Waspada Peningkatan Curah Hujan Jabodetabek 3 Hari Ke Depan

Reading time: 2 menit
Masyarakat di Jabodetabek perlu mewaspadai curah hujan di periode puncak musim hujan Januari-Februari 2022. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Masyarakat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) perlu mewaspadai potensi curah hujan sedang hingga lebat tiga hari ke depan (13-15 Januari 2022).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memonitor perkembangan kondisi cuaca di seluruh wilayah Indonesia yang saat ini mengindikasikan adanya potensi peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk wilayah Jabodetabek.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengungkapkan, sebagian besar wilayah Jabodetabek termasuk wilayah yang BMKG prediksi mengalami puncak musim hujan pada periode Januari ini.

“Sementara itu dari hasil analisis dinamika atmosfer, diidentifikasi adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia selatan Jawa dan pola tekanan rendah di Australia bagian utara,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (13/1).

Hal tersebut dapat membentuk pola pertemuan massa udara dan belokan angin di wilayah selatan Indonesia. Kondisi tersebut terjadi terutama di sekitar Laut Jawa bagian barat dan perairan selatan Banten serta Jawa Barat yang dapat memengaruhi pembentukan awan hujan di wilayah Jabodetabek.

“Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan potensi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hujan dapat disertai kilat/petir dan angin kencang,” ucapnya.

Prakiraan Curah Hujan Jabodetabek

Untuk prakiraan pada Kamis (13/1), hujan berpotensi terjadi di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Lalu pada Jumat (14/1) hujan berpotensi terjadi di Jakarta Utara, Bogor dan Depok. Kemudian pada Sabtu (15/1) hujan berpotensi terjadi di Bogor dan Depok.

Guswanto menambahkan, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode tiga hari ke depan yang dapat berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.

“Bencana hidrometeorologi itu berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang. Masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi harus waspada,” ungkapnya.

Guswanto menyebut, bagi masyarakat yang ingin memperoleh informasi prakiraan cuaca per wilayah hingga level kecamatan dapat mengakses website https://www.bmkg.go.id. Selain itu dapat pula memantau akun media sosial @infobmkg, aplikasi iOS dan android Info BMKG, call center 196 BMKG atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Periode Puncak Musim Hujan

Sebelumnya, Kepala Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan. Puncak musim hujan, terjadi mulai Januari hingga Februari 2022. Kewaspadaan perlu ditingkatkan di wilayah Jawa, Sumatra termasuk Kalimantan. Berbeda dengan wilayah lainnya, Maluku akan mengalami curah hujan tinggi pada Mei 2022 atau di penghujung musim hujan.

“Secara umum di Januari itu merata seluruh Indonesia. Tetapi yang perlu ditingkatkan kewaspadaan itu seperti Jawa, Sumatra, terutama sisi barat Sumatra. Kecuali Maluku, karena puncak musim hujannya di Bulan Mei karena pola musim hujannya berbeda di sana,” kata Fachri.

Oleh sebab itu, BMKG mengimbau agar masyarakat waspada dampak dari tingginya curah hujan tersebut. Salah satunya potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang dan longsor. Kondisi lingkungan yang buruk dengan paparan curah hujan tinggi memperbesar potensi bencana tersebut. “Pantau terus informasi dari BMKG, sesuaikan aktivitas dengan cuaca,” imbuhnya.

Sementara itu, dalam ulasan kebencanaan di tahun 2021, Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan mengingatkan bencana akan berulang. Oleh sebab itu kesiapsiagaan dan kepastian kondisi lingkungan yang baik menjadi kunci penting.

Tahun 2021 La Nina (peningkatan curah hujan di saat musim hujan) terjadi dan bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana. BNPB mencatat, ada 3.092 kejadian bencana di tahun 2021. Bencana banjir mendominasi mencapai 1.298 kejadian. Di posisi berikutnya, cuaca ekstrem 804 kejadian dan tanah longsor 632 kejadian.

Penulis : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page