Negara Berpolusi Tinggi Rentan Terpapar Covid-19

Reading time: 3 menit
Pencemaran Udara
Ilustrasi Pencemaran Udara di Kota Jakarta. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Penelitian terbaru yang dibuat oleh para peneliti dari Universitas Harvard T.H. Chan School of Public Health menemukan bahwa paparan jangka panjang partikel udara berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (PM2.5) meningkatkan kerentanan seseorang untuk terkena Covid-19 hingga menyebabkan kematian.

Dalam studi berjudul Exposure to air pollution and Covid-19 mortality in the United States, disebutkan bahwa paparan jangka panjang polusi udara memengaruhi kondisi pasien yang dinyatakan positif Covid-19. Hal tersebut berlaku terutama bagi negara atau wilayah yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi.

Melansir nytimes.com, Analisis Universitas ini disebut sebagai studi nasional pertama yang menunjukkan hubungan antara kematian Covid-19 dan penyakit lain yang terkait dengan paparan jangka panjang partikel halus.

“Negara-negara dengan tingkat polusi udara tinggi akan mengalami risiko kematian Covid-19 yang lebih tinggi,” kata Francesca Dominici, Profesor Biostatistik di Universitas Harvard yang memimpin penelitian.

Kualitas Udara

Foto: Laporan Air Quality 2019

Untuk melakukan studi ini, para peneliti mengumpulkan data partikel udara selama 17 tahun terakhir di lebih dari 3.000 wilayah di dunia. Mereka juga menghimpun data jumlah kematian di masing-masing daerah akibat Covid-19 hingga 4 April dari Pusat Ilmu Pengetahuan dan Rekayasa Sistem Sumber Daya Coronavirus di Universitas Johns Hopkins.

Mereka menyimpulkan bahwa paparan konsentrasi rendah PM2.5 dalam jangka panjang menyebabkan peningkatan yang tinggi terhadap kasus kematian Covid-19. Penelitian tersebut juga memperhitungkan faktor lain seperti tingkat merokok, kemiskinan, dan kepadatan penduduk.

Selain itu, studi tersebut mencontohkan bahwa seseorang yang hidup selama beberapa dekade di sebuah negara dengan tingkat polusi tinggi, 15 persen lebih mungkin meninggal akibat virus korona dibanding mereka yang tinggal di daerah minim polusi.

“Hasil studi menggarisbawahi pentingnya menegakkan peraturan mengenai polusi udara untuk melindungi kesehatan manusia, selama dan setelah krisis Covid-19,” tulis studi tersebut.

Ibu Kota Jakarta Paling Tercemar

Sementara di Indonesia, Laporan Global Air Quality 2019 mencatat berdasarkan pemeriksaan konsentrasi PM 2.5, Jakarta menempati peringkat kelima sebagai kota paling tercemar di Asia Tenggara. Posisi tersebut naik dari posisi 10 di tahun sebelumnya.

Sejak 2017, konsentrasi PM2.5 di Ibu Kota disebut telah meningkat sebesar 66 persen. Menurut Indeks Kualitas Udara Amerika (US AQI 150+), pada 2019, masyarakat Jakarta dinilai terpapar udara tidak sehat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dua tahun lalu.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin mengatakan, negara berpolusi tinggi dapat meningkatkan potensi kematian terutama saat pandemi Covid-19. Tingkat paparan PM2.5 atau yang lebih kecil, maupun Oksida Nitrogen (NOx), dan Ozon (O3) di suatu lokasi, kata dia, berpengaruh terhadap meningkatnya risiko bagi penderita penyakit pernapasan. Misalnya, asma, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bronkitis, pneumonia, Penyakit Paru-Paru Obstruktif (PPOK), dan jantung koroner. Ia juga menyebut paparan polutan berisiko tinggi terhadap penderita Covid-19 dengan gejala pneumonia.

Konsentrasi PM2.5

Foto: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Baku mutu rata-rata tahunan parameter PM2.5 di atas garis. Ini berarti melampaui baku mutu. Rata-rata tahunan 2019 mencapai 52.10 µg/m3 (tidak sehat),” ucap Ahmad Safrudin, Kamis, (09/04/2020).

Menurutnya, sumber pencemaran udara di Jakarta juga masih tinggi. Hal tersebut disebabkan karena adanya eksposur dari industri di Jabodetabek. Ia juga menuturkan, sebagian besar partikel halus berasal dari pembakaran bahan bakar, seperti mobil, kilang dan pembangkit listrik, serta asap tembakau.

Sedangkan, emisi fugitif atau yang berasal dari pembakaran batu bara dan pembangkit listrik tenaga diesel di Pulau Jawa terutama di Cilegon dan Tangerang, kata dia, juga turut menyumbang polutan.

Penulis: Dewi Purningsih

Top