Pemerintah Tempuh Lima Jalur untuk Amankan Kebutuhan Vaksin Covid-19

Reading time: 4 menit
Pemerintah Tempuh Lima Jalur untuk Amankan Kebutuhan Vaksin Covid-19

Untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity, perlu vaksinasi terhadap 181 juta rakyat Indonesia. Dengan memperhitungkan bahwa satu orang membutuhkan dua dosis vaksin, serta panduan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempersiapkan 15 persen cadangan, maka total vaksin yang dibutuhkan adalah sekitar 426 juta dosis.

Jakarta (Greeners) –  Dalam pengadaan kebutuhan vaksin tersebut, pemerintah menempuh lima jalur, empat di antaranya bersifat bilateral dan satu bersifat multilateral.

Dari empat jalur bilateral, Pemerintah Indonesia sudah menandatangani kontrak dengan Sinovac sebanyak 125 juta dosis vaksin. Saat ini, masih tersedia opsi untuk menambah dosis dengan Novavax sebanyak 130 juta dosis.

“Kita akan segera menandatangani kontrak dengan AstraZeneca untuk 100 juta dosis vaksin. Sebagian firm (firm order/binding), sebagian opsi (potensi). Kita juga akan segera menandatangani kontrak dengan BioNTech Pfizer untuk 100 juta dosis vaksin, di mana 50 juta adalah firm dan sisanya adalah opsi. Finalisasi dengan AstraZeneca dan Pfizer akan diselesaikan dalam waktu dekat ini,” ujar Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, dalam keterangan persnya di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (29/12/2020).

Total vaksin covid-19, lanjutnya,  sekitar empat ratus juta, dengan rincian sebagai berikut:

1. Seratus juta dari Cina.

2. Seratus juta dari Novavax yaitu perusahaan Amerika Serikat-Kanada.

3. Seratus juta dari AstraZeneca perusahaan dari London, Inggris.

4. Seratus juta lagi dari Pfizer yang merupakan perusahaan gabungan dari Jerman dan Amerika Serikat.

Indonesia Amankan 330 Juta Dosis Vaksin

Sementara itu, lanjut Budi, untuk jalur multilateral Indonesia telah melakukan kerja sama dengan GAVI (Global Alliance Vaccines and Immunization) melalui COVAX/GAVI yang akan memberikan vaksin secara gratis.

COVAX/GAVI diinisiasi oleh aliansi vaksin GAVI serta didukung WHO dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI).

“Angkanya masih bergerak-bergerak berapa dosis yang bisa diberikan ke Indonesia, tapi range-nya antara 3 persen dari populasi atau 16 juta dosis sampai 20 persen dari populasi atau sekitar 100 juta dosis,” kata Menkes Budi.

Menurutnya, Indonesia secara pasti telah mengamankan sekitar 330 juta dosis vaksin dan sekitar 330 juta dosis vaksin dengan opsi. Dia melanjutkan, stok ini sebagai cadangan atau buffer jika ada beberapa sumber yang gagal di uji klinisnya atau juga tertunda proses pengirimannya.

“Diharapkan bahwa vaksin-vaksin ini bisa datang secara bertahap ke Indonesia dan kita bisa segera melakukan penyuntikan bagi seluruh rakyat Indonesia yang 181 juta orangnya yang tadi saya sampaikan,” ujar Menkes Budi.

vaksin Covid-19

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengklaim Indonesia secara pasti telah mengamankan sekitar 330 juta dosis vaksin dan sekitar 330 juta dosis vaksin dengan opsi. Foto: Shutterstock.

Vaksinasi Bertahap, Pertama untuk 1,3 Juta Tenaga Kesehatan

Budi menuturkan, pemerintah akan melakukan pemberian vaksin Covid-19 kepada masyarakat secara bertahap. Mulai dari Tenaga Kesehatan (Nakes) dalam rentang waktu satu sampai tiga bulan mendatang.

Setidaknya, ungkap Budi, ada 1,3 juta tenaga kesehatan di Indonesia yang membutuhkan vaksin covid-19.

Presiden Joko Widodo, lanjut Budi, meminta pelaksanaan vaksinasi di seluruh Indonesia. Presiden juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam melakukan vaksinasi ini.

“Ini harus dilakukan di seluruh Indonesia. Berbarengan. Siapapun dia tenaga kerja tenaga kesehatan ini, baik dia berlokasi di Aceh, Jogja, Papua, mereka adalah sama-sama garda terdepan yang paling penting untuk kita menghadapi pandemi Covid-19,” ujar Budi mengutip arahan Presiden.

Vaksin Tahap Kedua untuk Petugas Publik

Selanjutnya Menkes menerangkan vakin tahap kedua yakni kepada petugas publik yang berjumlah sekitar 17,4 juta orang.

