Mahasiswa Untan Peringati Hari Penyu Sedunia

Reading time: 2 menit
Mahasiswa Untan Peringati Hari Penyu Sedunia

Pontianak – Hujan lebat yang mengguyur Kota Pontianak pada Kamis (23/5) sore, tidak menghalangi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Biologi, Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura memperingati Hari Penyu Sedunia. Mereka mengelilingi Tugu Digulis Universitas Tanjungpura sambil membawa spanduk, poster, serta membagikan leaflet berisi ajakan dan imbauan terkait Hari Penyu Sedunia.

Andi, salah seorang mahasiswa menuturkan, tingginya angka perburuan dan perdagangan telur penyu di kalimantan barat membuat Himabio khawatir akan keberlangsungan hidup penyu dan habitatnya. “Sampai saat ini, masih banyak dijumpai pedagang yang menjual telur penyu secara terbuka,” kata Andi. Menurut dia, hal itu menggambarkan rendahnya kesadaran masyarakat dan kontrol pemerintah dalam upaya menekan angka perburuan.

Ia melanjutkan, telur penyu sebenarnya juga tidak lebih baik dari telur ayam. Kandungan kolesterol yang tinggi di telur penyu juga dapat menyebabkan stroke. “Belum lagi kandungan racun dan bakteri yang terkandung ditelurnya akibat dari pencemaran laut,” kata Andi.

Sementara mahasiswa lainnya, Aris mengatakan, selain melakukan aksi damai, Himabio juga akan mengirimkan surat kepada pihak terkait terutama penegak hukum. “Kami selaku mahasiswa, ingin menyampaikan imbauan mereka kepada pihak terkait untuk bersama-sama melakukan pengawasan perdagangan penyu, telur dan habitatnya,” ujar Aris. Ia berharap, melalui aksi tersebut, penyu dihabitatnya dapat terselamatkan dari ancaman kepunahan. Namun, lanjut dia, Kalbar bisa menjadi rumah yang ramah bagi penyu dan telur-telurnya. “Masyarakat Kalbar akan menjadi pelopor konservasi penyu di mata dunia. Stop! Perburuan dan perdagangan telur penyu,” kata Aris.

Himabio FMIPA Untan menyampaikan tiga himbauan kepada masyarakat dan pihak berwenang. Yakni, mahasiswa meminta masyarakat luas untuk menghentikan perburuan dan konsumsi telur penyu. Kedua, mereka juga meminta pihak berwenang untuk berperan aktif dalam pengawasan perdagangan penyu, telur dan habitatnya. Ketiga, meminta masyarakat luas untuk menjaga dan melestarikan penyu serta habitatnya.

Menurut Dwi Suprapti, Koordinator Kelautan WWF Indonesia Program Kalimantan Barat, salah satu lokasi utama tempat penyu membuat sarang dan bertelur terletak di Paloh, Kecamatan Sambas. Jaraknya hampir 300 kilometer dari Kota Pontianak, di sebelah utara Kalbar. Namun kini, rata-rata telah terjadi penurunan dari jumlah penyu yang menempatkan sarang di Pantai Paloh. “Rata-rata dari tahun ke tahun di Paloh, terjadi penurunan jumlah penyu yang bertelur,” kata dia.

Ia menambahkan, saat ini terjadi penyusutan dari jumlah sarang yang terdapat di  pantai berpasir putih itu. “Penurunan itu, berkisar 200 sarang. Artinya mengalami penurunan 40 penyu – 60 ekor penyu per tahun,” kata Dwi Suprapti. Ia menjelaskan, ada sejumlah hal sehingga terjadi penurunan jumlah penyu yang bertelur di Pantai Paloh. Menurut Dwi Suprapti, penyu membutuhkan tempat yang relatif aman untuk bertelur.

“Penyebab pertama sehingga terjadi penurunan penyu yang bertelur di Pantai Paloh, diantaranya karena gangguan dari lalu lintas aktifitas masyarakat di sekitar pantai yang menjadi lintasan atau tempat penyu bertelur. Kemudian, beberapa tahun silam, sebagian besar telur penyu di Pantai Paloh diburu sehingga generasinya makin berkurang.

Top
You cannot copy content of this page