Mubazirkan Makanan Bisa Percepat Krisis Pangan

Reading time: 3 menit
Sampah makanan masih menjadi persoalan serius. Selain timbulkan emisi juga bisa picu krisis pangan. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Masyarakat harus semakin menyadari, sampah makanan masih menjadi persoalan dan belum teratasi. Di sisi lain, kondisi krisis iklim bisa memicu krisis pangan. Artinya, jika perilaku mubazir terhadap makanan, konsumsi tak sesuai kebutuhan terus terjadi juga bisa mempercepat krisis pangan.

The Economist Intelligence Unit pada 2021 menyebut, Indonesia masih menjadi negara di urutan kedua penghasil limbah makanan terbesar di dunia. Sebelumnya, pada tahun 2017, Indonesia menduduki peringkat pertama dengan rerata penduduk membuang 300 kilogram makanan setahun.

Ironisnya, krisis pangan kembali menjadi isu penting yang tak hanya di Indonesia. Akan tetapi, juga dalam masyarakat dunia.

Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), timbulan food waste Indonesia tahun 2000 hingga 2019 yaitu sebesar 115 – 184 kg/kapita/tahun. Jumlah tersebut bisa memberi makan 61 hingga 125 juta orang atau 29-47 % populasi Indonesia.

Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Medrilzam menyatakan, saat ini belum ada target untuk sampah jenis makanan ini. “Belum menukik dan spesifik ke food waste untuk target ke depan,” katanya kepada Greeners, Selasa (6/9).

Ini berbeda dengan sampah secara umum yang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) targetkan. KLHK menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah sebesar 70 %.

Padahal, sumbangsih sampah makanan terhadap sektor persampahan sangat besar, berdasarkan data KLHK, kontribusi sampah makanan tahun 2018 yaitu sebanyak 44 persen.

Sampah Makanan Tingkatkan Emisi GRK

Ia menjelaskan, dampak adanya food waste juga bisa menimbulkan emisi gas rumah kaca (GRK). Misalnya total emisi timbulan food waste tahun 2000-2019 terestimasi sebesar 1.702,9 Mt CO2 ek dengan rata-rata kontribusi per tahun setara dengan 7,39 emisi GRK Indonesia.

“Sementara dampak ekonomi, sosial dan budayanya yakni kehilangan kandungan zat nutrisi yang sangat besar,” ucapnya.

Apabila tak ada pengendalian food waste maka timbulan sampah makanan pada tahun 2045 dapat mencapai 344 kg/kapita/tahun. Namun, bila diikuti dengan skenario strategis maka timbulan sampah makanan pada 2045 dapat ditahan di angka 166 kg/kapita/tahun.

Medrilzam mengungkapkan, berdasarkan kajian Bappenas, ada berbagai macam faktor penyebab utama food waste. Penyebabnya antara lain, kurangnya implementasi good handling practice (GHP). Selain itu kualitas ruang penyimpanan yang kurang optimal dan standar kualitas pasar serta preferensi konsumen.

Hal yang tak kalah penting yang seharusnya perlu dapat perhatian adalah perilaku konsumen dan kelebihan porsi. Faktor ini berkontribusi besar memicu masyarakat dengan mudahnya membuang sampah makanan.

“Ini terkait dengan perubahan perilaku masyarakat kita dengan gampangnya membuang sampah makanan dan tak mengenali porsi mereka,” jelas dia.

Selain itu, Medrilzam juga menyorot tentang informasi dan edukasi pada konsumen dan pekerja agar tak membuang sampah makanan. Dalam hal ini pemerintah dan pemerintah daerah memiliki fungsi penting untuk mensosialisasikan lebih luas lagi.

Mencoba bijak saat konsumsi makanan cegah terjadinya food waste. Foto: Shutterstock

Diversifikasi untuk Atasi Krisis Pangan 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyatakan, ancaman krisis pangan tak sekadar terkait dengan ketersediaan bahan pangan. Akan tetapi juga keterjangkauan di seluruh pelosok Indonesia.

Inflasi imbas dari penyesuaian harga BBM bersubsidi misalnya, mampu menaikkan bahan kebutuhan pokok dan mengancam kebutuhan pangan sehari-hari. “Terutama masyarakat miskin di perkotaan, mereka tidak punya stok pangan seperti halnya masyarakat di pedesaan,” katanya.

Tauhid menambahkan, saat ini kebutuhan konsumsi beras nasional mencapai 30 juta ton. Jumlah tersebut lebih kecil dibanding produksi beras, yakni sekitar 34 juta ton. Kendati demikian, ia mengingatkan agar pemerintah Indonesia tetap mengantisipasi ancaman krisis pangan. Terlebih ancaman bencana alam imbas krisis iklim.

“Itulah kenapa kita perlu menekankan diversifikasi pangan agar kita tak bergantung pada pangan, seperti beras dan gandum yang saat ini ada. Ini menjadi tantangan kita,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page