Stunting dan Obesitas Menjadi Fokus Utama pada Hari Gizi Nasional Ke-59

Reading time: 3 menit
hari gizi nasional
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Jakarta (Greeners) – Pada peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-59, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia masih menjadikan masalah stunting sebagai fokus utama. Selain stunting, pemerintah juga menyoroti masalah obesitas yang mulai mengancam balita. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa 8% balita di Indonesia mengalami kegemukan. Salah satu faktor utama kondisi stunting dan obesitas ini adalah pola pangan yang tidak sehat.

Sekretaris Jenderal Kemenkes Oscar Primadi mengatakan bahwa untuk penanganan masalah gizi pada stunting dan obesitas ini Kemenkes mempunyai program Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga. Hal ini dikarenakan permasalahan pengelolaan gizi seimbang harus dilihat secara komprehensif karena terkait dengan pola asuh anak-anak di rumah dan keseimbangan asupan gizinya.

“Jadi tidak lagi berbicara dengan komunitas-komunitas tertentu untuk menyampaikan edukasi ini, puskesmas yang keluar gedung untuk memberikan edukasi kepada keluarga-keluarga Indonesia. Sekali lagi persoalan gizi bukan pada saat bayi lahir tetapi sebelum kehamilan, saat hamil dan sesudah melahirkan. Target (WHO) untuk mencapai angka ambang batas 20% untuk stunting ini akan kita capai dan usahakan,” ujar Oscar saat konferensi pers pada acara peringatan Hari Gizi Nasional ke-59 di Auditorium Siwabessy Gedung Sujudi, Kemenkes, Jakarta, Jumat (25/01/2019).

BACA JUGA: Hari Gizi Nasional Ke-59, Penurunan Stunting Masih Jadi Prioritas 

hari gizi nasional

Kementerian Kesehatan mengampanyekan Isi Piringku untuk mengedukasi masyarakat mengenai komposisi makanan dengan gizi seimbang. Sumber: Kemenkes RI

Selain itu, Kemenkes juga mempunyai program kampanye Isi Piringku. Program ini mengatur komposisi makanan untuk dikonsumsi sehari-hari, yakni 50% dari jumlah makanan setiap kali makan adalah sayur dan buah, 50% lagi adalah makanan pokok dan lauk pauk, porsi sayur lebih banyak dari porsi buah, porsi makanan pokok lebih banyak dari porsi lauk pauk, dan anjuran minum setiap kali makan.

Direktur Gizi Kemenkes Dody Izwardi mengatakan konsep Isi Piringku sudah dibangun seperti body image komposisi makanan seperti apa yang seharusnya dikonsumsi untuk mencegah stunting, obesitas, dan hidup sehat.

“Jadi Isi Piringku ini merupakan edukasi untuk masyarakat karena tantangan kita di bidang gizi berada pada masalah perilaku. Berbicara mal nutrisi ada masalah kurang nutrisi dan nutrisi berlebih, dan ini sudah melekat dari generasi ke generasi. Kesalahannya berada di dalam sistem pembangunan kita yang gagal. Maka itu edukasi ini ingin kita targetkan ke anak remaja, mulai dari sekarang harus teredukasi masalah gizi jadi setelah menikah sampai menjadi ibu, ilmu gizi yang didapat bisa diterapkan,” ujar Dody.

BACA JUGA: Pendekatan Ekohidrologi untuk Pencegahan Stunting 

Saat ini Kemenkes sedang menerapkan lima pilar untuk upaya perbaikan gizi dan perubahan pola pangan sehat, yakni perbaikan gizi masyarakat, peningkatan aksesibilitas pangan yang beragam, mutu dan keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta koordinasi pangan dan gizi.

“Lima pilar ada tanggung jawabnya masing-masing di kementerian terkait. Kalau Kemenkes itu kepada perubahan perilaku dengan program “Isi Piringku” dan itu tidak hanya untuk stunting tapi untuk masalah obesitas juga karena masalah obesitas ini juga harus kita perhatikan,” ujar Dody.

Menurut data Riskesdas, pada tahun 2013 ada 11,9% balita gemuk dan data terakhir tahun 2018 menunjukkan penurunan angka menjadi 8%. WHO sendiri untuk masalah balita gemuk ini mempunyai angka batas kesehatan 5%.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari mengatakan bahwa masalah obesitas ada di semua kelompok umur, bahkan obesitas anak di bawah usia remaja meningkat. Artinya, keluarga salah mengenalkan pola makanan. Obesitas ini nantinya akan mengarah kepada penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, jantung.

“Butuh pendekatan multisektor, misalnya dimulai di sekolah dengan perilaku makan yang benar, makanan di kantin harus benar dan ini harus bekerjasama dengan Kemendikbud. Lalu, sektor industri komitmen untuk produksi makanan yang lebih sehat, seperti memberikan label kadar gulanya, kalori, garam, dan lemaknya,” kata Kirana.

Penulis: Dewi Purningsih

Top