Teknologi Modifikasi Cuaca Pengaruhi Bencana Banjir

Reading time: 3 menit
Banjir
Bencana banjir melanda Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada Sabtu, 5 September 2020. Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Jakarta (Greeners) – Teknologi Modifikasi Cuaca yang digunakan untuk mempercepat turunnya hujan dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan dinilai menjadi pemicu hujan deras hingga mengakibatkan banjir. Intensitas hujan yang tinggi telah merendam sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut, banjir tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Kepala Sub Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Radian Bagiyono mengatakan, pemanfaatan TMC untuk mendatangkan hujan dalam menanggulangi karhutla merupakan hal yang baru pada satu tahun terakhir. Upaya tersebut dilakukan khususnya ketika terjadi kebakaran besar yang sudah tak bisa lagi dipadamkan melalui jalur darat maupun pemakaian water boombing.

Baca juga: Jejak Bahan Bakar Fosil dalam Produk Rumah Tangga

“Upaya TMC sebagai penanganan karhutla menyasar seluruh lanskap yang tidak membedakan ada konsesi atau tidak. Wilayah-wilayah yang ditargetkan, yakni area yang secara fisik mulai kering,” ujar Radian pada diskusi media mengenai Upaya Pengendalian Karhutla Ditingkat Tapak, Selasa, (15/09/2020).

Menurutnya, dari sisi teknologi, TMC juga dapat digunakan untuk pencegahan. Misalnya dengan meningkatkan curah hujan di wilayah yang berpotensi terjadi kekeringan, tetapi masih memiliki potensi awan untuk didorong atau diinduksi.

Banjir

Banjir merendam rumah di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, pada Sabtu, 5 September 2020. Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Ia menuturkan khusus untuk pengoperasian TMC di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat telah dilakukan. Catatan KLHK dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terdapat peningkatan untuk menambah efektifitas curah hujan sebanyak 20-50 persen dari prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. “Prediksi historikal dari curah hujan di Sumatera Selatan meningkat pada Agustus, Juni, Juli sebanyak 21 hingga 40 persen saat diberlakukan operasi TMC,” ujarnya.

Radian mengatakan untuk wilayah Kalimantan belum dilakukan operasi TMC. Hanya Provinsi Kalimantan Barat yang telah menerapkannya karena skala titik panas (hot spot) di wilayah tersebut meningkat menjelang Minggu kedua Agustus 2020.

“Melihat prediksi cuaca yang memperlihatkan masih banyak curah hujan di sana (Kalimantan), kita tidak mau operasi TMC itu malah akan menambah air sehingga menyebabkan banjir,” ujarnya.

TMC Tak Diperlukan di Daerah yang Memiliki Potensi Hujan Deras

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indra Gustari mengatakan, penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan bantuan TMC seharusnya tidak diperlukan jika potensi hujan di suatu daerah masih tinggi. Menurutnya dibutuhkan kajian yang lebih mendalam untuk menyimpulkan adanya hubungan antara curah hujan tinggi dengan penggunaan TMC.

“Pada saat ini berkembang pola angin konvergen yang mendukung terbentuknya awan dan hujan di bagian utara Sumatera, Kalimantan bagian barat dan tengah, dan Papua tengah dan utara. Jadi, hujan tinggi di Kalimantan saat ini dipengaruhi oleh variabilitas iklim yang dikenal dengan istilah variasi sub-seasonal,” ujar Indra saat dihubungi Greeners, Senin malam, (14/09/2020).

Baca juga: Meninjau Ulang Konsep Pariwisata Indonesia

Ia mengatakan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi terpantau memanjang dari Lampung bagian Selatan hingga Sumatera Barat. Pola tersebut menyebar dari perairan Barat Aceh hingga Barat Malaysia dan meluas dari Papua bagian Tengah hingga Papua Barat bagian Barat. Kondisi ini, kata dia, menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.

“Saat ini di berbagai wilayah di Indonesia sudah mulai memasuki musim hujan. Awal musim hujan di zona musim tidak seragam. Sebagian besar akan mulai di Oktober-November 2020, yaitu lebih dari 70 persen, tetapi terdapat sebagian daerah yang memasuki musim kemarau sebelum dan setelahnya,” ujarnya.

Menurutnya, prediksi musim hujan untuk wilayah Kalimantan juga bervariasi, dimulai pada akhir September sampai pertengahan November 2020. Selain itu sejumlah daerah juga memiliki pola rata-rata atau karakteristik yang tinggi sepanjang tahun. Rata-rata jumlah curah hujan dasarian mencapai di atas 50 milimeter. Daerah tersebut antara lain sebagian pantai barat Sumatera, sebagian Kalimantan Barat, bagian timur Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, sebagian Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan sebagian Papua.

Bencana Banjir di Kalimantan

Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur menyebut hingga Senin (14/9) pukul 16.53 WIB, banjir telah merendam 1.118 rumah di sana. Selain itu banjir juga menenggelamkan 1.469 rumah di Kecamatan Sokan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, pada Minggu (13/9). Sedangkan di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, sebanyak 980 unit rumah terdampak.

Adapun banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Landak, Kalimantan Barat disebabkan oleh meluapnya lima sungai, yaitu Sungai Behe, Sungai Dait, Sungai Landak, Sungai Menyuke, dan Sungai Meranti setelah terjadi hujan dengan intensitas tinggi terjadi pada Jumat (4/9) hingga Sabtu (5/9).

Banjir dengan Tinggi Muka Air (TMA) 80-110 sentimeter itu juga menggenangi sedikitnya 416 rumah yang dihuni 416 Kepala Keluarga. Selain itu satu unit rumah dilaporkan rusak sedang (RS) dan tiga unit lainnya rusak ringan (RR) setelah terdampak longsor.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

Top