Kolaborasi Riset Pangan dan Green Energy di InaRI Expo 2022

Reading time: 2 menit
Pembukaan InaRI Expo 2022. Foto: Greeners/Ari Rikin

Bogor (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong kolaborasi riset di bidang pangan dan energi hijau (green energy). Dua bidang ini sangat negara butuhkan saat ini.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, pangan dan energi adalah dua bidang yang negara butuhkan saat ini.

“Selain fluktuasi harga pangan dan energi saat pandemi juga ada krisis geopolitik,” katanya dalam pembukaan InaRI Expo di Cibinong Science Center, Kamis (27/10).

Indonesia Research and Innovation (InaRI) Expo merupakan perhelatan tahunan yang BRIN gelar untuk memperlihatkan riset dan inovasi hasil karya anak bangsa. Gelaran ini akan berlangsung 27-30 Oktober 2022.

Sebanyak 239 booth peserta expo dari berbagai lembaga, swasta, perguruan tinggi dan sekolah menengah meramaikan pameran riset dan inovasi terbesar ini. Handoko juga menyebut, acara ini mendapat dukungan mitra ASEAN dan India.

Usai pembukaan Handoko bersama perwakilan dari ASEAN dan institusi riset India berkeliling melihat booth peserta.

Tahun ini InaRI Expo 2022 mengusung tema Digital, Blue & Green Economy: Riset dan Inovasi untuk Kedaulatan Pangan dan Energi. Melalui tema ini, BRIN ingin mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi.

Hal ini bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang berbasis digital, berwawasan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam yang Indonesia miliki.

Siswa dari sejumlah sekolah ikut ajang karya ilmiah remaja di InaRI Expo 2022. Foto: Greeners/Ari Rikin

Riset Jawab Tantangan Global

Usai pembukaan, kepada media Handoko berharap, gelaran ini semakin mendorong para periset Indonesia untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Begitu pun dengan kreator-kreator di bidang teknologi mengasah kemampuannya dalam menghasilkan produk-produk baru.

BRIN saat ini bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik terkait riset ekonomi hijau. Dalam konteks ekonomi hijau ada 6 pilar yang sifatnya sangat sektoral. BRIN mendukung dari sisi science based policy.

“Sudah jadi tanggung jawab kami di BRIN untuk mendukung seluruh kementerian dan lembaga termasuk dalam konteks ekonomi hijau,” ungkapnya.

Menurutnya, di sektor energi ada dua hal terkait transportasi dan energi untuk menghasilkan listrik. Untuk energi transportasi yang sangat mungkin saat ini adalah kendaraan listrik. “Kita banyak lakukan riset itu dari baterai sampai pada baterai manajemen sistemnya,” imbuhnya.

Namun untuk energi penghasil listriknya secara global risetnya masih ada tantangan dan tidak mudah. “Kita tidak punya energi alternatif yang sifatnya masif. Seperti misalnya pengganti fosil,” imbuhnya.

Di global dua sumber yakni pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang baru tersedia. Kalau pun Indonesia misalnya punya target PLTN di tahun 2049 tapi dari sisi eksperimental PLTN kita harus siapkan secepat mungkin. “Sehingga apapun yang terjadi Indonesia akan lebih siap,” ungkapnya.

Penulis/Editor : Ari Rikin

Top