Penguin Chinstrap, Satwa Asli Antartika yang Kian Terancam

Reading time: 3 menit
Peningkatan suhu dan mencairnya es di Antartika mempercepat kepunahan Penguin. Foto: Shutterstock

Penguin chinstrap adalah salah satu spesies Spheniscidae yang mendiami kawasan pantai serta pulau-pulau di Pasifik Selatan dan Samudra Antartika. Mereka merupakan kelompok satwa yang unik karena memiliki “pita hitam” kecil di bawah kepalanya.

Chinstrap publik kenal juga sebagai penguin tali dagu. Sebagian orang menyebutnya sebagai penguin berjanggut atau penguin berbunyi karena lengkingan suaranya yang cukup keras.

Secara klasifikasi, penguin tali dagu ahli golongkan ke dalam ordo Sphenisciformes bergenus Pygoscelis. Spesiesnya mempunyai nama latin atau binomial, yakni Pygoscelis antarcticus.

Penguin gentoo dan Adélie adalah kerabat terdekat penguin chinstrap. Mereka sama-sama berasal dari genus Pygoscelis, meski memiliki tampilan serta peta persebaran yang berbeda.

Morfologi dan Ciri-Ciri Penguin Chinstrap

Penguin tali dagu berkembang biak antara 68-76 cm dengan bobot 3,2-5,3 kg. Spesies jantan mempunyai bobot tubuh lebih besar dari sang betina, begitu juga dengan tinggi badannya.

Jika kita perhatikan, sirip chinstrap dewasa berwarna hitam dengan tepian putih. Sisi dalam sirip dan wajahnya berwarna putih juga, namun dengan mata bercorak cokelat kemerahan.

Seperti penguin kebanyakan, bentuk wajah penguin chinstrap terlihat memanjang dengan dagu dan tenggorokan berwarna putih. Paruhnya pendek dan tumpul dengan warna hitam.

Kaki penguin berjanggut umumnya berwarna merah muda, pendek dan berselaput namun cukup kuat. Tampilan kakinya kekar serta terlihat bergoyang-goyang saat mereka berjalan.

Perlu Anda ketahui, warna hitam pada punggung penguin merupakan bentuk kamuflase. Ini disebut countershading, gunanya untuk mengelabuhi penglihatan pemangsa dari kejauhan.

Penguin chinstrap mampu berenang di perairan Antartika berkat bulu-bulunya yang tebal. Selain bulu, sumber kehangatan mereka berasal dari timbunan lemak di dalam tubuhnya.

Habitat dan Distribusi Penguin Chinstrap

Sebagian besar spesies P. antarcticus pakar temukan di wilayah Antartika, Argentina, Chili, Bouvet, Falkland, selatan Prancis, hingga Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan.

Mereka juga telah ahli naturalisasi sampai ke Selandia Baru, Pulau Saint Helena dan Tristan da Cunha, serta Afrika Selatan. Di habitatnya penguin ini mengonsumsi golongan ikan kecil.

Krill, udang dan cumi-cumi juga menjadi santapan favorit mereka. Penguin chinstrap rela menempuh jarak sejauh 80 km dari lepas pantai hanya untuk mencari mangsa setiap hari.

Tidak cuma memangsa, hewan berkelas Aves ini merupakan sasaran empuk bagi sejumlah satwa liar. Beberapa predator mereka ialah anjing laut, burung skua, hingga petrel raksasa.

Anjing laut macan tutul bahkan berkontribusi menurunkan populasi penguin tali dagu 5-20% setiap tahun. Kondisi ini diperparah oleh buruknya dampak perubahan iklim di Kutub Utara.

Melansir IUCN Red List, status konservasi penguin chinstrap berada di level ‘least concern’ atau risiko rendah. Tren populasinya makin menurun dan mengkhawatirkan sejak 1970-an.

Penurunan Populasi Penguin Chinstrap

Dari 50 tahun terakhir, sebanyak 77% populasi penguin chinstrap punah di area Antartika Barat. Fenomena ini ahli sinyalir disebabkan oleh perubahan iklim serta pemanasan global.

Para ilmuwan bepergian dengan dua kapal Greenpeace, yakni Esperanza dan Arktik Sunrise. Mereka melakukan ekspedisi ke Antartika Barat mulai dari 5 Januari hingga 8 Februari 2020.

Dengan teknik survei manual dan drone, para peneliti menilai skala kerusakan yang terjadi di habitat penguin chinstrap. Hasilnya, ditemukan penurunan populasi satwa secara drastis.

Di wilayah Elephant Island, jumlah penguin tali dagu hanya tersisa sebanyak 53.000 pasang. Padahal, daerah ini merupakan salah satu pusat distribusi terbesar jenis chinstrap di dunia.

Peningkatan suhu dan cairnya lapisan es di Antartika melemahkan rantai makanan. Jika tak ada es, fitoplankon tidak akan hidup. Jika tidak ada fitoplankon, maka penguin akan punah.

Taksonomi Spesies Pygoscelis Antarcticus

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page