Rapid Test Tidak Dilakukan untuk Semua Masyarakat

Reading time: 3 menit
Doni Monardo
Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo saat telekonferensi, pada Jumat, (20/03/2020). Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Jakarta (Greeners) – Pemerintah akan mempersiapkan satu juta kit alat pemeriksaan Covid-19. Penapisan secara massal akan dilakukan untuk mengidentifikasi kasus corona yang ada di masyarakat. Namun, pemerintah hanya memprioritaskan wilayah pemeriksaan yang menunjukkan indikasi paling rawan terinfeksi berdasarkan hasil pemetaan. Artinya tidak semua masyarakat akan mendapatkan tes cepat ini.

Wilayah prioritas ini berada di Jakarta Selatan yang merupakan tempat ditemukannya kasus pertama dan kedua. Rapid test sudah dilakukan sore hari kemarin (20/3) dengan mendatangi rumah per rumah.

“Targetnya adalah masyarakat luas, terutama yang secara fisik mengalami kontak dengan pasien positif. Ini menjadi prioritas utama. Kalau seluruh masyarakat harus mengikuti atau mendapatkan rapid test akan sulit karena sangat banyak penduduk kita. Jumlahnya 270 juta jiwa,” ujar Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo, melalui telekonferensi, pada Jumat, (20/03/2020).

Baca juga: Presiden Jokowi Perintahkan Rapid Test Melibatkan Berbagai Instansi

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyampaikan bahwa pemeriksaan secara massal ini ditujukan sebagai penapisan terhadap orang yang berpeluang mengalami kontak dengan kasus positif. Dari data perhitungan kelompok orang yang berisiko positif Covid-19 diketahui jumlahnya berkisar 600 hingga 700 ribu.

“Tentunya ini dilakukan melalui analisa risiko. Tidak semua orang kita periksa. Kalau diyakini risikonya rendah tidak kita lakukan. Apabila seseorang dirawat dan dikonfirmasi positif akan ditarik trace (penelusuran) 14 hari ke belakang. Di mana dia berada, apabila berada di rumah mestinya seluruh rumah akan diperiksa, apabila di kantor berarti seluruh orang di kantor itu akan dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.

Achmad Yurianto

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menurut Yurianto, metode yang digunakan untuk pemeriksaaan secara massal ini berbeda dengan yang selama ini digunakan. Sebelumnya untuk menegakkan diagnosa dilakukan melalui pemeriksaan molekuler seperti usapan dinding hidung belakang dan dinding mulut belakang. Namun, untuk pemeriksaan massal, kata dia, dicek melalui pengambilan darah. Lalu dilakukan pemeriksaan dengan alat kit. Dalam waktu kurang dari dua menit akan diketahui hasilnya.

“Apabila dinyatakan positif akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan PCR untuk memastikan hasil sesungguhnya. Hal ini dilakukan untuk membedakan hasil positif yang bisa saja terjadi dari orang yang sudah sembuh dari Covid-19. Karena pada dasarnya zat imunoglobulin yang ada di dalam tubuh secara alami akan merespons adanya virus,” ucap Yurianto.

Baca juga: 3 Kriteria dalam Menetapkan Lock Down

Jika pasien telah melalui dua tes tersebut dan dinyatakan positif serta terdapat gejala Covid-19, menurutnya, ruang rawat bisa disiapkan. Yurianto mengatakan, pemerintah telah menambah jumlah tempat tidur untuk perawatan. Lokasinya berada di wisma atlet untuk yang berada di Jakarta dan beberapa hotel. Tempat perawatan juga melibatkan partisipasi rumah sakit swasta dan BUMN.

Ia menuturkan per tanggal 20 Maret, pihaknya telah menerima 2.000 kita alat untuk pemeriksaan cepat. “Besok juga sudah masuk 2.000 kit lagi. Setidaknya ada 100.000 perangkat pemeriksaan Covid-19 yang akan masuk ke Indonesia pada hari berikutnya,” kata dia.

Di samping itu, pemerintah Indonesia, kata Yuri, sudah menyediakan lebih dari 10.000 alat pelindung diri (APD) dan lebih dari 150.000 masker untuk mendukung kegiatan pelayanan kesehatan.

Pemerintah Siapkan Obat Covid-19

Pemerintah menyebut telah menyiapkan obat untuk mengobati Covid-19 berdasarkan hasil riset dan pengalaman dari berbagai negara. Obat tersebut akan diberikan kepada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit, dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi.

“Mengenai antivirus, sampai sekarang belum ditemukan. Dan ini yang saya sampaikan tadi adalah obat. Obat ini sudah dicoba oleh 1, 2, 3 negara dan memberikan kesembuhan, yaitu Avigan. Kita telah mendatangkan lima ribu, akan kita coba, dan dalam proses pemesanan dua juta. Kemudian yang kedua Klorokuin, ini kita telah siap tiga juta,” ujar Presiden Jokowi dalam keterangan persnya di Istana Bogor.

Penulis: Dewi Purningsih

 

Top