Tahap selanjutnya adalah masyarakat lanjut usia, di atas 60 tahun, yang jumlahnya sekitar 21,5 juta orang. Terakhir adalah vaksinasi untuk masyarakat umum.

Namun, Budi menyatakan perlu waktu untuk memastikan bahwa vaksin bisa berlaku untuk usia di atas 60 tahun.

Uji klinik Vaksin Sinovac di Turki dan Brazil diberikan juga ke kelompok usia di atas 60 tahun. Hanya saja, uji klinik tahap tiga vaksin yang sama di Bandung, hanya pada masyarakat dengan rentang usia 18-59 tahun.

“Itu sebabnya hasil diskusi kita dengan ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization), secara scientific memang disarankan menggunakan vaksin Sinovac sesuai dengan yang diuji klinis tiga-kan di Bandung,” ujar Budi.

Kemenkes Rangkul BPOM Perihal Data tentang Vaksin untuk Lansia

Untuk itu, imbuh Budi, pihaknya sudah berbicara dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengkoordinasikan hal ini. Nantinya, BPOM akan melengkapi data sebelum mengambil keputusan akhir mengenai rentang usia penerima vaksin.

“Sesudah ada konfirmasi dari BPOM bahwa vaksin ini bisa digunakan di lansia, masuk (vaksinasi) ke lansia. Sebagian besar vaksin akan datang sekitar semester kedua atau akhir kuartal kedua 2021. Itu sebabnya,  tahapan lansia kita taruh agak ke belakang. Kita ingin memastikan semua data scientific mengenai pemberian vaksin ke grup lansia ini,” imbuhnya.

Menkes juga menegaskan bahwa vaksinasi akan mulai sesudah persetujuan atau emergency use authorization dari BPOM.

“BPOM sudah bekerja sama baik dengan Kementerian Kesehatan, serta berkomunikasi dengan otoritas di Turki, Brazil, dan juga Cina. Saya percaya BPOM bisa mengambil keputusan yang independen dan berdasarkan kepada sains,” pungkas Menkes Budi.

BPOM Serahkan Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

Sementara itu pada konferensi pers berbeda, Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito, mengungkapkan BPOM terus mengawal setiap proses penyediaan vaksin Covid-19 untuk memastikan keamanan, khasiat/efikasi, dan mutu vaksin tersebut.

Salah satu tahapan dalam aspek pengawalan mutu vaksin, lanjut Penny, adalah melalui inspeksi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) di sarana produksi, baik di tempat asal pembuatan vaksin dalam hal ini di Sinovac Life Science, Beijing, maupun di sarana produksi PT. Bio Farma.

“Badan POM telah melakukan inspeksi dan proses verifikasi terhadap tahapan proses produksi dan penjaminan mutu di sarana produksi PT. Bio Farma. Hasil evaluasi dan verifikasi menunjukkan sarana produksi telah memenuhi syarat. Sertifikat CPOB dapat diterbitkan hari ini. Dengan penerbitan sertifikat CPOB ini, maka proses fill and finish product dapat segera dilakukan setelah bulk vaksin tiba,” ujar Penny saat Online Press Conference Covid-19, Rabu (30/12/2020).

Biofarma, lanjut Penny, telah memiliki fasilitas ruang produksi fill and finish vaksin Covid-19 dengan kapasitas produksi 100 juta dosis per tahun.

Vaksin Sinovac: Proses Emergency Use Authorization dalam Tahap Penyelesaian

Tahap selanjutnya, sambungnya, PT. Biofarma akan segera menyiapkan fasilitas produksi dengan kapasitas 150 juta dosis, sehingga tahun depan dapat memproduksi hingga total 250 juta dosis per tahun.

Saat ini proses pemberian Emergency Use Authorization (EUA) vaksin Covid-19 asal Sinovac telah memasuki  tahapan penyelesaian.

Peneliti yang melakukan uji klinik vaksin di Bandung bersama PT. Bio Farma sebagai sponsor sedang melakukan analisis terhadap data-data uji klinik sebagai data dukung khasiat dan keamanan vaksin dalam pemberian EUA.

Perjalanan Uji Klinik Vaksin Covid-19 di Tanah Air

Seperti yang telah direncanakan, di Indonesia uji klinik vaksin Sinovac pada 1.600 subjek. Saat ini seluruh subjek telah mendapat pemberian dua kali suntikan. Tahap selanjutnya yakni pemantauan keamanan dan khasiat secara periodik yaitu 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan setelah penyuntikan.

Untuk pembuktian keamanan vaksin, partisipan mendapatkan pantauan kejadian efek samping. Di sisi lain, pembuktian khasiat vaksin dilakukan dengan pengukuran antibodi yang terbentuk dalam tubuh dan kemampuannya dalam melakukan netralisasi terhadap virus yang masuk, serta penghitungan efikasi vaksin.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page