh sebab itu, Abdul mengimbau pemerintah daerah dan semua elemen masyarakat untuk mewaspadai pascagunung banyak yang terbakar. Sebab, itu akan menyebabkan banjir semakin parah saat musim hujan.

Cuaca Ekstrem Mulai Dominan

Abdul menambahkan, BNPB biasanya selalu menerima laporan krisis air dan kebakaran lahan di wilayah Jawa. Namun, saat ini cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, suhu dingin dan lainnya mulai dominan kendati masih ada kebakaran lahan di dua kabupaten dan kota.

BACA JUGA: BNPB: 95 Bangunan Rusak akibat Gempa di NTT

“Kalimantan saat ini unik sebenarnya. Kalau kita berada pada musim kemarau, pasti tiga wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan berjibaku dengan karhutla. Sementara, kalau musim hujan yang perlu kita waspadai adalah banjir besar dengan durasi lama yang ada di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” kata Abdul. 

Durasi banjir di Kalimantan Barat dalam dua tahun ini tercatat terjadi selama tiga minggu. Kejadian itu telah merendam aliran Kabupaten Kapuas. BNPB berharap agar solusi permanen dari pemerintah daerah soal banjir sudah bisa terasa hasilnya. Dengan demikian, dampak dari banjir tak semakin parah.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top