Tingkat Daur Ulang Sampah Plastik Masih Rendah

Reading time: 3 menit
Proses Daur Ulang
Proses Daur Ulang. Ilustrasi: istockphoto

Jakarta (Greeners) – Daur ulang sampah plastik di Pulau Jawa masih sangat rendah. Penyerapannya juga dinilai tak optimal lantaran sampah masih ditemukan berserakan di lingkungan dan menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Dini Trisyanti selaku Direktur  Sustainable Waste Indonesia (SWI) mengatakan penyerapan sampah plastik pasca konsumsi di Pulau Jawa baru 0,09 juta ton plastik per tahun. Jika dibandingkan dengan kapasitas daur ulang plastik nasional yang berada di kisaran 1,65 juta ton plastik per tahun, jumlah tersebut masih sangat rendah. Menurutnya dibutuhkan intervensi dan kolaborasi dari berbagai pihak termasuk dari sisi teknologi dan inovasi.

Baca juga: Upaya Menjaga Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay

Ia menuturkan terdapat beberapa aspek yang menyebabkan Indonesia masih belum dapat mendaur ulang sampah plastik secara maksimal. Salah satunya adalah kurangnya minat pabrik daur ulang terhadap sampah di Indonesia karena sampah plastik masih tercampur dengan sampah lain sehingga menurunkan kualitasnya.

“Kapasitas industri daur ulang sebetulnya cukup tinggi, tapi kualitas sampah pasca konsumsi ini umumnya rendah,” ujarnya dalam webinar “Semangat Kolaborasi Menuju Kehidupan Lestari,” Rabu, (19/08/2020).

Menurut Dini terdapat sejumlah cara yang bisa dilakukan oleh sektor rumah tangga, pemerintah, dan produsen produk berplastik. Dari sisi rumah tangga, misalnya, pemilahan dari sumber berperan untuk meningkatkan kualitas sampah. Memilah sampah rumah tangga sesuai jenis, kata dia, dapat membantu pihak pengumpul sampah untuk mendapatkan barang yang lebih berkualitas. Selain itu, sinergi antara pengumpul sampah seperti Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R) dengan sektor informal penting dilakukan.

“Sampah plastik di urban Jawa kebanyakan dikumpulkan oleh sektor informal yang pengumpul terbanyaknya adalah pemulung. Maka dari itu, penting bagi pemerintah untuk meningkatkan inklusivitas pemulung,” kata dia.

Pengumpul Sampah

Foto: shutterstock

Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Indonesian Plastic Recyclers (IPR)) Ahmad Nuzuluddin mengatakan penting bagi produsen pemakai plastik untuk memberikan informasi terkait jenis plastik yang digunakan. Hal tersebut dibutuhkan supaya pihak pendaur ulang dapat menemukan metode yang cocok untuk mengolah sampah produk tadi.

Ahmad juga meminta pemerintah untuk membuat skema permintaan sampah daur ulang agar rantai ekonomi dari produk daur ulang terus berputar.  “Kalau permintaannya tidak diciptakan, kami hanya disuruh mendaur ulang, mengumpulkan sampah, kita bingung mau diapakan. Ini tidak akan selesai sehingga harus dipecahkan dulu,” ucapnya.

Potensi Bank Sampah

Sementara itu Maya Tamimi, Kepala Divisi Lingkungan dan Keberlanjutan Unilever Indonesia Foundation menyebut potensi dan manfaat bank sampah begitu besar. Menurutnya salah satu kendala yang menghambat peranan bank sampah adalah aksesibilitas atau belum meratanya penyebaran informasi mengenai lokasi bank sampah. “Di era teknologi seperti sekarang, digitalisasi bank sampah dapat membantu memudahkan masyarakat mengakses dan memanfaatkan bank sampah terdekat,” ujarnya.

Baca juga: Perbedaan Definisi Deforestasi Kaburkan Realitas Hilangnya Hutan

Hasil studi mengenai rantai nilai sampah plastik di Pulau Jawa yang dilakukan oleh Unilever Indonesia, SWI dan IPR mencatat bahwa masyarakat di perkotaan di Pulau Jawa menghasilkan sekitar 189.000 ton sampah plastik per bulan atau 6.300 ton per hari. Hanya sekitar 11,83 persen atau kurang lebih 22.000 ton per bulan yang dikumpulkan kemudian didaur ulang. Selebihnya 88,17 persen masih diangkut ke TPA atau berserakan di lingkungan.

Studi yang dilakukan sepanjang Oktober 2019 hingga 20 Februari 2020 tersebut, menunjukkan bahwa dari sekitar 22.000 ton sampah plastik yang dikumpulkan, 83 persen berasal dari pemulung, 15,2 persen dari TPST atau TPS3R, dan hanya 1,5 persen dari bank sampah. Bank sampah yang memiliki fungsi strategis dalam mengatasi dampak sampah pasca konsumsi perlu ditingkatkan.

Penulis: Dewi Purningsih dan Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Devi Anggar Oktaviani

Top