Perubahan Iklim Menghijaukan Benua Antartika

Reading time: 1 menit
antartika
Foto: Matt Amesbury/heraldnet.com

LONDON, 27 Mei 2017 – Antartika menjadi semakin hijau. Ahli biologi asal Inggris mendokumentasikan empat kali atau bahkan lima kali lipat pertumbuhan flora di Semenanjung Antartika. Mereka mengidentifikasikan pertumbuhan hijau yang semakin marak sebagai indikator dari benua tersebut merespon perubahan iklim.

Bahkan, hanya fraksi kecil di massa tanah di Kutub selatan yang bisa ditumbuhi oleh tanaman, namun peneliti pertama mengamati lumut yang tumbuh pada ketinggian 600 km.

Iklim antartika

Pada iklim yang suhu yang tidak terlalu tinggi dari membeku, lumut akan tumbuh perlahan dan hampir tidak terdekomposisi. Jadi, lumut menjadi catatan yang bisa diandalkan apabila adanya perubahan iklim yang terjadi ribuan tahun lalu.

Para peneliti dari Universitas Exeter, Inggris dan Universitas Cambridge, British Antartic Survey, melaporkan pada Current Biology, bahwa mereka sudah menguji lima bongkahan es dari tiga situs dan menemukan perubahan biologis yang besar terjadi selama 50 tahun di Semenanjung Antartika.

Benua Artik telah memasuki fase pemanasan dramatis: para peneliti telah mendokumentasikan percepatan pertumbuhan hijau di tundra dan bahkan infeksi eksotis pada populasi satwa.

Pemanasan pada benua bagian selatan telah berjalan lamban namun dengan tampilan beku, pencairan juga telah diamati. Dan, di mana ada sinar matahari dan air dan batuan, maka ada pertumbuhan hijau.

Naiknya suhu

“Suhu meningkat pada pertengahan abad di Semenanjung Antartika telah memberikan dampak dramatis pada lumut yang tumbuh di region tersebut,” jelas Matt Amesbury dari Universitas Exeter.

Sementara, koleganya, Dan Charman mengatakan, “Sensitivitas pertumbuhan lumut pada suhu di masa lalu yang meningkat memperlihatkan bahwa ekosistem berubah dengan cepat pada pemanasan di masa depan, yang berujung kepada perubahan besar di biologi dan lanskap region yang ikonik tersebut.

“Secara singkat, kita bisa melihat benua Antartika menjadi hijau setara dengan observasi di Benua Artik. Meskipun ada variabilitas dalam data kami, konsistensi yang kami temukan pada situs yang berbeda cukup mengejutkan.” – Climate News Network

Top